Bagai Pungguk Rindukan Piala Dunia

Bagai Pungguk Rindukan Piala Dunia

- Sepakbola
Kamis, 17 Jul 2014 14:10 WIB
Bagai Pungguk Rindukan Piala Dunia
Ilustrasi: AFP/Bay Ismoyo
Jakarta -

Sebenarnya sudah lama saya memupus harapan dan menerima kemungkinan kenyataan: keikutsertaan Indonesia di Piala Dunia tidak akan terjadi di masa hidup saya.

Ini tidak mengada-ada ataupun membesar-besarkan. Semata-mata kepasrahan.

Kita tahu hidup adalah rangkai kait sebab dan akibat, tindak dan konsekuensi, rencana dan eksekusi. Sebuah alur linear. Katakanlah sederhananya sebuah hukum alam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tetapi apalah arti hukum alam seperti itu untuk PSSI (atau lebih tepat pengurusnya)?

Kehidupan organisasi ruwet. Kompetisi amburadul. Program tidak jelas.

Menyedihkan lagi PSSI sepertinya gagal paham akan salah satu tanggung jawab mendasar mereka: mengayomi para pekerja sepakbola (pemain). Kalau mereka paham maka tidak akan ada kasus pemain terlunta tak dibayar gajinya oleh klub, lalu mengalami variasi nasib dari mati sengsara hingga diusir dari Indonesia (untuk pemain asing).

Namun dengan persoalan rumah tangga yang mendasar saja tidak terselesaikan dengan baik, dengan gagah berani PSSI mencanangkan program lolos putaran final Piala Dunia. Program yang masih diyakini masih akan bisa terwujud.

Seolah PSSI, berbeda dengan badan sepakbola lain, punya hak untuk bisa memutus rantai kait sebab dan akibat, tindak dan konsekuensi, rencana dan eksekusi. Seolah alur linear kehidupan tidak berlaku untuk PSSI. Seolah akan ada kejutan-kejutan supra-natural yang diakhir pasti membantu.

Padahal mereka yang sekadar berpartisipasi hingga berprestasi bagus di Piala Dunia modern, kesemuanya tidak bisa mengelak dari alur linear itu.

Tak terkecuali Jerman yang menjadi juara Piala Dunia 2014. Yang sederhana Neuer, Khedira, Boateng, Hummels, dan Oezil untuk menyebut beberapa, adalah anggota tim U21 yang menjadi juara Eropa tahun 2009. Ini menunjukkan adanya sebuah jenjang pembinaan yang jelas, terjaga dan terstruktur.

Tetapi lebih dari sekadar itu, keberhasilan Jerman ini adalah buah dari konsep dan perencanaan yang jelas, visi yang jernih, eksekusi yang tegas, dan akuntabilitas bagi mereka yang menjalankan. Anda tahu bahwa keberhasilan Jerman adalah salah satu warisan konsep tinggalan Juergen Klinsman saat memegang Jerman tahun 2004-2006.

Ia saat itu bersama manajer Jerman sekarang, Joachim Loew – dulu asisten Klinsman – merumuskan model permainan yang harus dimainkan tim nasional kalau ingin sukses. Konsep permainan itu kemudian dibawa ke Federasi Sepakbola Jerman atau Deutsher Fussball Bund (DFB).

Adalah DFB yang kemudian, atas saran Klinsman, mengharuskan semua klub profesional memahami dan sebisa mungkin memainkan model permainan yang serupa dan sebangun dengan apa yang dirumuskan Klinsman. Dengan model ini, siapapun yang dipanggil tim nasional tidak akan kesulitan untuk beradaptasi di lapangan.

Sebuah model keseragaman, sebuah konsep yang mungkin membuat orang tak nyaman. Tetapi 10 tahun sesudah dicanangkan, Jerman menjadi tim pertama Eropa yang menjadi juara Piala Dunia di tanah Amerika Latin.

Model keseragaman ditiru dan membawa kesuksesan untuk Belgia. Tekhnokrat sepakbola Belgia, Michael Sablon ditahun 2006 meniru apa yang baik dari Jerman, Prancis dan Belanda. Ia meminta klub-klub Belgia memainkan sistem 4-3-3 yang cair, yang dimainkan oleh tim nasional.

Sablon yang saat itu menjadi direktur teknik Asosiasi Sepakbola Belgia menulis apa yang ia inginkan dalam bentuk brosur. Iapun berkeliling ke sekolah-sekolah, klub-klub amatir, dan sekolah sepakbola. Ia berkhotbah menyiarkan 4-3-3.

Sablon secara rutin mengumpulkan pemain-pemain berbakat terbaik –tim-tim kelompok umur -- untuk dilatih di delapan pusat pelatihan nasional selama waktu tertentu. Mereka kemudian dikirim kembali ke klub masing-masing untuk menyebar ide dari pusat latihan. Atau juga agar mereka menyerap hal-hal lain dari klub mereka sendiri untuk dibawa ke pusat latihan ketika dipanggil.

Salah satu persyaratan utama skenario seperti ini tentu saja adalah klub-klub yang mapan, baik itu amatir maupun profesional. Asosiasi Sepakbola Belgia tentu saja bertanggung jawab menyediakan, menjaga dan mengelola kehidupan bersepakbola agar klub-klub itu bisa hidup dan mapan.

Sablon dengan dukungan penuh Asosiasi Sepakbola Belgia juga membuat program pembentukan pemain untuk anak-anak dan remaja. Fokus pertandingan tim tingkat remaja bukanlah untuk meraih kemenangan tetapi pematangan individu dan tim.

Lebih radikal lagi ia menghapus klasemen liga untuk kompetisi anak-anak di bawah umur delapan dan tujuh tahun. Ia juga melarang pemain yang sudah bermain untuk kelompok umur yang lebih tua, turun kembali ke kelompok umurnya, bahkan untuk pertandingan bergengsi bagi Belgia sekalipun.

Untuk semua langkah-langkah revolusionernya, Sablon dicerca kiri kanan. Walau Asosiasi Sepakbola Belgia kukuh di belakangnya tetapi individu di dalam organisasi itu banyak yang gerah dengan langkah-langkahnya.

Kebijakan pembinaan yang dilakukan Sablon tidak cukup berhasil membuat mereka tampil sempurna di Piala Dunia. Bahkan masih kalah dari Belgia 1986 yang mencapai semifinal. Tetapi Belgia telah kembali bangkit dengan sejumlah pemain bagus dan diperkirakan akan menjadi semakin kuat dalam waktu beberapa tahun mendatang.

Model pendekatan menyeluruh di semua lini juga diterapkan oleh Spanyol yang kita tahu berbuah manis memenangi Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010. Prancis yang menjadi juara Piala Dunia 1998.

Para pengurus PSSI mungkin akan berkilah bahwa gampang bagi negara-negara Eropa untuk melakukan proses tiru meniru model yang mereka anggap sukses. Bagaimanapun budaya sepakbola mereka sudah terbentuk. Keuangan tercukupi.

Tapi ayolah……… bagaimana dengan negara-negara Afrika? Ditengah keamburadulan negaranya, Pantai Gading mampu lolos ke Piala Dunia. Begitupun Nigeria. Atau juga Kamerun.

Di Asia, Jepang bisa dikatakan contoh yang radikal. Negara ini memang punya uang. Jepang mungkin bisa membangun stadion-stadion bagus. Tetapi walau Badan Sepakbola Jepang (JFA) telah berdiri sejak tahun 1921, hingga tahun 1970an sepakbola boleh dikata olahraga yang sangat tidak populer.

Untuk mencapai apa yang mereka nikmati selama 15 tahun terakhir, JFA harus membangun kultur dan sub-kultur sepakbola mereka dimulai tahun 1980an. JFA merancang strategi untuk menyerbu masyarakat Jepang baik dari atas hingga ke bawah.

Dirancanglah komik-komik sepakbola untuk menginfiltrasi angan-angan anak-anak Jepang agar tertarik dengan bola. Industri kaya dirangkul dan dibujuk untuk membuat klub sepakbola profesional. Di tahun 1993 untuk pertama kalinya dibuatlah Liga Profesional (J-League).

Mereka belajar cara mengelola sepakbola di berbagai negara gila bola. Termasuk juga ke Indonesia. Walau untuk Indonesia saya bercuriga mereka mungkin belajar memahami pengelolaan sepakbola yang salah agar mereka tidak melakukannya.

Berbagai contoh dari Eropa, Afrika dan Asia menunjukkan bahwa sesungguhnya semua badan sepakbola di negara-negara di dunia pasti mempunyai persoalan dan kesulitan mereka sendiri-sendiri. Tetapi semua mempunyai cara untuk mengatasi. Selama ada pemikiran, konsep, strategi, eksekusi, usaha, dan kerja keras. Semuanya harus jelas, terbuka dan bisa dipertanggungjawabkan.

Tetapi terlalu besarkah kita berharap PSSI bisa seperti itu? Kalau memang demikian, mungkin saya atau semua penggemar bola di Indonesia ini tak lebih dari pungguk yang merindukan Indonesia tampil di Piala Dunia.



======


* Penulis pernah menjadi wartawan di sejumlah media dalam dan luar negeri. Sejak tahun 1997 tinggal di London dan sempat bekerja untuk BBC, Exclusive Analysis dan Manchester City. Setelah 17 tahun di London penggemar sepakbola dan kriket ini kini pulang ke tanah air dan menjadi Chief Editor CNN Indonesia. Akun twitter: @dalipin68

(a2s/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads