Judul Buku : Soccernomics
Penulis : Simon Kuper dan Stefan Szymanski
Penerbit : Erlangga
Tahun : 2010
Tebal : 316 halaman + vii
"Bola itu bulat!" Begitu jargon yang sering kita dengar mengenai kemungkinan apa yang terjadi dalam sepakbola. Semuanya tidak berwujud dan tidak dapat diperhitungkan. Tidak ada "hil yang mustahal" dalam sepakbola.
Secara umum, Soccernomics menunjukkan bahwa sepakbola tidak hanya dapat dinilai dengan intuisi ,tapi juga bisa dinilai dengan perhitungan yang matematis. Pada hakikat yang sebenarnya, sepakbola bersifat rasional dan terukur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buku Soccernomics karya Simon Kuper dan Stefan Szymanski ini merupakan buku yang mencoba menjelaskan mengenai "mispersepsi" yang selama ini terjadi dalam sepakbola. Dengan gayanya yang provokatif, kadang jenaka dan sinis, serta tentu saja disertai data-data statistik, buku Soccernomics mencoba menunjukkan banyak hal yang menyimpang dan jauh dari perkiraan semua orang mengenai apa yang terjadi dalam sepakbola selama ini.
Simon Kuper adalah salah satu jurnalis sepakbola. Ia merupakan penulis dari buku "Football Against The Enemy". Sedangkan Stefan Szymanski adalah seorang professor ekonomi dan ketua program MBA di Cass Business School, London.
Buku ini sebenarnya menggunakan konsep dan pendekatan yang dibahas dalam Moneyball serta Freakonomics dan mentransfernya ke dunia sepakbola. Kedua penulis pun mengaku terinspirasi dari Michael Lewis yang menulis buku Moneyball: The Art of Winning An Unfair Game.
Dalam buku ini ada hasil dari pengamatan yang dianalisa melalui perbincangan tentang bagaimana permainan yang berjalan secara global dan bagaimana hal tersebut direfleksikan pada aspek sosial seperti perdagangan dan pertumbuhan ekonomi.
Buku ini tersusun atas 15 bab yang secara garis besar dibagi atas 3 bagian. Sepanjang seluruh bagian itu, setidaknya ada beberapa argumen penulisnya yang menarik untuk diberi catatan khusus. Mungkin itu serupa gimmick saja, tapi tetap saja itu hal yang menarik.
Misalnya: Inggris memang sering kali dicerca karena tampil di bawah performa yang diharapkan, tapi bagi penulis buku ini bukan itu situasi yang sebenarnya. Timnas Inggris sebenarnya tidak underperform tetapi malah justru overperform. Argumen itu didasarkan pada banyak faktor, di antaranya ukuran penduduk dan jumlah pemain profesional yang terdaftar.

Soccernomics juga menunjukkan bagaimana para manajer dipilih, dikontrak dan dipekerjakan terlalu cepat. Sangat sedikit manajer yang dipilih dengan melalui proses seleksi yang ketat, misalnya melalui tahapan wawancara. Umumnya nyaris semua manajer dipilih tanpa diwawancarai lebih dulu.
Dengan kritis sekaligus jenaka, buku ini juga mengungkap -- misalnya -- bahwa pemain-pemain berambut pirang umumnya selalu dihargai over-rated. Dengan data statistik, buku ini juga beragumen bahwa negara yang paling mencintai sepakbola adalah Norwegia, bukan Brasil. Hal tersebut didasarkan dengan melihat pada ukuran populasi, jumlah pemain yang terdaftar dan klub, juga kehadiran penonton pada pertandingan.
Cukup menarik juga bagaimana ulasan buku ini terhadap klub Prancis, Olympique Lyonnais. Sama seperti Oakland A's dalam baseball, Lyon kurang bergantung pada pengetahuan perencanaan pelatih jangka pendek, dan lebih bergantung pada keterampilan seorang direktur olahraga dalam jangka panjang. Kebijakannya telah membeli pemain bagus dengan harga rendah dan menjualnya ketika nilai mereka meningkat secara dramatis. Dan dijelaskan dengan menarik juga bagaimana Lyon tidak akan menjual pemainnya sebelum mereka menyiapkan pengganti -- tak peduli berapa pun banyaknya klub lain yang sibuk melakukan penawaran terhadap salah satu pemainnya.
Salah satu pembahasan bagian pertama dari buku ini adalah upaya penulisnya untuk menjelaskan banyak hal yang keliru dalam kebijakan transfer yang diterapkan oleh kebanyak klub. Selama ini banyak orang beranggapan bahwa semakin menggeliat sebuah klub dalam bursa transfer akan semakin baik pula prestasi yang akan diraih oleh klub itu sendiri. Namun Simon dan Stefen membantahnya dan mengajukan hipotesa: "Bursa transfer pemain bersifat tidak efisien. Melainkan gaji pemain lah yang bersifat cukup efisien".
Argumentasi lainnya yang menarik adalah kebanyakan orang menganggap bahwa sepakbola merupakan bisnis yang besar. Namun, kenyataan terjadi tidaklah demikian. Sepakbola bukanlah bisnis yang besar. Dalam argumentasinya, kedua penulis mengambil data yang dikeluarkan oleh Deloitte tentang daftar peringkat klub-klub terkaya di muka bumi yang diberi judul "Soccer Money League".
Pada 2009, Real Madrid berada di tempat teratas dengan pendapatan kotor sekitar US$ 475 Juta. Peringkat kedua di dalam "Soccer Money League" adalah Manchester United dengan pendapatan receh US$ 422 Juta. Dengan gayanya yang provokatif, penulis buku ini membandingkan bagaimana jumlah itu tidak sampai pendapatan TIMET dan kurang dari seperseribu pendapatan Exxon.
Tetapi, hal yang perlu diketahui adalah bahwa daftar "Soccer Money League" di atas mengurutkan klub-klub berdasarkan hasil penjualan kotor. Ketika para analis bisnis mencoba mengukur nilai sebuah perusahaan, umumnya mereka fokus pada laba (keuntungan), atau harga perusahaan itu bila dijual kepada publik. Namun, tidak satu pun dari metode normal ini yang dapat diterapkan pada klub-klub sepakbola. Ini dikarenakan hampir tak ada lagi klub yang masih terdaftar di bursa saham.
"Apa yang terjadi jika Deloitte membuat peringkat itu berdasarkan laba?" tanya penulis buku ini. Maka hasilnya pasti akan memalukan. Tak hanya sebagian besar klub sepakbola membukukan kerugian dan gagal membayar dividen kepada para pemegang sahamnya, namun juga klub-klub "besar" akan berada pada peringkat juru kunci.
Deloitte sendiri melaporkan bahwa pada tahun 2008 tiga klub Premier League yang paling menghasilkan laba adalah Watford, Reading, dan Arsenal. Sedangkan tiga klub yang paling tekor adalah Chelsea, Manchester United dan Newcastle.
Dan inti dari permasalahan tersebut, tulis Simon dan Stefen, bagaimana pun cara Anda mengukurnya, tak ada klub sepakbola yang dapat dikatakan bisnis besar.Kekurangan dari buku Soccernomics sendiri adalah minimnya penulis menyinggung analisa atas benua Amerika Latin. Bagaimana dengan negara yang kita tahu sebagai negara eksportir pemain seperti Argentina, Brasil dan Uruguay?
Penulis hanya mencotohkan Brasil dalam analisanya, tidak mencakup semua area yang membentang di Amerika Selatan. Soccernomics terlalu banyak melihat dari perspektif Inggris dan menggunakan contoh semata-mata dari Inggris.
Kedua penulis tersebut juga banyak mengutip akan karya orang lain. Bahkan buku ini banyak sekali mengambil referensi dari buku Fever Pitch karya Nick Hornby. Boleh jadi, dengan menggunakan cara berpikir penulis ini yang penuh dengan gimmick menarik, bisalah dikatakan Nick Hornby mestinya dinobatkan sebagai penulis ketiga buku Soccernomics.
Namun, terlepas atas kekurangan tersebut Soccernomics layak untuk dibaca bagi mereka yang menyukai "angka" dan hal-hal yang bersifat matematis yang dapat diukur secara rasional dalam sepakbola. Bagi anda yang mudah teryakini dengan angka-angka, statistik dan data-data keras, nikmatilah buku ini. Siapa tahu di akhir kegiatan membaca buku ini, Anda akan memaki: "Fuck you, football!"β
===
* Akun twitter penulis: @shralys dari @panditfootball
(roz/a2s)










































