Romantisme Sepakbola adalah Antikemapanan dan Semau Gue

Romantisme Sepakbola adalah Antikemapanan dan Semau Gue

- Sepakbola
Senin, 23 Jun 2014 09:49 WIB
Romantisme Sepakbola adalah Antikemapanan dan Semau Gue
REUTERS/Ricardo Moraes
Jakarta - No one remembers who came in second. Tak ada yang ingat siapa juara duanya, kata mendiang pegolf Amerika Walter Hagen. Benar untuk banyak kesempatan, tetapi tidak selalu.

Terkadang justru karena seseorang atau satu tim tidak menjadi juara ia atau mereka terpahat di ingatan, lekat di otak sebagai kenangan, memburai menjadi sekian khayalan. Seringkali sendu.

Bagi mereka yang beruntung menyaksikan kiprah Belanda tahun 1974 akan mengerti. Imajinatif, kreatif, visioner, spontan, dan semau gue adalah sedikit dari atribut yang secara bersamaan dikenakan kepada mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan modal itu mereka mempersetankan rasionalitas permainan yang mapan saat itu. Mereka yang sesungguhnya para intelektual bola, dalam bermain malah justru memuja emosi dan kepekaan inderawi ketimbang akal sehat; menyerahkan diri kepada percikan kreativitas ketimbang taktik yang kaku dan tradisional; terbakar dalam keindahan bermain ketimbang disiplin untuk meraih kemenangan.

Tetapi sepakbola, seperti juga olahraga lain, itu kejam. Hukum besi zero sum game yang berlaku: kalah atau menang. Dan ukuran satu-satunya kemenangan dan kekalahan hanyalah persoalan selisih gol yang tercipta, persoalan bola masuk gawang. Tidak ada "nilai gol" dari permainan mencengangkan yang ditampilkan Belanda.

Belanda kalah 1-2 di final dari tuan rumah Jerman Barat. Kalah dari Jerman Barat yang menampilkan permainan ideal untuk meraih kemenangan: disiplin, dingin, rasional dan menerapkan taktik-strategi sesuai kebutuhan. Bermain layaknya presisi dan otomatisasi mesin.

Permainan Jerman Barat saat itu memang juga mengundang decak kekaguman dalam bentuk yang berbeda. Mesin yang mulus. Tetapi Belanda dengan "kesombongannya yang anggun" memberi lebih banyak cerita romantis (walau tragis, atau mungkin menjadi romantis karena tragis).

Delapan tahun kemudian cerita berulang. Brasil datang ke Piala Dunia 1982 di Spanyol dengan reputasi serupa Belanda tahun 1974. "Hanya kerendahan hati yang mungkin tidak kami punya,’" kata (kalau tidak salah) Serginho, striker tim itu sekian tahun sesudahnya.

Memang susah untuk berendah hati ketika sebuah tim mempunyai begitu banyak pemain dengan keterampilan individu dan imajinasi di atas rata-rata. Menonton tim Brasil saat itu adalah menanti kejutan-kejutan permainan yang tak terduga (hebatnya). Pola dan taktik-strategi permainan mereka adalah turunkan 11 pemain dan terserah mereka ingin apa.

Ke-semau gue-an mereka tercermin dari ketidakpedulian bagaimana tim lawan bermain, karena dari pemain belakang --kecuali kiper-- hingga ke depan mampu menyerang sama berbahayanya dan mencetak gol. Brasil menghadirkan kesombongan yang berbeda, kesombongan yang membuat lawan putus asa.

Untuk menciptakan romantisme itu Brasil bahkan tak harus masuk final. Mereka cukup hanya sampai putaran dua grup (sistem yang digunakan berbeda saat itu) untuk bisa menggoreskan kenangan yang tak terlupakan itu.

Setelah memenangkan semua pertandingan mereka lewat permainan yang mencengangkan, Brasil tersingkir kalah 2-3 dari Italia dalam sebuah pertandingan yang epik. Dua kali Italia unggul, dua kali pula Brasil menyamakan kedudukan. Brasil seperti menggoda: "silakan cetak gol lebih dulu, kami cetak gol kemudian."



Ketiadaan kerendahan hati, Brasil hanya perlu seri untuk lolos lawan Italia, yang membuat mereka terus saja menyerang sambil mempertontonkan kelebihan imajinasi dan ketrampilan bermain. Pamer. Hingga dewi fortuna pun muak dan memberi kesempatan kepada Paolo Rossi untuk menghukum Brasil dengan gol ketiganya tanpa bisa dibalas lagi.

Kekalahan itu begitu mengenaskan. Maka lahirlah kemudian pengultusan tim Brasil 1982 sebagai tim terkuat dan terindah yang gagal memenangkan Piala Dunia. Orang selalu (dan masih saja) berbicara dengan kesenduan dan rasa tidak percaya --bahkan tidak rela-- tim ini tidak berhasil menjadi juara. Tim Brasil 1982 lebih banyak dibicarakan ketimbang tim Italia yang mengalahkan mereka dan menjadi juara.

Di Piala Dunia berikutnya kembali sebuah tim tampil mengejek keharmonisan tatanan, rasionalitas, keseimbangan permainan sepakbola. Argentina dengan Maradonanya atau Maradona dengan rekan-rekan Argentinanya.

Kalau dengan tim Brasil 1982, turunkan 11 pemain dan biarkan mereka bermain sesuka hati mereka, Argentina 1986 berbeda: biarkan Maradona bermain sesuka hatinya, sepuluh lainnya sekadar menemani.

Kalau Belanda 1974 menyerahkan diri kepada percikan kreativitas, memuja emosi dan kepekaan inderawi, dan terbakar dalam keindahan bermain, maka Argentina 1986 cukup menampilkan Maradona untuk merangkum ketiganya.

Maradona bermain dengan imajinasi kanak-kanak (yang kita tahu seperti tanpa batas) tetapi dengan kematangan wadak layaknya badak. Keterampilannya di luar nalar. "Kaki Maradona bisa memanipulasi bola seperti tangan," kata bekas striker Inggris, Gary Lineker, satu ketika.

Maradona bisa sendirian mengoyak-koyak pertahanan lawan, bahkan kalau perlu melewati sebelas pemain sekaligus. Maradona bisa membuat rekan-rekannya terlihat bagus ketika ia melibatkan mereka. Ia dirigen, orkestra sekaligus suara musik yang tercipta.

Yang hebat adalah ketika Belanda dan Brasil gagal, maka Argentina bisa pongah mengatakan "kami merusak tatanan sekaligus menjadi juara."

Maradona (Argentina) menjadi bukti ke-semau gue-an bisa menumbangkan kemapanan, akal sehat, tata krama konvensional, dan segala sesuatu yang dianggap baik dan benar. Maradona adalah wujud pemberontakan.

Penggemar bola banyak sekali yang bertepuk tangan dan gembira untuk sesuatu yang mereka sendiri tak bisa rumuskan. Benarkah mereka yang bergembira ini karena Maradona dan Argentina berhasil menjadi juara Piala Dunia? Sebuah cerita romantis yang berakhir manis.

Sekian abad lalu, akhir abad 18 hingga sekitar pertengahan abad 19, muncul sebuah pemikiran dan gerakan yang bermula dari Jerman dan Inggris. Sebuah gerakan perlawanan atas tatanan sosial dan perilaku yang mapan saat itu. Gerakan yang menitikberatkan kemerdekaan ekspresi emosi dan imajinasi. Ia menolak harmoni, keseimbangan, yang ideal dan rasional untuk jaman itu.

Pemikiran dan gerakan anti kemapanan itu membangkitkan pertanyaan: apakah insting manusia itu menginginkan kemapanan dan keteraturan, ataukah memuja kebebasan dan kemerdekaan? Pemikiran dan gerakan anti kemapanan itu bernama romantisme.

Jangan-jangan banyaknya penggemar bola memuja Belanda 1974, Brasil 1982, dan Argentina 1986 adalah jawaban dari pertanyaan dari gerakan dan pemikiran romantisme itu. Manusia jangan-jangan adalah pemuja kebebasan dan kemerdekaan. Manusia jangan-jangan selalu hendak mempersetankan semua yang mapan dan teratur.




===

* Penulis pernah menjadi wartawan di sejumlah media dalam dan luar negeri. Sejak tahun 1997 tinggal di London dan sempat bekerja untuk BBC, Exclusive Analysis dan Manchester City. Setelah 17 tahun di London penggemar sepakbola dan kriket ini kini pulang ke tanah air dan menjadi Chief EditorΒ CNNIndonesia . AkunΒ twitter: @dalipin68



(a2s/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads