Seperti diketahui, "Tim Samba" ditekuk "Tim Tango" dengan skor 0-3, Selasa (19/8/2008), dan dipastikan tak mampu merebut medali emas. Hal terburuk dari kekalahan itu adalah skor tersebut dianggap sangat telak karena lawannya adalah rival utama dan musuh bebuyutan mereka.
Koran-koran Brasil langsung meradang. Dunga menjadi sasaran empuk dari kekalahan memalukan itu. Wacana dia harus dipecat pun dimunculkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disebutkan pula bahwa "pemakaman massal" akan digelar hari Jumat lusa, merujuk pada kontes terakhir Brasil untuk memperebutkan medali perunggu melawan Belgia. Himbauan yang diusung Globo adalah "Jangan bawa bunga".
Tekanan moral pada Dunga adalah kabar bahwa Presiden Luiz Inacio Lula da Silva merasa tim Brasil telah "dipermalukan". Dilukiskan bahwa sang presiden "tak pernah sedemikian marahnya" dengan kejadian ini, melebihi kemarahan dia kalau klub favoritnya, Corinthians, dalam performa terburuk.
Harian lain, Estado De Sao Paulo, secara teknis menilai Dunga tidak memainkan sesuatu yang disebut sepakbola Brasil. Kapten Brasil saat menjuarai Piala Dunia 1994 itu dianggap menerapkan sepakbola pragmatis, bertahan, dan tanpa sesuatu yang brilian.
Lebih ketus lagi Globo mengatakan bahwa Dunga telah mengkhianati orang-orang Brasil dan semangat Olimpiade dengan pendekatan negatif timnya di ajang tersebut. Pendek kata, Dunga telah melakukan kesalahan besar dan harus "dihukum".
(a2s/key)











































