"No mobility, no pace, nothing." Demikian salah satu review dari salah satu forum penggemar Manchester United usai tim kesayangan mereka menghadapi Shakhtar Donetsk di Liga Champions.
Padahal United menang pada laga tersebut lewat sebuah gol dari Phil Jones. Jika ini adalah United yang bisanya, yang kerap menang meski main jelek, mungkin bunyi dari review-nya tidak akan seperti itu. Tapi, musim ini United bukanlah United yang biasanya.
Roy Keane, eks kapten yang terkenal dengan mulutnya yang pedas itu, mengkritik habis permainan mantan timnya. Keane menyebut, tidak ada tekanan yang dilakukan pemain-pemain United terhadap lawan, passing-passing mereka mandek, dan pengambilan keputusan beberapa pemain buruk. Lebih jauh lagi, Keane melabeli Rio Ferdinand bermain layaknya pemain debutan dan Ashley Young banyak membuang peluang yang harusnya jadi gol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, ada fakta tak bisa dielakkan. Kendati bagus di Eropa, United jeblok bukan main di Premier League. Mereka sudah puasa menang untuk empat pertandingan berturut-turut. Dua yang terakhir bahkan berakhir dengan kekalahan. Entah apa jadinya jika United kalah tiga kali berturut-turut. Apakah keesokan paginya Moyes berani membuka pintu depan rumahnya dan memungut koran yang teronggok di atas keset?
Mudah untuk menunjuk siapa yang salah atas terpuruknya United. Moyes sendiri mengaku bertanggungjawab atas performa buruk di liga. Sebagai manajer, memang pasti dia yang paling pertama disorot ketika tim bermain buruk. Apalagi Moyes mewarisi tim yang jadi juara liga musim lalu.
Logika sederhananya, jika ini adalah tim yang menjadi juara musim, masa Moyes tidak bisa mengulang prestasi serupa dengan tim yang sama? Betul, tapi ingat, Moyes hanya mewarisi tim yang jadi juara, bukan tim yang benar-benar hebat apalagi sempurna.
Ada beberapa kesempatan pada musim lalu di mana United kerepotan. Ingat bagaimana United tidak melakukan pressing terhadap Manchester City hingga akhirnya mereka kalah di Old Trafford? Atau mungkin bagaimana Chelsea di penghujung musim menang di tempat yang sama? United memang jadi juara dengan selisih belasan poin, tapi bukan berarti skuat mereka tidak punya kelemahan.
Sialnya, tahu skuatnya tidak tangguh-tangguh amat, United malah gagal merombak ataupun menambah kekuatan di bursa transfer musim panas. Marouane Fellaini, yang dimaksudkan untuk jadi suntikan tenaga buat lini tengah, terbukti belum nyetel. Alhasil, United hanya tinggal tunggu waktu sampai Michael Carrick cedera untuk membuat lini tengah mereka bubar jalan. Ini kemudian benar-benar terjadi.
Kesalahan City di awal musim 2012/2013, yakni gagal memperkuat skuatnya, justru dilakukan United. Ketika tim-tim seperti Chelsea, Liverpool, dan City berbenah, United justru gagal menambah amunisi. Dengan skuat yang kelemahannya nyaris terekspos, dan kemudian gagal diperbaiki, jangan heran kalau saat ini United tertinggal dari tim-tim besar lainnya.
Β

Skuat United saat ini layaknya sebuah tim yang usang, yang berisi winger yang kerap tampil di bawah standar dan gelandang tengah yang sulit untuk diandalkan. Mereka juga minim melakukan pressing atau kesulitan kala di-pressing lawan. Ini membuat United bahkan terlihat lebih usang ketimbang tim-tim yang biasanya menghuni papan tengah seperti Newcastle United ataupun Everton.
Menyalahkan Moyes memang ada benarnya. Tetapi sepenuhnya menyalahkan Moyes, tanpa melihat fakta bahwa para pemain semodel Patrice Evra ataupun Nani dan Antonio Valencia kerap tampil di bawah form, rasanya juga keliru. Anda bisa melihat Evra berlari kecil ketika seharusnya dia kembali bertahan secepat mungkin, atau Nani yang banyak buang peluang ketika harusnya memberi suplai bola, atau mungkin Valencia yang crossing-nya lebih banyak membentur bek lawan ketimbang sampai di kepala teman.
Dalam catatan Sky Sports, ketika mereka kalah dari Everton dan Newcastle dalam dua laga terakhir, United tidak sekalipun menorehkan attempts ataupun attempts on target ketika sedang tertinggal satu gol. Bahkan, pada laga melawan Newcastle, mereka hanya membuat 93 passing di final third ketika sudah tertinggal 0-1. Dengan statistik demikian, sulit untuk membayangkan mereka bakal bisa meraih gol penyama kedudukan.
Beruntungnya Moyes, kendati banyak yang mengkritik habis dirinya, suporter lokal masih mendukungnya untuk bertahan. Dia disebut hanya butuh waktu untuk membangun timnya sendiri.
Ya, timnya sendiri.
Sejak mengambil alih kendali dari Sir Alex Ferguson, Moyes selalu menyebut bahwa dia memegang kontrol penuh. "Ini selalu menjadi tim saya sejak saya menggantikan Sir Alex," ucapnya. Dia juga menyanggah anggapan bahwa Ferguson masih punya kontrol atas skuat United.
Moyes sudah mencoba menancapkan otoritasnya dengan mengganti seluruh staf kepelatihan di tim utama, yang selama ini jadi kepercayaa Ferguson, dengan orang-orang yang menemaninya di Everton. Tidak ada lagi Eric Steele, yang membuat David De Gea berkembang, yang ada kini adalah Chris Woods sebagai pelatih kiper. Tak ada lagi Rene Meulensteen, yang ada kini adalah Phil Neville dan Jimmy Lumsden.
Tindakan Moyes, yang berniat merevolusi tim, tidaklah salah. Malah wajar. Hanya saja revolusinya berjalan dengan setengah-setengah.
Ketika Pep Guardiola datang ke Barcelona, dia tidak hanya meminta banyak asisten kepada pihak klub, tetapi juga membuang beberapa bintang dari skuat. Hasilnya, skuat dan staf Barca saat itu sepenuhnya seperti yang diinginkan Guardiola. Andai Barca yang dirombak total itu ujung-ujungnya gagal, Guardiola pun layak untuk ditunjuk sebagai satu-satunya bertanggungjawab.
Ketika Frank de Boer datang ke Ajax, dia menikmati struktur klub yang sudah dirombak sepenuhnya. De Boer datang dengan kondisi di mana para eks pemain seperti Dennis Bergkamp dan Marc Overmars kini duduk di jajaran staf pelatih dan direktur. Ini membuatnya bekerja lebih mudah. Dia juga menunjuk Hennie Spijkerman sebagai asistennya. Dengan adanya Spijkerman, De Boer bisa berkonsentrasi mengurus taktik, sementara Spijkerman menjadi trainer dalam latihan sehari-hari dan mengurusi man management pemain.
Dengan perubahan total, Guardiola dan De Boer pun leluasa. Alhasil, gelar juara mereka dapat pada musim pertama mereka menjadi manajer.
Moyes selama ini menyebut United berada dalam periode transisi. Sialnya, transisi pun tidak akan berjalan mulus tanpa ada kaitan erat dengan periode sebelumnya. Gampangnya, mau melakukan transisi pun Moyes melakukannya dengan tanggung.
City, sebagai contoh, juga mengalami transisi dari Roberto Mancini ke Manuel Pellegrini. Namun, sosok penting seperti Brian Kidd tidak didepak, melainkan dipertahankan. Kidd kini tetap menjadi asisten manajer, jabatan yang dipegang berdua dengan asisten manajer pilihan Pellegrini --yang sudah menemaninya sejak di River Plate--, Ruben Cousillas.
Cepat atau lambat, Moyes diprediksi akan membangun tim yang bergerak sesuai kemauannya sendiri. Dia butuh kontrol penuh, sebab kontrol jugalah yang membuat United begitu stabil di bawah arahan Ferguson selama lebih dari dua dekade terakhir.
Jika ingin merevolusi tim, Moyes memang tidak bisa melakukannya setengah-setengah. Revolusi yang berjalan setengah-setengah tidak akan ada artinya. Saya tidak ingat V dari V for Vendetta mengenakan topeng Guy Fawkes hanya untuk gaya-gayaan.
====
*penulis adalah wartawan detikSport. Akun Twitter: @Rossifinza











































