Kecuali Anda adalah penggemar tim nasional Inggris, bisa jadi membayangkan Steven Gerrard mengangkat trofi Piala Dunia tinggi-tinggi adalah hal yang amat sulit.
Rasa-rasanya belum terlalu lama masa di mana Inggris Raya merajai dan menginvasi dunia lewat seni dan budaya berlalu. Walau, pada kenyataannya, masa itu sudah lewat dan sudah 14 tahun jauhnya dari masa sekarang.
Mereka yang tumbuh besar dan menjalani era 90-an akan mengenal era di mana Inggris Raya menginvasi dunia itu sebagai era "Cool Britannia". Era di mana segala hal yang berbau Inggris (Raya) terlihat keren. Era di mana orang-orang Inggris Raya bisa bertepuk dengan amat bangga bahwa mereka adalah bagian dari Inggris Raya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lewat para musisi, "Cool Britannia" juga membuat sweater, kaos oblong, hingga kacamata ber-frame tebal seolah-olah jadi barang yang wajib dimiliki. Mereka tidak lagi menunjukkan bahwa seorang bintang harus tampil extravagant dan mewah. Mereka merepresentasikan bintang sebagai orang biasa-biasa saja atau mewakili kelas pekerja.
Ini tidak mengherankan mengingat banyak musisi mereka, seperti halnya Liam dan Noel Gallagher, memang berasal dari kelas pekerja. Tidak sedikit lirik-lirik yang beredar pada saat itu menyindir kehidupan aristokrat masyarakat Inggris yang juga kolot.
Kebetulan juga, pada era yang sama seorang Perdana Menteri muda nan idealis bernama Tony Blair muncul. Kemenangannya bersama Partai Buruh menandai berakhirnya kekuasaan kubu Tory yang sudah berlangsung selama 18 tahun.
The Independent menyebut, ketika itu semua orang rela datang pagi-pagi untuk melakukan voting. Mereka juga rela terjaga sampai larut malam untuk melihat kemenangan buruh dan kejatuhan Tory. Mereka yang biasanya tidak peduli dengan pemilihan umum mendadak jadi bergairah. "A new dawn has broken, has it not?" kata Blair pada pidato pembukanya.
Singkat kata, era di mana "Cool Britannia" muncul adalah era penuh perubahan dan kesegaran untuk Inggris Raya. Segalanya tampak indah untuk mereka.
Pada era ini juga Inggris menghelat turnamen (sepakbola) besar terakhir di tanah mereka: Euro 1996. Kita mungkin mengingatnya sebagai turnamen di mana orang-orang Inggris menggembar-gemborkan slogan "Football Comes Home". Sepakbola pulang ke rumahnya.

Tentu, Inggris Raya bukan hanya berisi Inggris dan tim nasionalnya saja. Tapi --seperti halnya tim nasional Inggris--, tim nasional Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara tidak punya gaung yang terlalu besar di kancah internasional. Hanya saja, tim nasional Inggris adalah yang paling mending gaungnya.
Slogan "Football Comes Home" terkesan arogan itu jadi terlihat sah jika mengingat optimisme yang tengah mengitari Inggris Raya terkait invasi budaya dan seni itu ke seluruh dunia. Tapi, kita semua tahu, meski mereka mengklaim bahwa sepakbola pulang ke rumah, trofi juara tidak pulang ke rumah. Trofi juara digondol tamu yang mampir --dan sepakbola pulang ke rumah hanya sampai semifinal.
Dari situ, Inggris kemudian berkembang jadi tim yang diisi oleh banyak pemain yang bersinar di level klub, tapi dianggap medioker secara permainan. Pada masa sekarang, permainan The Three Lions dinilai kalah mentereng dibanding tim-tim seperti Jerman, Spanyol, Belanda, ataupun Italia.
Harapan sempat muncul ketika Sven Goran Eriksson mengambil alih pucuk pimpinan tim. Lewat tangannya, Inggris bermain dengan gaya yang disebutnya "pass and move". Toh, kendati ada perbaikan permainan, tetap saja Inggris gagal meraih kesuksesan.
Penyebab kegagalan mereka pun bermacam-macam, tapi utamanya Inggris kerap melempem begitu bertemu dengan tim yang di atas kertas punya level setara atau di atas mereka. Penyebab lainnya adalah hantu yang sudah menggentayangi mereka selama bertahun-tahun: Adu penalti.
Oleh karenanya, meskipun secara budaya dan seni mereka termasuk kategori "cool", sepakbola mereka --dalam hal ini tim nasionalnya-- termasuk dalam kategori "uncool". Dalam hal ini, Inggris beserta tim nasional-tim nasional lainnya di Inggris Raya sana masuk ke dalam label "Uncool Britannia".
Sialnya lagi, kali terakhir Inggris bermain di sebuah turnamen besar, mereka menunjukkan wajah yang teramat buruk. Menghadapi Italia di perempatfinal di Euro 2012, Inggris bertahan total. Statistik mencatatkan, persentase penguasaan bola Inggris ketika itu hanya 36%. Jumlah usaha untuk mencetak gol pun berbanding jauh. Jika Italia memiliki 35 attempts (20 on target) sepanjang 120 menit, Inggris hanya 9 (4 on target).
Laga yang sama juga memperlihatkan bagaimana seorang Andrea Pirlo dengan leluasa menguasai lini tengah dan mengatur permainan Gli Azzurri. Inggris sendiri tidak sepenuhnya mematikan Pirlo. Mereka lebih memilih menumpuk pemain dan bertahan di area sendiri.
Oleh karenanya, tidak heran jika jauh sebelum pertandingan melawan Italia di Piala Dunia 2014, Minggu (15/6) dinihari WIB, Roy Hodgson membocorkan keinginan untuk mematikan Pirlo. Pertanyaannya, siapakah yang bisa digunakan untuk mematikan Pirlo?
Pirlo pernah dibuat mati kutu ketika memperkuat AC Milan beberapa tahun lalu. Ketika itu, dalam laga melawan Manchester United, Sir Alex Ferguson menugaskan Park Ji-Sung untuk menjadi suffaco dan menempel ketat Pirlo sepanjang laga.
Sebagai catatan, Park bisa melakukan tugas tersebut karena selain memiliki stamina hebat, juga memiliki kedisiplinan tinggi.
Sugesti bahwa Wayne Rooney bisa melakoni peran serupa juga bisa dimengerti mengingat Rooney punya stamina dan kemampuan fisik yang mumpuni. Hanya saja, meski cukup oke dalam bertahan, dalam beberapa kesempatan, Rooney kerap alpa mengawal orang yang jadi tugasnya.
Tentu, buat Hodgson --dan juga Inggris--, ini bukan semata-mata bagaimana cara mematikan Pirlo dan mengalahkan Italia. Ini juga urusan memberikan kesan bagus. Permainan apik diikuti sebuah kemenangan bisa jadi sebuah batu loncatan untuk (sedikit) menghapus stigma, bahwa Inggris adalah tim medioker dan tidak keren.
Pertanyaannya lagi: Bisakah?

====
* penulis adalah wartawan @detikSport. Beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza
(roz/a2s)











































