Setelah Kegagalan U-19: Belajar Memperlakukan Harapan

Setelah Kegagalan U-19: Belajar Memperlakukan Harapan

- Sepakbola
Kamis, 16 Okt 2014 14:45 WIB
Setelah Kegagalan U-19: Belajar Memperlakukan Harapan
detikSport/Grandyos Zafna
Jakarta -

Sungguh unik ketika kegagalan sebuah tim junior seperti Indonesia U-19 memantik banyak reaksi. Banyak hal dibahas, berbagai sisi pun disorot setelah kegagalan tersebut. Tapi tak akan ada tanaman yang tumbuh subur jika tanahnya memang sudah gersang dari sananya.

Pada hari Minggu (12/10/2014) lalu, Timnas U-19 menelan kekalahan yang tidaklah telak dari Australia, hanya 0-1. Tapi efek yang didapat dari kekalahan itu lebih telak dari angka yang tertera di papan skor. Anak-anak asuhan Indra Sjafri itu harus melupakan angan-angan mereka untuk main di kancah yang lebih besar, yakni Piala Dunia U-20.

Kegagalan, sesungguhnya, adalah hal yang biasa dilihat di sepakbola Indonesia. Dari tahun ke tahun, para suporter sudah terbiasa melihat tim nasional gagal dari satu turnamen ke turnamen lain. Tapi, ironisnya, makin sering sebuah kegagalan terjadi, bukan makin surut harapan. Justru sebaliknya, makin sering gagal, makin sering pula seseorang berharap-harap.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini yang kemudian jadi pangkal mengapa ekspektasi kepada Evan Dimas dkk. jadi membumbung tinggi. Sejak memenangi Piala AFF U-19 tahun lalu, Timnas U-19 memang terlihat berbeda. Permainan operan satu-dua sembari diiringi kecepatan pemain sayap dan crossing mendatar ke arah lini kedua jadi ciri khas. Ini membuat mereka tidak terlihat seperti tim dari Indonesia.

Sebagai sebuah bangsa yang terbiasa melihat kegagalan, agak-agaknya kita menjadi kelewat sensitif. Diberi sedikit harapan seperti itu, tergodalah kita untuk kembali menggantung angan-angan tinggi-tinggi. Timnas U-19 dijadikan bahan bakar kendaraan untuk membawa kita menuju harapan yang tak kunjung digapai.

Harapan dan ekspektasi sesungguhnya adalah hal yang intangible --tidak berbentuk, tidak berwujud--, dan oleh karenanya tidak bisa dibendung dan ditahan-tahan. Harapan dan ekspektasi tiap orang pun berbeda. Oleh karenanya, mengharapkan tiap orang untuk tidak berharap besar kepada Evan Dimas dkk. adalah hal yang sulit.

Saya sendiri menganggap bahwa jalan karier para pemain Timnas U-19 masih amat panjang. Mereka masihlah bocah yang bahkan menginjak bangku kuliah saja belum. Maka, saya tidak berharap tinggi-tinggi mereka bisa melaju sampai Piala Dunia U-20. Kalau bisa melaju syukurlah, kalau tidak ya sudah.

Toh, amat jarang ada timnas junior di dunia diharapkan langsung meraih prestasi. Kalau mereka berhasil, maka itu bagus. Kalaupun mereka gagal, maka yang dilakukan adalah mereka akan digembleng lagi. Tidak akan ada gunanya berhasil di level junior, tapi setelahnya tidak dibina dalam atmosfer yang baik dan ujung-ujungnya malah tak jadi apa-apa di level senior.

Tapi, mengharapkan semua memiliki jalan pikiran dan ekspektasi yang sama dengan saya adalah hal yang mustahil. Karena, ya itu tadi, harapan dan ekspektasi, adalah sesuatu yang tidak bisa dibendung. Adalah hal yang menggelikan jika akhirnya justru saling menyalahkan ekspektasi dan harapan orang lain sebagai sebab dari gagalnya Timnas U-19.

Anggap saja begini: Jika tiba-tiba muncul seorang bocah yang bisa melakukan berbagai hal yang tidak bisa dilakukan orang dewasa, wajar orang-orang di sekelilingnya akan langsung memberikan pujian. Sebuah hal yang lumrah. Lumrah pula bila bocah itu mencuri perhatian banyak orang.

Adalah kewajiban orang tua sang bocah untuk melindunginya dari berbagai sorotan dan pujian orang-orang di sekelilingnya. Jika yang dilakukan si orang tua kemudian adalah makin mengumbar kemampuan si bocah, memuaskan hasrat orang-orang yang memujinya tadi, jangan heran jika si bocah malah jadi jenuh dan akhirnya keemasannya memudar.

Harapan dan ekspektasi memang tidak bisa dibendung dan diatur-atur. Tapi, kita masih bisa belajar bagaimana memperlakukan harapan.

Belajar memperlakukan harapan tersebut memang tidak mudah. Ada banyak faktor di dalamnya. Kegagalan Timnas U-19 sendiri tidak semata-mata karena faktor ekspektasi saja. Ada faktor taktikal, ada pula faktor kultur yang berkembang di Indonesia secara keseluruhan.

Simak bagaimana situs Pandit Football membahas detil mengenai kegagalan Timnas U-19 secara taktikal. Salah satu yang bisa digarisbawahi adalah ciri khas bermain Timnas U-19 yang sudah disebutkan sebelumnya: Permainan operan satu-dua sembari diiringi kecepatan pemain sayap dan crossing mendatar ke arah lini kedua. Sialnya, ciri khas itu selamanya jadi ciri khas yang tanpa variasi dan tanpa progress.

Tentu, untuk menyalahkan para pemain Timnas U-19 atas kegagalan taktik itu adalah hal yang tidak masuk akal. Ada orang-orang yang lebih bertanggungjawab untuk urusan taktik.

Di luar itu, masih ada pula urusan teknis. Indonesia memang bukan negara yang sejak akar menerapkan penempatan posisi dan cara mengoper yang baik dan benar sebagai idola. Di sini, seringkali yang dijadikan idola adalah mereka yang bisa menggiring bola lama-lama dan punya skill ciamik. Anggapannya, yang seperti itulah yang jago. Padahal, penempatan posisi dan cara mengoper yang baik dan benar adalah hal yang sesungguhnya lebih penting.

Faktor lainnya? Kultur masyarakat itu sendiri. Total Football dianggap lahir dari daya khayal dan jiwa seni bangsa Belanda. Sebagai sebuah bangsa, Belanda kerap menghasilkan sesuatu sebagai solusi dari keterbatasan. Mereka membuat bendungan untuk mengakali lahan yang kebanyakan berada di bawah garis laut. Bangunan-bangunan di kota Amsterdam dibuat meninggi, bukan melebar, untuk mengakali keterbatasan lahan.

Kemampuan Belanda untuk mencari solusi telah melatih daya khayal mereka tadi dan membuat mereka jadi lebih kreatif. Pemikiran-pemikiran liberal pun dianggap lahir dari sini. Total Football adalah perwujudan pemikiran liberal dan kreatif itu; penyerang tidak selamanya bertugas menyerang dan pemain bertahan tugasnya tidak melulu bertahan. Semua bisa punya tugas yang sama.

Indonesia? Kita tentu tahu bagaimana carut marutnya kehidupan sehari-hari, di mana kerapihan dan keteraturan adalah sesuatu yang amat mewah. Mulai dari seenaknya parkir di pinggir jalan, sampai berteduh di bawah jalan layang adalah sesuatu yang bisa kita temui dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari.

Dengan kondisi yang carut-marut itu, jangan heran jika Indonesia sulit membangun sebuah sistem yang rapi --termasuk di lapangan hijau. Ketidakteraturan kompetisi dan cara didik dalam bermain sepakbola membuat pemain sulit berkembang, entah itu secara taktikal maupun teknikal.

Oleh karenanya, jangan heran jika kita kemudian selalu menemui kegagalan demi kegagalan. Untuk menumbuhkan sebuah harapan dan menjaganya (memperlakukannya) dengan baik, memang harus lebih dulu menggemburkan tanahnya.

====

*penulis adalah wartawan @detikSport. Beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza

(roz/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads