Antara Arsenal yang Sebenarnya dan Arsenal-nya Wenger

- Sepakbola
Rabu, 14 Jan 2015 12:52 WIB
Foto-foto: Getty Images
Jakarta -


Judul Buku: Arsènal: The Making of a Modern Superclub
Penulis: Alex Fynn, Kevin Whitcher
Penerbit: Vision Sports Publishing
Tebal: 318 halaman + xvi
Cetakan: IV, 2011


Banyak orang beranggapan bahwa Arsenal Football Club dan Arsene Wenger memang ditakdirkan untuk satu sama lain karena nama keduanya mirip. Sekilas memang seperti itu adanya. Walau, tentu saja, jika diperhatikan dengan seksama, ada rasa yang sangat jelas berbeda.

Aroma Prancis sangat nyata terasa dalam nama depan Wenger, lengkap dengan accent grave pada huruf “e” pertamanya: Arsène, bukan Arsene. Nama Arsenal, sementara itu, sangat Inggris karena arsenal sendiri memang merupakan sebuah kata dalam bahasa Inggris. Kata arsenal dalam kamus Collins Dictionary & Thesaurus dapat ditemukan pada halaman 50. Dalam bahasa Indonesia, kata arsenal berarti tempat penyimpanan atau pabrik senjata.

Permainan kata dalam pemberian judul buku – Arsènal: The Making of a Modern Superclub – oleh Alex Fynn dan Kevin Whitcher, karenanya, memberikan kesan pertama yang kurang lebih seperti ini: Arsenal adalah sebuah kesebelasan tradisional yang dirombak menjadi sebuah kesebelasan super modern oleh Arsène Wenger. Tidak salah, namun tak dapat dikatakan sepenuhnya benar.

Salah satu keunggulan yang dimiliki oleh buku ini adalah materi eksklusif. Kedekatan Fynn dengan Arsenal membuat dirinya memiliki akses yang tidak begitu saja bisa didapatkan oleh kebanyakan orang. Kisah-kisah dalam boardroom – yang tidak bisa didapatkan dari media mainstream – dapat Anda temukan dalam buku ini.

Tak mengherankan jika harian Guardian memberi komentar “revealing and well sourced” terhadap buku ini. Myles Palmer dari Arsenal News Review, sementara itu, menyebut bahwa Arsènal dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih cepat dari membaca dua ratus blog mengenai Arsenal, namun tetap dapat memberi informasi seratus kali lebih banyak.

Salah satu informasi menarik yang diberikan oleh buku ini adalah akhir dari perdebatan “apakah Arsenal kesebelasan sepakbola atau mesin uang?”

Arsenal, pada praktiknya, adalah keduanya. Keputusan Arsenal untuk tidak menjual Highbury adalah buktinya. Idealnya, Highbury dijual agar dapat terus digunakan sebagai stadion sepakbola oleh klub lain. Namun Arsenal lebih suka memasuki dunia bisnis properti dengan mengubah Highbury menjadi apartemen.

Untuk perdebatan lain mengenai Arsenal, Arsènal juga dapat menjadi acuan. Para penggemar Arsenal pro Wenger dan mereka yang menginginkan kepergian Le Professeur sama-sama dapat menemukan dukungan terhadap opini mereka di buku ini.

Secara jelas buku ini mengisahkan secara rinci bagaimana Wenger menjaga Arsenal tetap hidup di tengah segala keterbatasan dana yang mereka miliki saat melakukan transisi dari Highbury ke Emirates Stadium. Di saat yang bersamaan, Arsènal juga tidak membantah mereka yang menyebut Wenger sebagai sosok yang keras kepala dan kolot, dengan kemampuan taktikal yang tidak cukup baik untuk membawa klub rutin meraih gelar juara.



Kualitas taktik Wenger sangat bergantung kepada pemain yang ia miliki. Kejayaan Arsenal pada masa keemasan mereka adalah kombinasi tepat dari kemampuan Wenger untuk membuat para pemain mengeluarkan kemampuan terbaik mereka lewat permainan psikologis – salah satu keunggulan yang ia miliki di luar manajemen keuangan – dan jiwa kepemimpinan serta contoh dari para pemain senior.

Dasar kejayaan Arsenal di bawah kepemimpinan Wenger adalah kombinasi yang pas antara pemain senior dan para pemuda berbakat. Namun Wenger membuat kesalahan dengan membubarkan The Invincibles terlalu cepat sehingga para pemain muda tidak memiliki pemimpin di lapangan. Di luar pertandingan, para pemain muda tidak memiliki contoh teladan. Lebih buruk dari itu, para pemain tidak tahu seperti apa seharusnya sikap berani mati demi Arsenal di dalam pertandingan.

Wojciech Szczesny sangat mensyukuri kehadiran Jens Lehmann saat penjaga gawang berkebangsaan Jerman tersebut kembali berlatih bersama Arsenal sebagai kiper cadangan untuk keadaan darurat. Szczesny mengatakan bahwa berbincang dengan Lehmann memberi efek yang lebih baik kepada dirinya ketimbang latihan rutin harian. Sebuah bukti bahwa kebijaksanaan dan pengalaman dari para pemain senior adalah hal penting yang dibutuhkan oleh para pemain muda Arsenal.

Selain membeberkan kekurangan Wenger dalam hal taktik, hal lain yang mungkin membuat para anti-Wenger tersenyum adalah cerita mengenai ketidakmampuan Wenger melawan perubahan dan zaman.

Kepergian sang sahabat yang membawanya ke Arsenal, David Dein, membuat Wenger kewalahan. Dein, eks vice-chairman Arsenal, adalah tangan kanan Wenger di bursa transfer. Koneksinya yang luas, kemampuan persuasi, serta kemauan untuk repot-repot menyelesaikan urusan transfer membuat pekerjaan Wenger jauh lebih mudah.

Ketika Dein pergi, Wenger tak hanya kehilangan seorang sahabat. Ia kehilangan seorang pasangan emas. Dan Arsenal kehilangan sosok berpengaruh di pasar pemain. Sosok yang memiliki hubungan baik dengan agen-agen kelas satu. Sosok yang bisa memuluskan jalan Arsenal untuk mendatangkan pemain bintang. Xabi Alonso adalah salah satu nama yang seharusnya bisa menjadi milik Arsenal, tapi pada akhirnya bergabung dengan kesebelasan lain.

Perihal zaman, Wenger kurang lebih sama dengan coach Bob Ladoceur, pelatih yang berhasil membawa tim American football De La Salle High School Spartans mencatatkan 151 kemenangan beruntun. Setelah bertahun-tahun menjalankan program, perkembangan teknologi dan jejaring sosial membuat anak-anak asuhnya menjadi sorotan. Usaha Ladoceur untuk menanamkan sifat rendah hati dan membumi, karenanya, menjadi sulit. Dalam kasus Wenger, ia kesulitan sekarang kesulitan mencegah para pemainnya menonton film dewasa di malam sebelum pertandingan.

Dahulu ia dapat memeriksa film apa saja yang dibawa para pemainnya ke kamar hotel (malam sebelum pertandingan memang selalu dihabiskan bersama tim, bukan keluarga; salah satu kebijakan Wenger). Namun kini Wenger mengaku tidak mungkin memeriksa isi laptop para pemainnya. Wenger dikalahkan oleh teknologi. Wenger dibuat kerepotan oleh kepala batunya sendiri.

Jika Raymond Verheijen membaca buku ini, ia mungkin akan tertawa. Ia pasti merasa menang. Pelatih asal Belanda tersebut pernah melayangkan kritik keras perihal kualitas penanganan cedera di Arsenal. Serangan dialamatkan langsung kepada Wenger.

“Ketika Arsene Wenger datang ke Britania pada pertengahan tahun 90an, metode latihan yang ia bawa terhitung revolusioner. Namun masalah yang dimiliki oleh orang-orang revolusioner adalah mereka hanya revolusioner satu kali saja dalam hidup mereka, sehingga 20 tahun setelahnya mereka menjadi biasa saja. Selanjutnya mereka menjadi orang-orang prasejarah,” ujar Verheijen yang juga pernah menulis buku berjudul Complete Handbook of Conditioning for Soccer.

Di balik semua penjabaran informasi eksklusif itu, buku ini tetap tidak mampu menjawab sebuah pertanyaan besar: akankah Wenger meninggalkan Arsenal?

Titik terdekat kepada jawaban dari pertanyaan tersebut adalah halaman terakhir dari buku ini. Kutipan Wenger pada tahun 2008 digunakan untuk menjadi kalimat penutup dalam buku ini.

However, if divorce were to happen, Arsène, though devastated, would probably understand. “I always say that a manager has a love story with the club,” he said in April 2008, “and he has to behave like it will be a love story for ever. But not be stupid enough to believe it will never end.”


====

* Akun twitter penulis: @nurshiddiq dari @panditfootball

(a2s/cas)