Tahun ini merupakan Natal pertama saya di Indonesia setelah hampir dua puluh tahun di Inggris. Kami sekeluarga tidak merayakan, tetapi saya berbohong kalau mengatakan tidak kehilangan suasana Natal di London.
Temaram sepanjang hari, jalanan sepi, suhu yang dingin, kabut tipis, dan jalanan basah karena rintik hujan --terkadang salju-- adalah asosiasi suasana Natal yang tertanam di benak.
Di pagi Natal, selalu saya luangkan waktu sebentar untuk berjalan dengan istri dan anak kami --sebelum ia menginjak remaja dan malas ikut-- di sepanjang Sungai Thames tak jauh dari rumah kami. Menyerap keheningan yang entah mengapa terasa syahdu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan hampir selalu, kami akan kemudian duduk di kursi pojok taman memandangi kota London di bawah nun jauh sana. Angan dan lamunan memenuhi benak kami sendiri-sendiri.
Sore dan malam hari adalah waktu untuk mengunjungi teman-teman yang merayakan Natal. Berpesta, bersyukur, dan bersulang untuk nikmat hidup yang masih bisa kami kecap.

Bagi kami sekeluarga, yang paling penting kemudian adalah hari berikutnya hingga tahun baru: rentetan pertandingan bola, dua atau tiga, tanpa henti. Setidaknya ada satu pertandingan yang kami tonton langsung di stadion dan lainnya dari televisi.
Ada keasyikan tersendiri bagi kami ketika harus memilih pertandingan yang akan kami tonton di stadion. Saling berdebat memilih yang kami anggap paling seru. Walau seringnya selalu saja pilihan istri yang menang. Dan itu kami lakukan jauh sebelum Natal karena kemudian harus berburu tiket.
Kalau kebetulan pertandingan jauh di luar kota, maka merancang kepergian juga menyenangkan. Selalu mencoba menggabungkan dengan bersilaturahmi mengunjungi teman yang kebetulan merayakan Natal di kota tempat pertandingan dilakukan.
Tetapi jarang sekali kami menonton di hari sesudah Natal, Boxing Day, karena sering anak juga harus bertanding bola untuk klubnya. Kalau itu yang terjadi, maka sesudah ia bertanding, yang selalu dilakukan di pagi hari, kami beli makan dan lalu buru-buru pulang menonton pertandingan yang digelar tengah hari dan sore hari.
Walau berulang kali kami menonton pertandingan bertiga, tetapi menonton sepakbola langsung di stadion antara Natal dan tahun baru entah mengapa selalu menghadirkan sesuatu yang berbeda. Lebih dari sekadar menonton bola.

Saya selalu menanamkan pada anak saya, seberapapun kami mencintai sepakbola ini, ia tak berbeda dengan olahraga lain. Sebuah kesia-siaan dari sisi fungsi sosial/kemanusiaan.
Saya tak punya kesimpulan lain untuk diampaikan ketika tujuan utama sepakbola hanyalah memasukkan bola ke gawang lawan dan mencoba untuk tidak kebobolan. Tak lebih.
Semua aturan, kreativitas, spontanitas, upaya, kontroversi, kegembiraan, dan perjuangan yang ada di dalam lapangan adalah lautan ketidakberartian di luar lapangan. Tak bermakna.
Tetapi sepakbola tiba-tiba memiliki fungsi sosial dan menjadi kesia-siaan yang indah ketika ia dikaitkan dengan kegiatan lain di sekitarnya. Menjadi sebuah medium untuk sesuatu. Bermakna di luar lapangan sepakbola.
Itu bisa terjadi karena pada dasarnya pertandingan sepakbola tak bermakna di luar lapangan bola hingga ada proyeksi emosi atau interpretasi dari luar lapangan bola.
Bagi kami, dan juga sekian banyak keluarga lain di Inggris, pertandingan sepakbola di seputar Natal menggugah imajinasi akan sebuah kebersamaan lalu mungkin kenangan. Menjadi fokus, menggaris bawahi, akan sebuah ikatan kebersamaan antara anak, istri, dan bapak.

Pertandingan bola adalah kulminasi dari perdebatan ketika kami menentukan pertandingan yang harus kami tonton, pencarian tiket, dan bepergian yang kami lakukan. Sebuah kulminasi kebersamaan kami bertiga. Pertandingan menjadi bermakna karena proses yang kami lewati.
Orang lain bisa jadi akan mempunyai proyeksi pemaknaan yang berbeda. Tergantung pada proses yang mereka alami dan jalani. Juga tidak perlu harus menunggu Natal.
Tetapi begitulah, Natal selalu menghadirkan keriaan buat kami selama tinggal di London. Ada ritual yang membuat kami sekeluarga menjadi lebih erat dan hangat sebagai keluarga dengan sedikit pertolongan dari sepakbola.
Sayang, Natal kali ini kami tak lagi melakukan ritual itu. Saya dan Istri sudah kembali ke Indonesia dan tinggal di Jakarta. Sementara anak hidup sendiri dan kuliah di London.
βMahal. Biasanya 'kan Bapak yang bayar,ββ kata anak saya ketika terakhir kali kami berbicara lewat skype dan menanyakan apakah ia akan menonton bola seperti yang biasa kami lakukan di seputar Natal. ββDan lagi aneh kalau harus nonton bola tanpa Bapak dan Buah (panggilan anak saya untuk ibunya). Akan beda rasanya. Saya tak ingin mengganggu kenangan itu.β
Kalimat terakhir itu membuat ibunya berlinang air mata.
Selamat Natal dan Tahun Baru.
====
*Penulis pernah menjadi wartawan di sejumlah media dalam dan luar negeri. Sejak tahun 1997 tinggal di London dan sempat bekerja untuk BBC, Exclusive Analysis dan Manchester City. Penggemar sepakbola dan kriket ini sudah pulang ke tanah air dan menjadi Chief Editor CNN Indonesia. Akun twitter: @dalipin68
Β
(krs/a2s)











































