Klinsi, Jogi, dan Memori 'Dongeng Musim Panas'

Klinsi, Jogi, dan Memori 'Dongeng Musim Panas'

- Sepakbola
Kamis, 26 Jun 2014 13:31 WIB
Klinsi, Jogi, dan Memori Dongeng Musim Panas
Getty Images/Matthias Hangst
Jakarta -

Aku memulai dari apa yang sudah kami bangun; mungkin demikian kalimat yang tepat untuk menggambarkan bagaimana koneksi antara Joachim "Jogi" Loew dengan Juergen "Klinsi" Klinsmann.

Yang satu adalah pria dengan rambut hitam lurus, kelimis, beraut wajah sayu, dan tampak simpatik --yang membuatnya lebih mirip seperti manajer kantoran ketimbang pelatih sepakbola. Yang lainnya adalah pria dengan rambut pirang, sedikit acak-acakan, dengan raut wajah keras --membuatnya tidak hanya terlihat cocok jadi seorang pelatih, tetapi juga tampangnya amat sangat Jerman.

Si pria simpatik gemar keluar-masuk gerai-gerai fashion. Dia tidak hanya ingin rambutnya yang tampak kelimis, tapi juga ingin dandanannya terlihat penuh gaya. Entah itu kemeja gelap dengan lengan digulung dan kancing paling atas dibuka dua atau sweater berwarna ungu dengan lengan dinaikkan, pokoknya jangan sampai kalah dengan Pep Guardiola yang gayanya juga berkelas itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Si pria dengan raut wajah keras lebih sering terlihat dengan kaos polo berwarna putih ataupun training suit. Ah, pokoknya dia pelatih banget lah. Satu-satunya masa di mana dia terlihat rapi dan bergaya adalah delapan tahun silam, ketika dirinya berdiri di pinggir lapangan dengan kemeja putih rapi dengan lengan digulung. Kala itulah dia bertemu dengan si pria simpatik tadi.

Klinsi, yang waktu itu baru ditunjuk menjadi manajer tim nasional Jerman, dipertemukan dengan Jogi ketika dirinya membutuhkan seorang asisten, seseorang yang klop dan bisa menerjemahkan apa yang dia mau. Klinsi sendiri yang memilih Jogi. Meskipun trek rekor Jogi terbilang biasa-biasa saja di dunia kepelatihan, pada akhirnya dia terbukti sebagai pilihan yang tepat. Ketika itu, keduanya memimpin Jerman tampil impresif pada Piala Dunia 2006 di kandang sendiri.

Awalnya, penunjukan Klinsi dan Jogi sebagai pelatih dan asisten memang dipertanyakan. Apalagi, Klinsi sendiri bukan pilihan utama. Ketika itu, federasi sepakbola Jerman memilih nama-nama yang lebih senior seperti Ottmar Hitzfeld dan "King" Otto Rehhagel. Hitzfeld akhirnya menolak karena ingin beristirahat dari melatih, sementara Rehhagel --yang baru mengantarkan Yunani menjuarai Piala Eropa 2004-- memilih untuk setia dengan kontraknya bersama Hellas.

Akhirnya, dipilihlah Klinsi, calon paling buntut. Tentu penunjukan ini bukan tanpa kontroversi. Beberapa orang seperti Franz Beckenbauer dan Lothar Matthaeus --yang hubungannya memang tidak pernah akur dengan Klinsi-- mengritiknya terang-terangan. Matthaeus bahkan tidak henti-henti menyorot kekurangan timnas Jerman lewat kolomnya di Bild.

Tapi, performa di lapangan akhirnya membuat sunyi semua kritik itu. Beckenbauer yang tadinya keras akhirnya melunak, dan bahkan memuji, ketika melihat penampilan Jerman di tangan Klinsi. Die Mannschaft yang pada Piala Eropa 2004 dinilai sebagai tim tua yang minim inovasi diubah Klinsi menjadi tim yang gesit dan cepat dengan passing-passing brilian. Permainan menyerang Jerman itu akhirnya memenangi hati pendukung sendiri.

"Dia mengubah banyak hal," kata Oliver Bierhoff di The Guardian. Bierhoff, di Piala Dunia 2006 ketika itu, jadi bagian dari staf pelatih Klinsi.

Dengan brilian, Jerman menyapu seluruh laga di fase grup dengan kemenangan. Mereka kemudian menyingkirkan Swedia di babak 16 besar dan Argentina di perempatfinal. Prediksi dari kalangan sendiri yang menyebut, Jerman paling-paling hanya maju sampai perdelapanfinal berhasil dipatahkan.

Di babak semifinal, Jerman berjumpa Italia. Seakan-akan sudah jadi klise bahwa sebagus apa pun Jerman, tapi kalau sudah bertemu Italia akan kalah juga, Michael Ballack dkk. kalah 0-2. Gol dari Fabio Grosso dan Alessandro Del Piero di extra time membuat Jerman harus puas "hanya" tampil di perebutan tempat ketiga.

Kendati gagal, publik Jerman tetap mengapresiasi penampilan tim nasionalnya. Ketika akhirnya mereka menaklukkan Portugal 3-1 di perebutan tempat ketiga, pujian tidak berbatas dialirkan kepada Klinsi.

Pria yang kini berusia 49 tahun tersebut dianggap sudah mengangkat martabat bangsanya sendiri lewat sepakbola. Lebih dari itu, Klinsi juga dinilai telah mengangkat dan memperbarui reputasi tim nasional Jerman. Tapi, Klinsi mengakhiri cerita indah yang di Jerman sana dikenal sebagai "Dongeng Musim Panas" ini dengan meletakkan jabatan. Dia memilih mundur dan tongkat estafet pun diberikan kepada Jogi, asistennya.

Pembawaan Klinsi yang memang asyik dan gemar memperkenalkan hal-hal baru --berkebalikan dengan raut wajahnya yang keras dan kaku itu-- memang tidak selamanya membawa perubaha positif. Ambil contoh ketika dia menangani Bayern Munich pada 2008. Segala perubahan yang dibuatnya malah mengganggu mesin Bayern yang sudah berjalan dengan semestinya.

Tapi, tidak ketika dia menangani Amerika Serikat. Klinsi kembali dianggap membawa perubahan positif. AS, yang bukan negara sepakbola, kini sedang berada dalam fase terkaget-kaget melihat perhelatan akbar seperti Piala Dunia. Dalam beberapa hal, dikisahkan bagaimana para penggemar sepakbola di AS sekarang sampai mengenakan syal tim sepakbola ke mana-mana. Di tengah animo besar ini, Klinsi berdiri.

Dia bahkan turut ambil bagian dalam kampanye tim nasional AS untuk meminta dukungan penuh kepada seluruh rakyat. Tengok saja di media sosial, di mana timnas AS getol mengkampanyekan "One Nation One Team". Baru-baru ini, Klinsi dan timnas AS membuat sebuah kampanye unik berupa sebuah surat izin untuk para karyawan yang ingin menyaksikan AS berlaga.

Surat itu, tentu saja, ditujukan untuk bos-bos dari para karyawan itu. Isi suratnya memohonkan agar para bos tersebut mengizinkan anak buahnya mendukung AS karena tim mereka akan menghadapi laga hidup-mati melawan Jerman, yang kini dipimpin oleh Jogi.

Entah apa yang akan dikatakan Klinsi ketika bertemu Jogi lagi kala kedua tim bertemu di Recife, Kamis (26/6/2014). Yang jelas, Klinsi boleh berbangga melihat kondisi tim nasional negaranya sendiri saat ini; dari yang tadinya hanya berisi pemain-pemain tua dan minim regenerasi ketika dia mengambil alih, menjadi tim dengan darah segar yang bermain atraktif.

Konon, Klinsi juga yang meminta kepada federasi sepakbola Jerman, DFB, untuk mensosialisasikan gaya main yang dia inginkan kepada tim-tim di Bundesliga. Tujuannya jelas, siapapun pemain yang bakal dia panggil ketika itu, mereka sudah terbiasa bermain dengan gaya yang dia inginkan lantaran sudah melahapnya sehari-hari bersama klub masing-masing. Tentu, peran DFB yang mengharuskan setiap klub untuk mulai memerhatikan akademi masing-masing juga ikut berperan dalam regenerasi tim nasional Jerman.

Apa pun itu, Klinsi dan Jogi kini bisa bertepuk bangga melihat kedua tim masing-masing. Mungkin, si pria beraut wajah keras dan si pria simpatik itu bisa sedikit mengingat perjalanan mereka selama membuat "Dongeng Musim Panas" tadi.

====

*penulis adalah wartawan @detikSport. Beredar dengan akun @Rossifinza di dunia maya



(roz/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads