Piala Dunia sebagai Sebuah Adegan

Piala Dunia sebagai Sebuah Adegan

- Sepakbola
Selasa, 10 Jun 2014 11:24 WIB
Piala Dunia sebagai Sebuah Adegan
Getty Images/Clive Mason
Jakarta -

Jika sepakbola adalah sebuah film panjang, Piala Dunia adalah sebuah adegan kolosal di dalamnya. Layaknya sebuah adegan kolosal, Piala Dunia seakan punya ceritanya sendiri yang bakal menjalar dan berefek ke keseluruhan film.

Saya teringat pada suatu sore, di sebuah lapangan parkir berdebu dari sebuah gedung kosong di dekat perumahan kami, di mana belasan bocah berusia sekolah dasar menyepak-nyepak sebuah bola dari plastik. Saya adalah salah satu dari belasan bocah itu.

Tidak ada gawang, yang ada hanya pembatas dari dari sendal jepit yang kadang ukurannya bisa diubah-ubah sekena hati oleh si penjaga gawang. Ulah kurang ajar itu biasanya baru ketahuan jika pemain lawan mulai kesulitan bikin gol dan salah seorang anak menyadari, ukuran gawangnya makin lama makin kecil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak pula ada rumput. Lapangan parkir kosong itu hanya terdiri dari tanah dan debu. Kadang kami harus menghentikan permainan karena debunya mulai mengepul menghalangi pandangan dan membuat mata kelilipan. Ini sungguh tidak menyenangkan, tapi buat kami ketika itu ini adalah sebuah kemewahan.

Lapangan tidak berumput itu adalah satu-satunya "stadion" kami. Beberapa dari kami menyebutnya sebagai "Wembley". Sementara yang lainnya berkelakar dengan menyebutnya "Membley" --karena debu itu tadi, dan juga karena lapangannya tidak rata.

Ingatan ini timbul lagi di benak beberapa bulan silam ketika Pandit Football dengan isengnya membahas di ranah media sosial; seperti apa rasanya sepakbola ketika kita kecil dulu. Tentu, jawabannya beragam. Menggunakan sendal jepit sebagai pengganti gawang tentu banyak yang mengalaminya, begitu juga dengan bola plastik yang jadi penyok karena ada dua orang bocah saling beradu tendangan.

Biasanya jika bola itu sudah penyok dan tidak bisa dibetulkan lagi, pertandingan berakhir. Ya, bukan peluit panjang wasit yang mengakhiri pertandingan ketika kita kanak-kanak, melainkan bola yang penyok dan tak bisa dibetulkan lagi.

Jika sedang sial, bola plastik itu akan berakhir nahas masuk ke rumah tetangga --dan biasanya si tetangga akan keluar dengan marah-marah dan membelah bola plastik itu. Habis sudah.

Sepakbola pada masa kita kecil dulu jauh dari segala kerumitan. Kita tidak akan membicarakan bagaimana taktik Brasil sampai bisa menjuarai Piala Dunia 1994, yang kita tahu Romario jago dan Bebeto tidak kalah jago. Itu saja.



****

Layaknya Piala Dunia, kenangan bermain sepakbola semasa kecil itu adalah sebuah adegan. Sebuah adegan kecil. Adegan kecil yang tentu tidak bisa dipisahkan dari film itu sendiri karena ada banyak anak di dunia yang membawa-bawa bola dengan telanjang kaki dan menjadikan gang dekat rumah atau lapangan kosong sebagai stadion mereka.

Kita tidak pernah tahu berapa banyak dari anak-anak itu yang beranjak dewasa lalu jadi pesepakbola betulan. Sebagian mungkin melupakan mimpinya ketika beranjak dewasa; pergi kuliah, cari kerja, lalu duduk kerja kantoran. Sebagian lainnya, beranjak besar dan kini kita mengenalnya sebagai Neymar atau yang lainnya.

Beranjak dewasa sepakbola berubah jadi makin rumit. Kesenangan kita dalam menonton atau memainkan sepakbola mau tak mau jadi berubah. Jika dulu hanya terpana menyaksikan Romario membawa bola, kini kita jadi tertarik pada bagaimana caranya menghentikan pemain-pemain semacam dia. Bagaimana melakukan zonal marking ataupun pressing ketat.

