Rafa Layak untuk Lebih Dihargai

Rafa Layak untuk Lebih Dihargai

Mohamad Kusnaeni - Sepakbola
Rabu, 15 Mei 2013 08:57 WIB
Rafa Layak untuk Lebih Dihargai
Jakarta -

Ini akan menjadi pekan terakhir dalam karier kepelatihan Rafael Benitez bersama Chelsea. Apapun hasil laga final Liga Europa pada dinihari nanti dan pertandingan penutup Liga Inggris lawan Everton pada akhir pekan ini, Rafa sudah dipastikan tak lagi menangani The Blues untuk musim mendatang.

Keputusan soal masa depan Rafa memang bukan baru akhir-akhir ini dibuat. Bahkan sejak hari pertama kedatangannya di Stamford Bridge, sang taipan Roman Abramovich sudah memutuskan bahwa Rafa hanya pilihan sementara untuk mengisi pos yang ditinggalkan Roberto Di Matteo. Makanya, muncul sebutan "pelatih interim" yang membuat Rafa kecewa dan merasa direndahkan.

Sikap Abramovich yang hanya memposisikan Rafa sebagai "pelatih interim" cukup bisa dimengerti. Tentu saja, ia tak ingin berseberangan dengan para pendukung fanatik Chelsea yang tak bisa melupakan masa lalu Rafa bersama Liverpool, klubnya terdahulu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam sepakbola, terutama di Inggris, rivalitas kadang-kadang memang mengabaikan realitas dan rasionalitas. Rivalitas Rafa dengan Jose Mourinho pada periode 2004-2007 membuatnya segera jadi figur tak populer sejak hari pertama kedatangannya di klub asal London itu. Dan fakta ini tak pernah berubah hingga hari-hari menjelang kepergiannya.

Nah, ini yang menarik. Mengapa ketidaksukaan para suporter begitu besar sampai-sampai mereka tak bisa menghargai apa yang sudah dicapai Rafa bersama Chelsea: final Piala Dunia Antarklub, final Liga Europa, dan lolos ke Liga Champions musim depan?

Benar, sejatinya tidak semua pendukung Chelsea membenci Rafa. Sebagian mulai menyadari dan mengapresiasi kontribusinya dalam mengembalikan kestabilan di Stamford Bridge pascakepergian Di Matteo. Hanya saja, arus besar sikap suporter "Si Biru" tetap menginginkan Rafa didepak dan Mourinho jadi penggantinya.



Bagaimanapun, Mourinho memang punya tempat istimewa di hati pendukung Chelsea. Enam trofi yang diraihnya selama tiga setengah musim membesut John Terry dan kawan-kawan memang tak tertandingi oleh para pelatih Chelsea lainnya dalam dua dekade terakhir: Ruud Gullit, Gianluca Vialli, Guus Hiddink, hingga Carlo Ancelotti.

Namun demikian, menganggap kedatangan Mourinho akan serta-merta mengembalikan posisi Chelsea sebagai klub nomor satu di Inggris mungkin agak berlebihan. Peta kekuatan Liga Primer saat ini sangat berbeda dengan saat Mourinho pertama kali mendarat di Stamford Bridge pada Juni 2004.

Menjelang musim 2004/2005 itu, Manchester United (MU) sedang memasuki fase transisi ke generasi Wayne Rooney. Manchester City belum jadi kekuatan besar dan Liverpool tak punya skuat yang cukup kuat untuk menguasai Liga Primer. Praktis hanya Arsenal yang saat ini sangat stabil dengan Thierry Henry sebagai pilarnya.

Saat ini, peta kekuatan Liga Primer jauh lebih ketat. MU masih memiliki skuat hebat peninggalan Alex Ferguson. City akan semakin kuat jika Edinson Cavani jadi bergabung dan Tottenham Hotspur kini menjelma jadi kekuatan baru yang tak bisa diremehkan. Jangan lupakan Arsenal dan juga Liverpool dengan pasukan mudanya. Singkat kata, tantangan bagi Mourinho saat ini sangat berbeda dibanding sembilan tahun lalu.

Dalam konteks inilah saya menganggap Rafa layak mendapat apresiasi lebih atas apa yang dicapai Chelsea musim ini. Membawa timnya ke dua partai final dan memastikan tiket Liga Champions adalah pencapaian yang cukup memuaskan untuk situasi transisi yang sedang dialami Chelsea saat ini. Ingat, musim lalu Chelsea mengakhiri musim di peringkat keenam!

Tidak mudah bagi sebuah tim besar melalui fase transisi seperti ini. Suporter tak mau tahu soal menurunnya kondisi Terry, Frank Lampard, Ashley Cole, dan pemain-pemain seangkatannya. Di sisi lain, memberi kesempatan lebih banyak kepada generasi Eden Hazard, Oscar, dan Cesar Azpilicueta bukannya tanpa risiko.

Tapi Rafa telah melewati "periode turbulensi" itu dengan baik. Statistik menunjukkan, dari total 46 laga bersama Chelsea, ia meraih 26 kemenangan plus 10 imbang dan 10 kalah. Itu berarti rasio kemenangannya mencapai 56,52 persen.

Mungkin sulit dipercaya, angka 56,52 persen itu adalah persentase kemenangan terbaik sepanjang kariernya. Bahkan lebih bagus dibanding saat menangani Liverpool (56,29 persen) atau Valencia (54,32 persen) di mana ia dianggap sukses dan sangat dihormati.

Apa boleh buat, angka-angka acapkali tak cukup kuat menyuarakan fakta yang tersembunyi. Persentase kemenangan Benitez yang lumayan bagus itu -- bandingkan, misalnya, dengan David Moyes yang hanya 42,17 persen bersama Everton-- pun tak bisa mengubah persepsi publik Stamford Bridge. Rafa tetap menjadi sosok yang diharapkan segera pergi.

Malam ini, di Amsterdam Arena, Rafa mungkin bisa menambah catatan bagusnya untuk Chelsea dengan sebuah trofi bernama Liga Europa. Jika itu terjadi, Chelsea akan masuk deretan klub elite yang mampu menyandingkan trofi Liga Champions bersama Liga Europa (dulu Piala UEFA) dalam dua musim berurutan. Sekaligus berpeluang menyusul Juventus, Ajax, dan Bayern Munich sebagai tim yang pernah menjuarai semua kejuaraan antarklub di lingkungan UEFA.



Namun hal itu, sekali lagi, tak akan mengubah hubungannya dengan para pendukung Chelsea. Mereka tetap menginginkan Rafa pergi dan Mourinho segera kembali.

Hubungan antara suporter dan para idolanya --pemain atau pelatih -- memang tak mudah dipahami dan tak punya pola yang pasti. Para idola yang hebat dan berprestasi belum tentu lebih dicintai. Suporter acapkali justru lebih mendewakan para loyalis dan figur berkomitmen penuh semacam Gary Neville (MU), Jamie Carragher (Liverpool), atau Ledley King di Tottenham.

Rafa tampaknya tak bisa mengubah itu. Namun, setidaknya, ia sukses mematahkan keraguan banyak orang yang mengira ia tak akan sanggup bertahan di Stamford Bridge hingga akhir musim. Ia pantas untuk lebih dihargai.




====

* Foto-foto: Getty Images
* Tentang penulis, klik di sini. Akun twitter: @MohamadKusnaeni



(krs/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads