Catatan sejarah bisa menjadi bukti. Olimpiade 1996 di Amerika Serikat, Nigeria keluar sebagai juara, menaklukkan Argentina di partai final. Skor pertandingan kala itu adalah 3-2, di mana Celestine Babayaro, Daniel Amokachi dan Emmanuel Amunike menjadi penentu kemenangan Nigeria.
Tahun ini, semangat pasukan Super Eagle -julukan Nigeria- diyakini makin tinggi karena medali emas yang ditawarkan di cabang ini, bila mereka sukses meraihnya, maka akan menjadi medali emas pertama, bahkan bisa jadi merupakan satu-satunya medali yang didapat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan materi tim seperti ini, Argentina pun patut menjadikan Nigeria sebagai ancaman besar di partai final Olimpiade 2008 di National Stadium, Beijing, Sabtu (23/8/2008) besok.
Sementara Argentina muncul sebagai unggulan di partai ini. Meski dikalungi label jagoan, peluang tim Tango tidak sebesar perkiraan.
Materi pemain Argentina memang di atas rata-rata. Sebut saja Lionel Messi, Juan Roman Riquelme, Sergio Aguero, Ezequiel Lavezzi dan Javier Mascherano. Kualitas mereka tak patut lagi dipertanyakan. Demikian juga dengan Sergio Batista, pria yang menjadi otak strategi bermain Argentina di event empat tahunan ini.
Namun penampilan tim Tango kerap naik turun. Saat melawan Brasil di semifinal, Argentina memang menunjukkan permainan terbaiknya. Tapi kala melawan Pantai Gading dan Belanda di babak sebelumnya, grafik performa Messi cs tidak begitu bagus. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran tersendiri bagi kalangan pengamat sepakbola, terkait peluang Argentina meraih medali emas di cabang ini.
Akan tetapi, bila berbicara semangat, sama seperti Nigeria, Argentina juga ingin meraih medali emas yang merupakan tanda terbaik di ajang ini. Momen pembalasan pun bisa dimasukkan dalam ambisi mereka.
Jadi, apakah pertandingan nanti bakal menjadi ajang pembalasan Argentina atas Nigeria di event yang sama 12 tahun silam, atau malah menjadi penegas dominasi Elang Super atas Tango? Kita lihat saja nanti.
(ian/a2s)










































