Bisakah Belgia Memenuhi Ekspektasi?

Bisakah Belgia Memenuhi Ekspektasi?

- Sepakbola
Selasa, 17 Jun 2014 12:05 WIB
Bisakah Belgia Memenuhi Ekspektasi?
AFP/Martin Bureau
Jakarta -

Tidak salah jika Belgia jadi salah satu tim yang paling ditunggu di Piala Dunia kali ini. Penyebabnya, mereka punya individu-individu menarik di dalam skuat.

Mari kita tengok skuat Belgia dari penjaga gawang sampai lini depan: Thibaut Courtois dan Simon Mignolet sebagai kiper, lalu Vincent Kompany, Jan Vertoghen, dan Thomas Vermaelen di lini belakang, kemudian Axel Witsel, Steven Defour, Moussa Dembele, hingga Eden Hazard di lini tengah, serta Romelu Lukaku, Dries Mertens, hingga Kevin Mirallas di lini depan.

Rata-rata, pemain-pemain yang disebut di atas merupakan pemain utama di klub masing-masing. Kebanyakan dari mereka juga tampil bagus selama musim 2013/2014 dan beberapa di antaranya, seperti Courtois dan Kompany, berhasil membantu tim masing-masing menjuarai liga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika melihat hasil di kualifikasi Piala Dunia, makin besarlah ekspektasi untuk Belgia. The Red Devils --demikian mereka biasa dijuluki-- melalui 10 pertandingan dengan delapan kemenangan dan dua hasil imbang. Singkat kata, Belgia tidak terkalahkan di babak kualifikasi.

Dengan skuat yang ada saat inilah Belgia memutus catatan buruk. Sebelum ini, Belgia selalu gagal melangkah ke Piala Dunia ataupun Piala Eropa. Tercatat, setelah bermain di Piala Dunia 2002, Belgia gagal lolos ke Piala Dunia 2006 dan Piala Dunia 2010 serta Piala Eropa 2004, 2008, dan 2012.

Selasa (17/6/2014), Belgia akan kembali berlaga di Piala Dunia setelah 12 tahun lamanya absen. Aljazair akan menjadi lawan mereka kali ini. Pertanyaannya, bisakah Belgia memenuhi ekspektasi besar yang ada di pundak mereka?

Melihat lini serang, Belgia memang tidak terlihat mengkhawatirkan. Nama-nama seperti Hazard, Mirallas, dan Lukaku, bisa diandalakan untuk jadi penggedor. Di luar mereka, masih ada pemain berusia 19 tahun, Adnan Januzaj, yang siap melapis.

Lini tengah pun tidak kekurangan amunisi. Dembele dan Defour bisa diandalkan sebagai gelandang tengah. Sementara Witsel, bisa diplot sebagai gelandang tengah ataupun gelandang serang.

Bagaimana dengan lini belakang? Dengan adanya Kompany, bolehlah para pendukung Belgia bertenang diri. Masalahnya, Belgia dipenuhi oleh bek-bek tengah bagus, tapi minim full-back ciamik. Ini menyebabkan para pemain seperti Vermaelen ataupun Vertonghen --yang aslinya adalah bek tengah-- kerap dimainkan sebagai bek kiri.

Di antara Vermaelen dan Vertonghen, Vertonghen-lah yang dinilai paling pas untuk bermain sebagai bek kiri. Sebagai seorang bek, Vertonghen punya kemampuan menggiring bola yang mumpuni. Tidak hanya itu, dia juga punya kemampuan untuk melepaskan tendangan dari jarak jauh.

Dengan kemampuannya tersebut, Vertonghen dinilai mampu membantu Hazard dalam membangun serangan dari sisi kiri, sekaligus bertahan dan tracking back terhadap lawan.

Pemain Belgia sebagai Sebuah Tren

Dalam sebuah artikelnya di ESPN, Jonathan Wilson, penulis sepakbola yang terkenal dengan Inverting the Pyramid: A History of Football Tactics, menulis bahwa Belgia kini seperti Slovenia pada awal 2000-an. Ketika itu timnas Slovenia, dengan Zlatko Zahovic-nya, memang tengah naik daun. "Tiba-tiba (pemain) Slovenia menjadi seperti pashmina (semacam syal wool), semua orang harus memilikinya," tulis Wilson.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, Wilson ingin mengatakan bahwa punya pemain Slovenia di dalam tim adalah sebuah tren. Tak jauh dari Belgia seperti saat ini. Sebagai contoh, lihat saja ada berapa pemain mereka menyebar di Premier League, La Liga, dan Bundesliga Jerman.

Menariknya, seperti yang sudah dibahas di atas, kebanyakan dari mereka punya peran yang teramat penting di tim masing-masing. Courtois dan Mignolet adalah kiper utama di Atletico Madrid dan Liverpool. Keduanya dinilai sebagai kiper dengan kemampuan refleks bagus sehingga tidak jarang melakukan penyelamatan gemilang.

Hazard adalah bintang utama Chelsea saat ini. Kompany? Dia adalah kapten City. Ia punya peran penting di lini belakang dan terbukti punya kharisma sebagai pemimpin dengan pembawaannya yang tenang.

Belgia yang dulu sulit untuk berbicara banyak di kancah internasional kini seperti tidak kehabisan talenta. Tidak salah jika mereka yang menghuni skuat saat ini disebut sebagai bagian dari "Generasi Emas".

Tapi, sudah ada terlalu banyak "Generasi Emas" tim nasional yang akhirnya berujung jadi kegagalan. Portugal dulu juga punya Generasi Emas, kala mereka memenangi FIFA Youth Championships pada 1989 dan 1991. Nama-nama yang ada di dalam skuat itu sungguh menggiurkan; Vitor Baia, Sergio Conceicao, Luis Figo, Manuel Rui Costa, Paulo Sousa, Fernando Couto, Nuno Gomes, hingga Abel Xavier. Beberapa di antara mereka tenar di level klub, menjadi legenda, dan bergelimang gelar. Tapi, di level internasional? Nihil. Generasi Emas Portugal akhirnya pensiun satu per satu dari timnas tanpa pernah menyumbang gelar.

Masih ada contoh Generasi Emas lainnya, seperti juga yang dimiliki Inggris kala masih dilatih Sven Goran Eriksson. The Three Lions sempat punya permainan yang dilabeli pass and move dengan nama-nama seperti David Beckham, Rio Ferdinand, John Terry, Steven Gerrard, Gary Neville, Ashley Cole, dan Paul Scholes. Beberapa di antara nama itu sudah pensiun atau tidak dipanggil lagi. Inggris pun masih nihil prestasi, kendati yang tersisa dari sana masih berusaha mengais dan mengklaim kejayaan.

Dengan banyaknya pemain keturunan dan imigran, Belgia juga menyerupai Prancis ketika menjuarai Piala Dunia 1998. Inilah satu-satunya perumpamaan paling mirip antara Belgia dengan sebuah "Generasi Emas". Menyoal apakah nasib mereka bakal mirip juga, itu dilihat nanti.

Kita tentu ingat Prancis pada 1998 diisi oleh Zinedine Zidane (keturunan Aljazair), David Trezeguet (Argentina), Lilian Thuram (Guadaloupe), Christian Karembeu (Kaledonia Baru), Youri Djorkaeff (Polandia-Armenia), hingga Thierry Henry (Guadaloupe). Sedangkan Belgia berisi Marouane Fellaini (Maroko), Kompany (Kongo), Witsel (Martinique), Dembele (Mali), Nacer Chadli (Maroko), Lukaku (Zaire), hingga Januzaj (Kosovo-Albania).

Ini makin membuat hype tentang segala sesuatu berbau Belgia jadi naik. Namun, dengan kharisma dengan ketenangannya, Kompany mengingatkan dengan baik bahwa ini semua tidak akan ada artinya tanpa keberhasilan.

"Harga (pemain) dan potensi tak akan ada artinya sama sekali," kata Kompany.

====

*penulis adalah wartawan @detikSport. Beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza

(roz/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads