Pertandingan melawan Uni Emirat Arab besok tak cuma menjadi laga terakhir Indonesia di Piala Asia U-19 2014, tapi juga "perpisahan" bagi sepasukan anak muda bernama "Timnas U-19".
Setelah kalah dari Australia kemarin, Indonesia dipastikan tersingkir di turnamen Piala Asia U-19, karena di laga pertama skuat "Merah Putih" juga menelan kekalahan (dari Uzbekistan).
Duel melawan UEA hari Selasa (14/10) besok hanya akan menentukan posisi terakhir Indonesia di Grup B. Jika menang, mereka akan finis di urutan ketiga, tapi kalau seri apalagi kalah, predikatnya adalah juru kunci.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Timnas U-19 sendiri, pertandingan besok bisa terasa lebih emosional. Karena tak ada turnamen lagi di depan mata, dan awal tahun depan mereka tak lagi di level U-19, maka hampir bisa dipastikan inilah laga terakhir selama kebersamaan mereka.
Semenjak menjuarai Piala AFF U-19 dan lolos kualifikasi Piala Asia pada September dan Oktober 2013, Evan Dimnas dkk. total memainkan 35 pertandingan ujicoba, plus satu laga yang tidak selesai karena lampu stadion mati (di Balikpapan).
Selama itu pula, bahkan sebutan "Timnas U-19" telah menjadi semacam "kosakata" baru dalam kamus sepakbola Indonesia. Tidak pernah sebelumnya sebuah tim junior lebih terkenal daripada timnas senior. Harus diakui, "Timnas U-19" telah menjadi sebuah fenomena tersendiri dalam sejarah persepakbolaan di tanah air.
Tim ini pernah memberi kesenangan tersendiri pada masyarakat, dengan mempersembahkan sebuah piala di level Asia Tenggara, dan juga saat mengalahkan Korea Selatan di kualifikasi Piala Asia, dengan permainan mereka yang penuh gelora dan gegap gempita.
Tim ini juga lekas digandrungi karena tindak tanduk para pemainnya simpatik. Mereka ramai-ramai bersujud di lapangan sesuai bikin gol, atau mencium tangan pelatihnya, dan lain-lain. Senyum-tawa dari wajah-wajah khas remaja.
Ketika pulang ke kampung halaman masing-masing, para pemain menjadi pahlawan setempat. Mereka berkunjung ke sekolah, bertemu teman-teman sejawatnya. Media-media massa mengikuti mereka saat pulang ke rumah, memperkenalkan para orangtuanya ke publik. Dari situ masyarakat melihat latar belakang para pemain Timnas U-19, yang sebagian besar dari lingkungan keluarga yang sederhana.
Dulu, tim ini begitu diwanti-wanti supaya tidak "tercemar" dalam iklim sepakbola Indonesia yang masih penuh carut-marut. Makanya, banyak yang kemudian menyarankan supaya tim ini tidak dipecah, tidak dulu dikembalikan ke klub-klub asalnya dan diasah lewat kompetisi lokal.
"Jangan sampai mereka biasa berkelahi dengan sesama pemain," begitu salah satu kekhawatiran tersebut. Menjadi dilema buat anak-anak muda itu, padahal medium terbaik untuk mengasah kemampuan bermain adalah terlibat dalam kompetisi rutin di klub.
Alhasil, kepada tim ini diprogramkan training camp jangka panjang, hampir setahun penuh. Puluhan pertandingan ujicoba dibuatkan untuk "Garuda Muda". Ironisnya, mereka bilang, Timnas U-19 tak sekadar dibiasakan bertanding, tapi juga sekaligus dijual, karena puluhan pertandingan tersebut bernilai miliaran rupiah, dalam bentuk hak siar stasiun televisi.
Besok, sepak terjang Timnas U-19 mungkin akan berakhir, karena habis itu anak-anak muda itu akan menapak ke jenjang (usia) berikutnya, dan juga melanjutkan kariernya (entah di mana dan seperti apa). Tapi cerita dan kenangan tentang sebuah "Timnas U-19" pernah hadir di sini.
====
* Akun twitter penulis: @sururi10
(a2s/roz)











































