Adat istiadat, budaya, kebiasaan perilaku, fenomena sosial di satu masyarakat tertentu sering kali tidak masuk dalam logika mereka yang datang dari latar lingkungan yang berbeda. Dianggap absurd malah.
Tetapi ketika absurditas berulang (kali) terjadi, patut diduga bahwa ada rasionalitas di belakang itu semua.
Itulah sebab praktik-praktik budaya atau juga fenomena sosial, unik sifatnya. Ia mencerminkan kerangka pikir (logika) kelompok masyarakat tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jelas ada yang tidak benar dengan sepakbola di Indonesia ini. Dan tak perlu diragukan, kesalahan terbesar ada di pundak administrator sepakbola Indonesia.
Tetapi karena unik dan absurd, menjelaskan atau mencoba memahami keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia dari sisi semata persoalan sepakbolanya saja: administrasi organisasi, pelatihan, pembinaan, dan profesionalisme olahraga, kita akan selalu kesulitan.
Toh, segala macam cara dan upaya kita tahu telah ditempuh: menyekolahkan anak-anak berbakat ke luar negeri, memutar liga profesional, mengasimilasi pemain asing, menyewa pelatih asing dan entah apa lagi. Hasil: nol besar. Gagal terus.
Kita layak berterimakasih kepada para antropolog yang banyak mengajarkan cara memahami absurditas, dengan cara tidak langsung melihat ke persoalan, tetapi melihat fenomena lain yang juga ada dalam masyarakat, menghubungkan, dan kemudian menarik benang merah.
Artinya untuk menjelaskan keterpurukan sepakbola Indonesia kita harus mencari pembanding dalam kehidupan lain. Menempatkan sepakbola sebagai bagian integral hasil pola pikir orang Indonesia. Mendudukkan sepakbola sebagai satu saja dari sekian banyak representasi pola pikir itu.
Meminjam pernyataan salah seorang petenis perempuan paling sukses dalam sejarah, Billie Jean King, "Olahraga adalah mikrokosmos dari kehidupan sesungguhnya."
Kita ambil contoh sederhana saja. Berkendaraanlah di Jakarta (mungkin juga kota lain juga) atau amati bagaimana para politisi berkiprah. Lalu bandingkan dengan sepakbola Indonesia.
Berkendaraan di Jakarta seperti memasuki lautan ketidakberaturan, anti-disiplin, dan lautan egoisme yang mengerikan. Segala macam bentuk pelanggaran lalu lintas bisa diketemukan atas nama "yang penting saya... peduli setan dengan yang lain."
Bahkan dengan mengatasnamakan itu semua, tindakan yang sangat membahayakan seperti melanggar jalan satu arah, menyalip dari kiri di jalan tol, naik trotoar bagi kendaraan roda dua menjadi sangat jamak dan seperti sudah diterima sebagai norma.

Apakah dengan seperti itu lalu lintas Jakarta menjadi tidak berfungsi? Tentu saja tidak. Dan ini celakanya. Karena involusi norma, peri laku, pola pikir tetapi tak membuat segala sesuatunya berhenti berfungsi. Yang terjadi kemudian adalah orang bisa berkendara tetapi tidak tahu cara berkendara yang baik dan benar.
Dunia politik juga tidak jauh berbeda. Tidakkah melihat dunia perpolitikan Indonesia kita seperti juga memasuki lautan ketidakberaturan, anti disiplin, dan lautan egoisme yang mengerikan?
Untuk beberapa saat reformasi seperti menawarkan sebuah perbaikan. Tetapi lihat bagaimana politisi bertindak tanduk untuk terpilih menjadi anggota parlemen saat ini. Lihat bagaimana para politisi bersidang di gedung DPR/MPR. Timbang apa yang mereka perjuangkan. Tidak ada kesimpulan kecuali mereka bisa berpolitik tetapi tidak dengan baik dan benar.

Apakah dengan demikian kehidupan lembaga politik lalu mati dan tidak berfungsi. Tentu saja tidak. Kehidupan bernegara tetap berjalan. Pemerintahan tetap berjalan. Lembaga politik β dari partai hingga parlemen β tetap berjalan. Hanya tentu saja memburuk.
Sepakbola juga begitu. Salah urus, egoisme administrator sepakbola, ketidakberaturan dan ketidakjelasan program pembinaan dan sekian persoalan lain campur baur tidak karuan.
Sepakbola Indonesia tidak mati. Tetap banyak sekali di Indonesia yang bisa bermain bola. Bermain dengan baik dan benar menjadi persoalan lain.
Membandingkan ketiganya ada tema ajeg yang muncul. Berkendara tetapi tidak dengan baik dan benar, berpolitik tetapi tidak dengan baik dan benar; berorganisasi tetapi tidak dengan baik dan benar; bersepakbolapun dengan tidak dengan baik dan benar. Tidak akan mengejutkan seandainya di semua sendi kehidupan saat ini tema itu selalu muncul.
Memperbaiki prestasi sepakbola Indonesia sepertinya juga berarti harus memperbaiki seluruh sendi kehidupan bermasyarakat/bernegara bangsa ini. Atau malah sendi berkehidupan masyarakatlah yang diperbaiki terlebih dahulu sebelum memperbaiki yang lain.
Cobalah perhatikan negara-negara yang mempunyai prestasi sepakbola stabil. Tak mengherankan bahwa rata-rata adalah negara Eropa yang sendi kehidupan masyarakatnya mapan. Untuk Asia, kita harus berkaca ke Korea Selatan, Jepang dan Australia.
Tidak perlu harus mempunyai jumlah penduduk yang besar ataupun kaya. Modal dasar yang lebih penting adalah masyarakatnya memiliki pola pikir yang sehat bagi organisasi sepakbolanya untuk berpijak.
====
* Penulis pernah menjadi wartawan di sejumlah media dalam dan luar negeri. Sejak tahun 1997 tinggal di London dan sempat bekerja untuk BBC, Exclusive Analysis dan Manchester City. Penggemar sepakbola dan kriket ini sudah pulang ke tanah air dan menjadi Chief Editor portal CNN Indonesia. Akun twitter: @dalipin68
(a2s/krs)











































