Segera lupakan pertandingan Persib dan Persipura di final Liga Super Indonesia. Lupakanlah Persib yang sedang bergembira telah mengakhiri puasa gelarnya selama 19 tahun. Lupakanlah kesedihan Persipura yang tak kunjung bisa menjadi juara di tahun genap.
Kegembiraan, kesedihan, kemenangan, kekalahan, juara dan tidak juara adalah bagian dari keniscayaan sebuah kompetisi. Selebihnya adalah rincian yang kita ciptakan sendiri untuk menyibukkan diri.
Apa yang diraih oleh Persib dan derita yang dialami oleh Persipura bukanlah yang layak mendapat perhatian berkepanjangan. Untuk tahun ini adalah sepakbola gajah PSS dan PSIS di divisi satu kompetisi yang lebih layak mendapat perhatian masyarakat bola. Sayangnya saja untuk alasan yang salah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kita bergembira --dengan penuh prasangka baik-- karena rupanya pelaku sepakbola di Indonesia pada dasarnya adalah orang-orang yang jujur. Bagaimana tidak, untuk berkhianat dan tidak jujur saja mereka tidak tahu caranya, sangat lugu dan bodoh.
Adakah perbuatan yang lebih menghina akal sehat di lapangan bola dari terang-terangan mencetak gol bunuh diri? Bukan hanya satu atau dua, tetapi lima. Bahkan tanpa koreografi yang baik sama sekali untuk menyamarkannya.
Kita sedih, malah mungkin juga marah, bahwa ada kejadian ini. Ia symptom (gejala) dari persoalan yang lebih besar yang tidak terlihat. Sebab kalau tindak khianat yang terang-terangan di muka umum saja dilakukan, pastilah ada persoalan tersembunyi yang lebih dahsyat yang telah terjadi. Sangat naΓ―f kalau kita tidak berkesimpulan seperti ini.
Apalagi sehabis kejadian itu kita tidak melihat pengurus sepakbola negeri ini meminta maaf atas kejadian itu, bertanggung jawab, mengaku tak mampu, angkat tangan, dan mundur berombongan.
Memang ada beberapa pertemuan/rapat khusus, lalu menjatuhkan hukuman. Tetapi ya sampai di situ saja. Tak lebih, tak kurang. Sangat artifisial. Setelah itu seperti tidak ada apa-apa.
Tidak terdengar adanya pembahasan besar untuk melakukan restrukturisasi organisasi, merancang tindak preventif agar hal serupa tak terjadi lagi, dan langkah penegakan hukum yang tegas.
Ada satu hal yang baru saya sadari ketika memperhatikan sepakbola Indonesia, adalah kita dipaksa untuk mengamputasi akal sehat. Tidak ada logika linear ketika mengatasi persoalan. Tidak ada kejelasan tolok ukur yang rasional.
Kita tahu sepakbola gajah bukan pertama kali terjadi. Di tahun 1988 Persebaya di kandang sendiri, Gelora 10 November, mengalah kalah 0-12 dari Persipura. Lalu tahun 1998 Indonesia dengan sengaja mengalah dari Thailand ketika Mursyid Effendi terang-terangan melakukan gol bunuh diri di Piala Tiger.
Sangatlah luar biasa bahwa setelah dua kejadian high profile tersebut masih saja sekarang bisa terjadi lagi. Ini belum menghitung sekian banyak kejadian serupa yang tak terpantau media. Terutama di kompetisi tingkat bawah. Sebuah asumsi memang. Tetapi akan sangat mengagetkan, kalau yang di tingkat nasional dan internasional saja bisa dilakukan, berbagai rupa bentuk pengkhianatan sportivitas tidak terjadi.
Padahal pengkhianatan (sportivitas), seperti peristiwa gol bunuh diri, tidak pernah datang-datang tiba-tiba. Ia tidak muncul di ruang vakum. Ia selalu mengirim tanda-tanda, mengusik, memberi isyarat, bersebab akibat.
Artinya sangat sederhana, bahwa selama 25 tahun terakhir, bahkan jauh mundur kebelakang kalau melihat silang sengkarut sepakbola Indonesia, praktis tidak ada pembenahan sama sekali dalam tubuh sepakbola Indonesia. Pengabaian. Kalaupun ada upaya pembenahan, ini lebih parah lagi, berarti tidak jalan sama sekali. Cermin ketidakkompetenen pelakunya.
Mungkin kesimpulan berikut kemudian terlalu menyederhanakan persoalan. Tetapi bisa dimengerti kalau dalam situasi seperti tertulis di atas penggemar sepakbola di Indonesia kemudian menjadi apatis, Hilang pengharapan. Penggemar sepakbola di Indonesia tidak pernah benar-benar bisa percaya bahwa apa yang terjadi di lapangan adalah yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Erosi kepercayaan ini yang kadang membuat saya berpikir, pantaslah kompetisi sepakbola di negeri ini tidak pernah benar-benar bisa hidup. Selalu saja tersembul rasa curiga bahwa segala sesuatunya telah diatur. Karenanya tidak layak untuk diikuti.
Sangat mengherankan bahwa dengan penggemar (pasar) sedemikian besar, industri sepakbola tidak bisa hidup di negeri ini. Tidak ada stasiun televisi yang mengkhususkan diri untuk sepakbola. Tidak ada belasan stasiun radio, lokal maupun nasional, yang didedikasikan untuk penggemar bola. Ada satu dua koran bola tetapi hidupnya sungguh kembang kempis.
Sangat mengenaskan bahwa di negeri ini tidak cukup banyak "intelektual" bola (atau mungkin saya saja yang tidak mengenal mereka). Dari sedikit yang saya temui, terlalu sedikit saya mendengar adanya perbincangan, lewat medium apapun, yang menggelitik pikiran.
Dari sedikit yang pernah saya temui, perbincangan bola yang mereka lakukan menyasar nun jauh ke pelosok di luar sana. Mereka fasih berbicara tentang Eropa dan Amerika Latin, tidak salah tentunya karena kita selalu belajar dari keduanya, tetapi sangat jarang berbicara tentang Indonesia sendiri. Mungkin seperti juga penggemar sepakbola di negeri ini, para intelektualnya juga sudah apatis.
Anda tahu, pengkhianatan, apapun bentuknya, selalu meninggalkan luka. Tetapi ia juga membuka kemungkinan ketegaran, waspada, bijak, dan perbaikan. Celakanya, untuk kasus sepakbola Indonesia, ia selalu saja hanya meninggalkan luka. Hanya luka.
Semoga saya salah adanya.
====
*Penulis pernah menjadi wartawan di sejumlah media dalam dan luar negeri. Sejak tahun 1997 tinggal di London dan sempat bekerja untuk BBC, Exclusive Analysis dan Manchester City. Penggemar sepakbola dan kriket ini sudah pulang ke tanah air dan menjadi Chief Editor CNN Indonesia. Akun twitter: @dalipin68
(roz/cas)











































