Kembali ke Timnas Senior

Kembali ke Timnas Senior

- Sepakbola
Senin, 17 Nov 2014 10:20 WIB
Kembali ke Timnas Senior
detiksport/rengga
Jakarta -

Semoga "kakak-kakak" tidak tersinggung ketika pamor mereka sempat diredupkan oleh adik-adik yang bernama Timnas U-19. Kini, bola kembali ke tangan timnas senior: mampukah menjuarai Piala AFF.

Sulit juga dibayangkan kalau saja timnas U-19 berhasil lolos ke semifinal Piala Asia bulan lalu, dan itu berarti mereka meloloskan Indonesia ke Piala Dunia U-20. Sementara, ketika mereka menjadi sensasi dan fenomena saat memenangi Piala AFF U-19 2013 dan mengalahkan Korea Selatan untuk menembus putaran final Piala Asia, seketika terminologi "timnas" di Indonesia adalah "Timnas U-19".

Tapi mereka sudah selesai -- dan tidak memenuhi ekspektasi tinggi yang (apa boleh buat) telanjur dibebankan ke pundak anak-anak remaja itu. Ketika Evan Dimas dkk. tidak berbicara banyak di Myanmar, itu berarti tak ada piala lain yang mampir ke markas sepakbola Indonesia, sebagaimana melulu itu yang diharapkan sebagian masyarakat sepakbola kita.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ekspektasi itu kini beralih lagi ke timnas senior, setelah timnas U-23 juga hanya mencapai babak 16 besar di pentas Asian Games 2014. Maka pertanyaannya adalah, apakah kali ini timnas (senior) mampu menjadi yang terbaik di level Asia Tenggara, level yang oleh banyak kalangan dianggap masih merupakan realitas level kita, bukan Asia apalagi dunia.

Sindiran bahwa PSSI tidak bisa "move on" dari sosok Alfred Riedl sekarang sudah tidak penting lagi. Riedl sudah di sini lagi, sudah melatih skuat "Garuda" lagi, seperti ketika ia membawa Irfan Bachdim dkk. meluapkan nasionalisme yang massif di kalangan suporter (timnas) Indonesia di Piala AFF 2010.

Kita tahu, betapa hebohnya timnas kala itu. Gelora Bung Karno selalu penuh jadi lautan merah, jersey timnas dijual di mana-mana, berderet-deret dari toko yang orisinal sampai "KW" di pinggir-pinggir jalan. Saking hebohnya, timnas itu sampai dibawa pula ke rumah ketua umum sebuah partai politik.



Riedl tak bisa dipungkiri berhasil mengangkat reputasi timnas kala itu, walaupun dia tidak sampai memberikan gelar juara melainkan cuma predikat runner up. Ia sampai-sampai direkrut lagi di tahun 2012, ketika masih terjadi "dualisme" organisasi dan "timnas". Riedl kala itu mau saja menukangi timnas versi KPSI (Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia).

Itulah sebuah "petaka" lain dalam sejarah sepakbola Indonesia. Menjelang Piala AFF 2012, Indonesia punya dua "timnas". Timnas yang resmi, yang dilatih Nil Maizar, terpaksa mencari pemain-pemain baru karena para langganan timnas dilarang KPSI untuk membela negaranya sendiri. Hanya satu pemain yang berani menentang: Bambang Pamungkas.

Bepe pun memimpin "adik-adiknya", yang bermain di klub-klub Indonesian Premier League (IPL), di Piala AFF 2012. Dari situ mencuatlah sosok-sosok Andik Vermansah, Vendry Mofu, Rasyid Bakri, M. Taufiq, dan Samsul Arif. Irfan juga masih ada, plus pemain naturalisasi lain: Raphael Maitimo dan Tonnie Cusell.

Hasilnya? Indonesia tidak berhasil melewati putaran pertama. Di Stadion Nasional Bukit Jalil, Indonesia bermain 2-2 dengan Laos, menang 1-0 atas Singapura, dan kalah 0-2 dari tuan rumah Malaysia. Andik cs. menduduki peringkat ketiga di Grup B dan gagal lolos ke babak semifinal.



Setelah itu, tak ada lagi cerita tentang timnas yang menarik untuk didengar, sampai muncul kisah timnas U-19 setahun silam. Dan kini kisah seru itu sudah selesai.

Bola ada di tangan timnas senior lagi, dengan Alfred Riedl lagi, dengan sejumlah pemain yang pernah tampil di Piala AFF 2010 seperti Ahmad Bustomi, Zulkifli Syukur, Firman Utina, M. Ridwan, M. Robby, dan Cristian Gonzalez. Variasi ceritanya adalah keberadaan Evan Dimas, kembalinya Sergio van Dijk, dan Boaz Solossa. Materi pemain tentu saja berubah, karena 2010 dan 2012 bukanlah 2014.

Yang tidak berubah hanya satu. Publik Indonesia selalu ingin melihat timnasnya bisa menjadi yang terbaik, cukup di Asia Tenggara dulu. Celakanya, kita belum pernah bisa menjuarai Piala AFF, sejak pertama kali dihelat di tahun 1996.

Ini adalah kesempatan berikutnya.


===
* Penulis adalah redaktur pelaksana detiksport. Akun twitter: @sururi10

(a2s/nds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads