Pada suatu kesempatan, sepakbola juga menyaksikan bagaimana seorang Jose Mourinho yang bermulut pedas dan kerap memasang tampang tak ramah itu menangis di pelukan Marco Materazzi. Matrix pun tak kalah sedih dan tak kalah melankolisnya. Ia menyambut pelukan Mourinho dengan erat sebelum Mourinho melepasnya dan masuk ke dalam mobil. Yang satu adalah manajer dengan karakter keras, yang lainnya adalah bek tinggi besar dengan reputasi mirip tukang jagal.
Scene di luar final Liga Champions 2010 itu menggambarkan kedekatan keduanya --atau kedekatan antara Mourinho dengan para pemainnya di Inter Milan. Mourinho memang begitu. Dia tak hanya dikenal sebagai peracik taktik handal, tetapi juga memiliki kemampuan man management mumpuni. Dia bisa mengeluarkan kemampuan terbaik dari setiap pemainnya hanya dengan memberi pengaruh secara psikologis. Hasilnya bisa dilihat dari adegan di luar Santiago Bernabeu itu: kedekatan yang lekat dengan pemain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar satu dekade lalu --ya, sudah selama itu--, publik Old Trafford menyaksikan seorang pemuda kurus, berambut dengan untaian mirip benalu di berbagai sisi, dan mengenakan kostum nomor 7, memasuki lapangan mereka. Ketika itu, United menghadapi Bolton Wanderers. Pemuda itu kemudian mengundang decak kagum dengan skill-nya kelihaiannya menggiring bola. Belum pernah ada yang begitu di Old Trafford dalam beberapa waktu terakhir selain Ryan Giggs.
Cerita perkenalan antara Ronaldo dengan United itu akhirnya ditandai dengan satu tarikan baju dari Kevin Nolan. United mendapatkan penalti dan akhirnya berujung menjadi gol. United menang 4-0 pada pertandingan tersebut.
Bagi pendukung United, Ronaldo adalah sosok yang sulit untuk dibenci meskipun di musim terakhirnya dia terang-terangan menunjukkan sikap ingin berganti klub. Madrid, kata pemain asal Portugal itu, adalah salah satu klub impiannya sejak kecil. Perkataan seperti itu bak termaafkan jika mendengar cerita bahwa chant untuk Ronaldo masih kerap dikumandangkan di Old Trafford sampai hari ini.
Alasannya bisa jadi sederhana. Ronaldo adalah salah satu anggota skuat ketika United mendominasi Inggris pada kurun 2007-2009 dan mengantarkan mereka pada trofi Liga Champions ketiga sepanjang sejarah. Bersama United jugalah Ronaldo mendapatkan segalanya; gelar juara liga, Piala FA, Liga Champions, hingga Piala Dunia Antarklub dan Ballon d'Or. Dia tak ragu mengatakan masih memiliki banyak teman di Manchester dan tetap memanggil Sir Alex Ferguson dengan sebutan "bos".
Ada momen di mana Ronaldo adalah pemuda lugu yang baru datang dari Portugal, tak mengenal bahasa Inggris, yang bahkan untuk diwawancara saja ditemani Gary Neville, dan ada momen di mana Ronaldo adalah sosok perfeksionis sekaligus egois ketika berbaju 'Setan Merah'. Sifat perfeksionis itu disebut kerap terlihat tiap kali dia gagal memanfaatkan peluang dan keegoisannya kerap terlihat dari bagaimana dia enggan untuk mengikuti pergerakan lawan yang harusnya dia jaga.
Kegoisan dan ke-aku-an dari Ronald itulah yang kemudian membuat Ferguson kerap mengubah taktik untuknya. Ronaldo yang aslinya adalah winger, kerap diplot olehnya sebagai penyerang tengah. Hal ini kemudian acap memaksa Wayne Rooney atau Carlos Tevez bermain lebih mundur atau melebar, membiarkan Ronaldo mendapatkan free-role di lini depan.
Cerita yang paling terkenal dari mengubah taktik itu adalah ketika United menghadapi FC Porto dan Aly Cissokho pada 2009. Cerita itu kemudian akan dikenal sebagai kemampuan Rooney memainkan peran sebagai defensive winger yang membuat Cissokho mati kutu. Tapi, tahukah Anda bahwa sebelumnya, pada leg pertama pertemuan itu, Ronaldo-lah yang mendapatkan tugas sebagai winger dan mematikan laju Cissokho. Ronaldo tidak berhasil dan Cissokho merajalela. Di leg kedua, Rooney, yang punya kemampuan men-tracking lawan lebih mumpuni, melakukan tugasnya dengan baik dan Cissokho mati kutu.
Yang unik, keegoisan Ronaldo seperti itulah yang kerap dirindukan United selepas dia hengkang. Disukai atau tidak, sifat egois itu telah membuat Ronaldo kerap menjadi pembeda dalam setiap laga sulit yang dimainkan United. Dia adalah jimat --atau dalam bahasa sepakbola luar "talisman".
Kerinduan semacam itu jugalah yang memengaruhi sisi sentimental dari pertemuan antara United dan Madrid. Patrice Evra menyebut bahwa Ronaldo bakal emosional ketika kembali ke Old Trafford nanti, dan itu akan digunakan sebagai senjata untuk menghentikannya. Evra jelas tahu bahwa untuk menghentikannya memang tidak cukup dengan cara seperti itu. Namun, perkataannya cukup menggambarkan bahwa Ronaldo, sedikit atau banyak, masih dianggap menjadi bagian dari United.
Di Madrid, sisi egois itu kemudian dieksploitasi dengan kadar yang cukup oleh Mourinho. Ronaldo yang tadinya adalah winger murni kemudian berubah menjadi pencetak gol yang lebih tajam ketimbang masanya di United. Dia kerap mencetak gol dari dalam kotak penalti dan dari berbagai situasi, entah itu bola rebound atau penyelesaian akhir sederhana dari umpan yang masuk. Ronaldo yang winger itu bak berubah menjadi seorang poacher.
Sekarang, tinggal bagaimana United menyingkirkan sedikit sisi sentimental itu dan memikirkan bagaimana cara menghentikannya. Madrid memang bukan cuma Ronaldo, tapi Ronalo adalah salah satu ancaman terbesar. Tidak mematikannya adalah tindakan bodoh.
Beruntung bagi United dan Madrid, mereka menghadapi pertandingan di Santiago Bernabeu itu ketika mereka berada dalam level yang bagus. United baru saja membungkam Everton dengan performa impresif beberapa pemainnya, sementara Madrid menghantam Sevilla di mana Ronaldo mencetak hat-trick. Laga melawan Everton kemudian mengindikasikan bahwa ada kemungkinan Ferguson bakal kembali mengandalkan Phil Jones untuk mematikan pergerakan satu orang pemain.
Jones kerap mendapatkan tugas demikian. Dia pernah diminta untuk mengawal ketat Luis Suarez ketika United menghadapi Liverpool, dikirim lebih ke pinggir untuk membantu Rafael da Silva menghadapi Gareth Bale ketika menghadapi Tottenham Hotspur, dan terakhir ditugasi mematikan Marouane Fellaini ketika menghadapi Everton. Ferguson bisa saja menggunakan Jones untuk lebih melebar dan membantu full-back untuk mematikan Ronaldo --dengan anggapan jika Ronaldo bermain melebar dan membiarkan salah satu di antara Karim Benzema atau Gonzalo Higuain bermain sebagai penyerang tengah.
Tapi, bisa saja target utama untuk dimatikan lebih dulu bukanlah Ronaldo. Jika menilik ucapan manajer Borussia Dortmund, Juergen Klopp, seetelah timnya mengalahkan Madrid di Signal Iduna, maka targetnya bisa saja pemain lain. Ketika itu, Klopp menyebut bahwa yang diinginkannya pertama kali adalah mematikan Xabi Alonso. Membiarkan Alonso leluasa, berarti juga membiarkan Madrid berkuasa.
(roz/a2s)











