Ini kemudian membawa kita pada adegan-adegan lainnya. Sepakbola membuat seorang bek bernama Andres Escobar ditembak mati karena bikin gol bunuh diri di Piala Dunia. Sepakbola juga membuat seorang gelandang bernama Andres Iniesta jadi pahlawan nasional karena lewat golnya-lah Spanyol untuk pertama kalinya jadi juara dunia --dan membuat tim Eropa untuk pertama kalinya jadi juara di luar benuanya sendiri.

Iniesta yang orang Albacete itu adalah gelandang milik Barcelona. Lewat sepakbola juga kita mengenal bahwa Barcelona adalah bagian dari Catalonia, yang dalam sejarah Spanyol akan selalu dikenal dengan usaha separatismenya. Kita mengenal klaim yang berbunyi "Catalonia is Not Spain" dan sebagainya. Lewat sepakbola, kita jadi mengenal politik rumit seperti ini.

Dalam buku karangan Jimmy Burns yang berjudul "La Roja: How Soccer Conquered Spain and How Spanish Soccer Conquered the World" diceritakan bagaimana kemenangan Spanyol di Piala Dunia 2010 memberikan dampak bagi sebagian kecil orang.

Burns bersumpah bahwa pada final antara Spanyol vs Belanda, beberapa orang temannya yang merupakan orang Catalonia dengan senang hati malah memakai kostum tim nasional Belanda. Burns juga menulis bagaimana salah seorang pemilik toko di Bilbao, Basque --yang juga terkenal dengan usaha separatismenya seperti Catalonia-- dipukuli karena memasang bendera Spanyol tak lama setelah La Furia Roja jadi juara dunia. Para pelakunya adalah orang-orang yang rupanya mendukung pemisahan Basque dari Spanyol.

Di luar itu, kita mendengar cerita bagaimana Piala Dunia di Afrika Selatan telah membawa keriangan kepada negara tersebut. Namun, pada kenyataannya, setelah Piala Dunia beberapa stadion yang baru dibangun justru membuat Afsel kesulitan untuk merawatnya.

Di Brasil, kita juga sudah mengetahui bagaimana banyaknya protes berlangsung menentang perhelatan Piala Dunia itu sendiri. Rakyat berteriak; untuk memberi makan mereka saja sulit, negaranya malah menggelar pesta gila-gilaan. Belum lagi cerita mengenai stadion-stadion yang terhambat pembangunannya.

Piala Dunia adalah pesta empat tahun sekali yang hanya diikuti oleh 32 negara, namun seluruh dunia ikut merayakannya. Kemeriahannya tidak hanya dirasakan oleh si negara penggelar, tetapi juga orang-orang di pelosok bumi. Andai Spanyol --atau tim manapun nanti-- yang jadi juara, bisa jadi yang merayakannya bukan hanya rakyat Spanyol. Tapi, orang-orang yang menggemari Spanyol di Indonesia sekalipun (bisa jadi) akan ikut bergembira.

Piala Dunia membuat orang rela keluar rumah malam-malam hanya untuk sekadar berkumpul bersama rekan di sebuah kafe, menikmati pertandingan bersama-sama, dan tidak jarang membuat satu atau dua taruhan kecil. Piala Dunia juga membuat warung-warung rokok di sudut jalan jadi tempat nonton bareng dadakan. Dengan sebuah televisi kecil dan ditemani beberapa bungkus kacang serta kopi hitam, jadilah nonton bareng murah meriah itu.

Piala Dunia adalah sebuah adegan kolosal. Sebuah adegan besar dari sebuah film yang teramat panjang. Jika sepakbola adalah 'Saving Private Ryan', Piala Dunia adalah adegan invasi Pantai Omaha yang menjadi pembuka dari film tersebut. Ingar bingarnya yang memekakkan telinga setara dengan adegan Kapten John Miller --yang diperankan Tom Hanks-- yang kupingnya pengang karena ada granat meletus di dekatnya.

Bagaimana pun Anda memandangnya; sebagai ajang pesta bola atau sebuah turnamen yang penyelenggaraannya makin lama makin egois, Piala Dunia itu akan terjadi --kurang dari seminggu lagi. Duduk, saksikan, telan, dan nikmatilah selagi Anda bisa.



====

*penulis adalah wartawan detikSport. Beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza



(roz/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads