Abramovich mulai berkuasa di Stamford Bridge nyaris lima tahun lalu. Di awal rezimnya, gelar-gelar pun datang; termasuk dua titel jawara Premiership di musim 2004/2005 dan 2005/2006. Semuanya direngkuh di bawah kiprah jenial manajer Jose Mourinho.
Namun belakangan, Chelsea bagai sepi trofi. Dua musim terakhir, Liga Inggris dikuasai Manchester United. Yang terbaru, The Blues dikangkangi The Red Devils di final Liga Champions, Kamis (22/5/2008) dinihari WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abramovich harus menerima fakta bahwa klub miliknya tersungkur di kampung halamannya sendiri, Moskow. Yang lebih sesak, multi-jutawan berusia 41 tahun itu sudah merasakan hampa gelar utama dalam dua musim terakhir. Titel Piala FA tahun 2007 jelas bukan hal sebanding dengan investasi yang sudah ditanamkan Abramovich.
Mendatangkan bintang sekelas Andriy Shevchenko dan Michael Ballack, plus mengganti Mourinho saat kinerjanya tidak memuaskan, ternyata bukan obat penawar dahaga gelar yang dirasakan Abramovich.
Avram Grant, peracik strategi yang ditunjuk Abramovich menjadi suksesor The Special One, ternyata baru berkelas 'nyaris'. Nyaris menjadi juara Liga Primer dan nyaris memenangi Liga Champions.
Mengganti Grant dan menambah amunisi di daftar pemain The Blues akan jadi langkah berikut Abramovich. Jumlah 578 juta poundsterling (Rp 10,62 triliun) yang sudah digelontorkan untuk Chelsea dipastikan akan bertambah. Dengan kekayaan mencapai US$ 18 milyar (versi Forbes tahun 2007), merogoh kocek lebih dalam untuk 'membeli' kesuksesan jelas sebuah opsi yang masuk akal.
Nama Frank Rijkaard sudah digadang-gadang bakal jadi nahkoda baru klub London itu. Pelatih Belanda tersebut berstatus 'available' setelah jasanya tidak lagi dipakai oleh Barcelona.
Dari sisi pemain, sudah dua nama yang dipastikan akan masuk Stamford Bridge musim depan. Mereka adalah Jose Bosingwa dan Branislav Ivanovic. Sementara, profil bereputasi tinggi seperti Kaka, Lionel Messi dan Dimitar Berbatov juga telah masuk ke dalam incaran.
Namun kedatangan bintang-bintang baru jelas akan diikuti oleh kepergian mereka yang lama. Mereka yang dianggap tidak berkontribusi maksimal harus bersiap ditendang, dan mereka yang sudah tidak kerasan pun siap membuka pintu keluar.
Shevchenko mungkin lebih memilih pulang ke Italia untuk kembali bersama AC Milan. Nasib Claudio Pizzaro,Steve Sidwell dan Shaun Wright-Phillips makin tidak jelas. Sementara kelanjutan karir Frank Lampard dan Didier Drogba di Stamford Bridge juga jauh dari kata pasti.
Revolusi yang digulirkan Abramovich semenjak datang ke London, Juni 2003, belum selesai. Dengan kekuatan uangnya, pria keturunan Yahudi itu akan terus berusaha menebus kegagalan dan mulai memetik lagi panen gelar di musim-musim mendatang.
Publik hanya bisa menunggu, bagaimana kisah revolusi ala Abramovich itu akan berakhir. Menyenangkan atau menyedihkan?
(arp/a2s)











































