Mainlah dengan Gembira, Dik

Mainlah dengan Gembira, Dik

- Sepakbola
Jumat, 10 Okt 2014 12:54 WIB
Mainlah dengan Gembira, Dik
(Robertus Pudyanto/Getty Images)
Jakarta -

Maafkanlah kami yang tua-tua ini, Dik. Ketika kami punya harapan yang kelewat tinggi, kami terpaksa menggelayutkannya di pundak kalian.

Tentu ini bukan salah kalian juga, Dik. Anggap saja ini sudah jadi tulisan nasib. Kalian lahir di tempat di mana hasrat soal permainan itu muncul begitu menggebu-gebu. Tapi, untuk mencari kebanggaan di antara hasrat yang menggebu-gebu itu, amat sangat sulit. Tulisan nasib juga yang akhirnya menyiratkan bahwa kebanggaan itu ada di dalam diri kalian.

Kami sudah mencari segala cara untuk mereguk kebanggaan, Dik, namun tak kunjung berhasil. Sampai kaki kami lemah dan suara kami habis, apa yang kami harap-harap tidak kunjung berhasil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tentu, ada rasa malu tersendiri ketika kami yang tua-tua ini mulai gagal, mulai hilang akal dan putus asa untuk mencari kebanggaan. Di saat itulah, Dik, kami berpaling pada kalian.

Di tempat ini, yang ada hanyalah kelesuan demi kelesuan. Kami yang tua-tua ini seakan-akan tidak pernah belajar bagaimana menghindar dari kelesuan yang tidak berkesudahan. Mungkinlah otak kami yang sudah tua-tua ini sudah kelewat bebal dan tumpul untuk belajar. Tapi, tidak dengan kalian.

Anggap saja begini, Dik: Semakin tua seseorang, semakin dekat dia dengan atap yang akan digapainya. Makin tua seseorang, makin dia tumbuh, makin sadar pula dia dengan batas-batasnya.

Ini membuat pikiran yang tua-tua seperti kami ini, Dik, menjadi lebih rumit. Pikiran-pikiran yang kelewat rumit itulah yang biasanya membuat kami jadi malas. Melihat yang susah sedikit, kami jadi enggan. Tapi, tidak dengan kalian.

Begini, Dik. Tubuh-tubuh muda kalian masih bisa bertambah besar lagi. Atap-atap kalian masih jauh. Batas-batas itu masih belum terlihat. Benak kalian setidaknya masih belum terkena tuba. Belum ada pikiran rumit atau keenggan-keengganan yang tidak masuk akal.

Untuk itu, Dik, bebaskanlah. Bermainlah... Bermainlah dengan penuh kegembiraan.

Permainan itu, main bola namanya. Simak betul-betul dua kata yang saling bergandengan itu: main bola. Main dan bola. Perhatikan betul-betul kata pertamanya: main. Dari kata itu, kita sudah tahu maknanya, bahwa main adalah sesuatu yang dilakukan untuk menyenangkan hati. Untuk bersenang-senang.

Untuk itu, bersenang-senanglah. Ingatlah debu-debu di lapangan butut yang mungkin pernah kalian jarah dengan kaki-kaki telanjang. Atau mungkin bola-bola plastik yang kerap penyok karena kaki kalian saling beradu satu sama lain.

Main bola itu memang begitu, diawali oleh keriaan dan diselipi oleh kegembiraan. Dan untuk kalian, Dik, kami harapkan akan tetap begitu seterusnya.

Bermainlah untuk kesenangan hati. Bukan kesenangan hati kami, melainkan kesenangan hati kalian sendiri.

Silakan lupakan harapan yang kami gelayutkan di pundak kalian itu. Kalian tidak bertanggungjawab apa-apa kepada kami yang sudah tua ini. Malahan, kamilah seharusnya yang bertanggungjawab kepada kalian yang masih piyik ini. Kamilah yang seharusnya membangun jalan untuk kalian, dan bukan sebaliknya.

Jikalau kebanggaan itu nantinya berhasil didapatkan, silakan klaim sesuka hati kalian. Reguk puas-puas. Kami mungkin akan mencicipinya sedikit, itu pun kalau boleh.

Kebanggaan, Dik, jika kalian bisa menggapainya, akan jadi sesuatu yang layak kalian kenang-kenang. Akan jadi cerita yang mungkin tidak akan habis kalian bagi-bagi sampai kalian menua kelak.

Tapi, untuk saat ini, bebaskanlah pundak. Entengkanlah langkah kaki. Jikalau di lapangan ini kalian tertunduk, ingatlah bahwa masih ada banyak lapangan lainnya. Ingatlah bahwa masih ada banyak lapangan di luar sana yang menunggu untuk dijamah kaki-kaki kalian.

Ingatlah bahwa atap itu masih jauh dari jangkauan, batas-batas itu masih jauh dari penglihatan kalian.


====

*penulis adalah wartawan detikSport. Beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza

(roz/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads