'Inception' a la Louis van Gaal

'Inception' a la Louis van Gaal

- Sepakbola
Sabtu, 16 Agu 2014 16:26 WIB
Inception a la Louis van Gaal
Man United via Getty Images/John Peters
Jakarta -

Pernah Louis van Gaal berucap, "Ajax is het teams van de toekomst!" Jika ada sifat yang paling menonjol darinya, selain arogan dan keras kepala, itu adalah kepercayaan diri.

Ucapan itu jika jika diartikan kira-kira berbunyi: "Ajax adalah tim masa depan!". Sudah lama sekali Van Gaal mengucapkan kalimat itu, ketika dia masih menangani Ajax. Van Gaal punya keyakinan besar bahwa tim mudanya waktu itu bisa mendominasi Eropa.

Bersama Ajax, yang dilatihnya selama enam tahun, Van Gaal sukses menjuarai Eredivisie sebanyak tiga kali dan bermain di final Liga Champions sebanyak dua kali. Salah satunya berakhir dengan tim yang diisi mayoritas pemain muda itu keluar sebagai juara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara, oleh La Gazzetta dello Sport, Van Gaal pernah disebut sebagai sosok yang teramat detil. Dia kerap terlihat membuat catatan dan coret-coretan di pinggir lapangan --entah apa yang dicoret-coretkannya-- dan memajang tampang serius. Gazzetta menyebut Van Gaal mirip dengan Arrigo Sacchi: njlimet.

Njlimet-nya (atau detilnya) Van Gaal juga terlihat dari bagaimana dia mengajari para pemain Manchester United mengarahkan tendangan pada saat pramusim. Ryan Giggs juga pernah menceritakan bagaimana Van Gaal pernah menggelar pertemuan dengan pemain pada pukul 11 malam hanya untuk mempelajari set piece AS Roma.

Hanya dengan persiapan yang matang Van Gaal percaya sebuah pertandingan bisa dimenangi. Ambil contoh bagaimana dia menyiapkan timnya untuk fokus kepada satu orang, yakni Javi Fuego, sebelum pertandingan ujicoba melawan Valencia. Alasannya sederhana, Fuego sebagai gelandang bertahan adalah awal dari semua serangan Valencia. Dialah yang biasa menerima bola dari lini belakang, sebelum akhirnya membagi bola ke pemain lain.

Dalam laporannya di Eurosport, Andy Mitten menulis bahwa Fuego tidak sempat tidur sebelum laga melawan United di Old Trafford itu. Istrinya melahirkan sehingga dia harus terlebih dulu menunggui proses persalinan itu sebelum menyusul teman-temannya terbang ke Manchester. Toh, meski tidak tidur, Fuego terbukti tampil cukup oke pada laga perdana Van Gaal di Old Trafford tersebut.

Ke-keukeuh-an Van Gaal untuk strict pada apa yang sudah dipersiapakn saat latihan telah membuatnya menjadi sosok yang amat metodikal. Untuk itulah dia tidak hanya punya scout di dalam tim pelatihnya, tetapi juga seorang penganalisis video --yang digunakannya tidak hanya untuk memantau permainan lawan, tetapi juga pergerakan tim sendiri pada saat latihan.

Oleh karenanya, tak peduli Fuego belum tidur atau belum beristirahat sekalipun, jika dia dimainkan, Van Gaal akan meminta pemain-pemainnya untuk fokus pada Fuego.

Tidak jarang, sifat strict ini membuat Van Gaal seperti punya realita sendiri di benaknya. Jika para pemain atau fans puas dengan kemenangan 2-1 atas Valencia itu, dia berkata sebaliknya: Justru itulah permainan terburuk United selama pramusim. Tidak jarang pula ini membuatnya berdebat dengan media pada saat konferensi pers.

Manakala timnya kalah, sudah barang tentu ada kritik yang bakal menyebut timnya bermain dengan jelek. Van Gaal mungkin akan menerima kenyataan bahwa timnya kalah, tapi menyebut timnya bermain jelek adalah urusan lain. Jika dia melihat bahwa para pemainnya telah menjalankan apa yang dia instruksikan dengan baik, bukan tidak mungkin dia justru menyebut timnya bermain bagus.

====

"Running is for animals. You need a brain and a ball for football."

Meski amat percaya pada pola, persiapan, dan taktik, Van Gaal tidak percaya bahwa sebuah tim bisa memenangi laga hanya dengan sebuah taktik semata. Harus ada persiapan menyeluruh juga dari sisi teknik pemain.

Ucapan bahwa berlari asal-asalan bukanlah bagian dari permainan sepakbola di atas adalah buktinya. Bagi Van Gaal, harus ada motif tertentu yang melatari pergerakan dari sebuah tim atau seorang pemain.

Jangan heran jika selama pramusim mulutnya selalu berucap mengenai pentingnya pemain-pemain United memahami filosofi permainannya. Bagi Van Gaal, yang menggerakkan seorang pemain di lapangan bukanlah semata-mata otot tetapi juga benak dan kondisi psikis. Dia yakin kondisi di luar lapangan juga bisa ikut berpengaruh pada permainan.

Maka, jangan heran ketika dulu dia pernah meminta pemainnya untuk tidak lagi nongkrong bareng jurnalis atau --yang terbaru yang diterapkannya di United-- adalah meminta para pemainnya makan siang bersama. Tujuannya sederhana: untuk membangun kekompakan. Anggaplah ini klise, tapi hal klise inilah, menurutnya, yang berhasil membawa skuat Belanda yang biasa-biasa saja melaju sampai semifinal di Piala Dunia 2014.

"Kemampuan terbaik saya adalah saya bisa menambah 10% ekstra dari kemampuan seorang pemain. Tapi, saya hanya bisa melakukannya jika semua orang bergerak dengan pikiran yang sama," ujar Van Gaal dalam sebuah tulisan milik Michiel De Hoog di Decorrespondent.

Van Gaal seperti seorang guru yang meminta muridnya untuk banyak-banyak membaca buku. Bukan supaya murid-muridnya bisa menulis dengan baik, melainkan supaya murid-muridnya memiliki pemahaman dan pemikiran yang tajam dan mendalam akan sesuatu. Jika si murid sudah punya pemahaman dan pemikiran yang mendalam, dengan sendirinya dia akan bisa menulis dengan bagus.

Van Gaal juga tak ubahnya tokoh Dominick Cobb dalam Inception. Dalam film karangan Christopher Nolan tersebut, Cobb adalah orang yang biasa menyelinap ke alam bawah sadar seseorang untuk menanamkan ide-ide tertentu. Kelak, ketika orang itu terbangun, dia akan bergerak sesuai dengan apa yang sudah ditanamkan di alam bawah sadarnya itu.

Jika Anda mendengar pemain-pemain United terlebih dulu dicekokinya dengan berbagai macam pelajaran mengenai filosofi, percayalah itu bisa jadi benar. Van Gaal adalah pelatih yang percaya akan sebuah proses. Seperti yang sudah dikatakan di atas, taktiknya hanya akan berjalan jika para pemainnya sudah memiliki pemikiran yang seragam dengannya.

Ini jadi terasa masuk akal jika melihat Ashley Young, yang tampil amburadul sepanjang musim kemarin, mendadak berubah jadi oke selama pramusim.

====

Van Gaal boleh jadi adalah sosok yang amat rumit kalau urusan taktik dan permainan di atas lapangan. Namun, menyebutnya sebagai sosok yang kaku dan tidak mau mendengar pendapat lain, bisa jadi adalah hal yang salah.

Contoh teranyar adalah bagaimana dia mengubah formasi 4-3-3 Belanda menjadi 3-5-2 begitu Kevin Strootman cedera dan dipastikan tidak bisa tampil di Piala Dunia. Van Gaal mendapatkan ide tersebut tidak lama setelah menyaksikan laga Feyenoord beberapa bulan silam.

Kelonggaran dan kelugasan Van Gaal dalam mengubah formasi ini memudahkannya beradaptasi di United. Van Gaal adalah penyuka 4-3-3 tulen, namun dia cukup fleksibel untuk mengubahnya sesuai dengan kondisi tim --meski pada intinya dia akan tetap mengandalkan tiga orang gelandang di lini tengah. Di Barca dia juga pernah menerapkan formasi 3-3-3-1 karena menurutnya itulah formasi yang paling cocok dengan kondisi skuat yang ada.

Baru-baru ini, Van Gaal mengatakan bahwa kualitas skuat yang dimiliki United bukanlah yang terbaik. Ucapan ini menimbulkan dugaan bahwa formasi 3-5-2 yang dia pasang selama pramusim adalah kompensasi dari keterbatasan kualitas yang dia miliki.

Andai skuat United dianggapnya sudah memiliki kualitas kelas satu, bukan tidak mungkin --kemungkinan pada musim depan-- United akan digerakkannya dengan formasi 4-3-3.

Uniknya, dengan menerapkan formasi tersebut, dia tidak hanya memperbarui (dan memodernkan) permainan United secara taktikal, tetapi juga mempertahankan tradisi yang dimiliki klub. Bukan rahasia apabila United adalah tim yang amat mengandalkan permainan dari sayap. Oleh karena itu, menarik mengamati permainan para wingback United musim ini; bisakah mereka membantu serangan sekaligus melakukan tracking back untuk membantu pertahanan?

====

*penulis adalah wartawan detikSport. Beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza



(roz/mrp)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads