Cerita dari 'Negeri Tanah Emas'

Cerita dari 'Negeri Tanah Emas'

- Sepakbola
Minggu, 23 Nov 2014 12:28 WIB
Cerita dari Negeri Tanah Emas
Getty Images/Ye Aung Thu
Jakarta -

Liga sepakbola di Myanmar mulai menunjukkan perbaikan dalam beberapa tahun belakangan. Jangan heran jika tim nasional U-19 mereka belakangan menanjak atau nantinya tim senior tampil bagus di Piala AFF 2014. Kompetisi sepakbola di 'Negeri Tanah Emas' itu memanglah sedang berbenah.

Tahun 1996 tercatat menjadi awal dimulainya liga sepakbola di Myanmar. Namanya Myanmar Premier League (MPL). Liga ini berjalan selama 13 tahun sampai kemudian berakhir pada tahun 2009.

Mengingat kondisi politik Myanmar saat itu, maka klub-klub peserta liga pun juga bukan tim sembarangan. Sejak tahun 1962 hingga 2011, Myanmar ada dalam pasungan penguasa yang otoriter. Yang paling parah adalah junta militer sejak 1997 hingga 2011. Mengingat situasi itu, sebagian besar berkandang di Yangon --ibukota Myanmar sebelum pindah ke Nay Pyi Taw, dan merupakan milik kementerian pemerintah serta hanya beberapa klub swasta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kurun waktu tersebut, tim nasional Myanmar pun seakan sulit berprestasi. Mereka tak pernah meraih piala, bahkan di ajang regional Asia Tenggara. Raihan terbaik Myanmar hanyalah menjadi semifinalis Piala AFF pada tahun 2004.

Myanmar National League Jadi Era Baru

Selepas MPL, ada liga baru di Myanmar. Liga masuk ke era profesional dengan nama Myanmar National League (MNL). Ketika itu, tahun 2009, menjadi musim pertamanya.

Pada gelaran pertamanya, MNL diikuti oleh delapan klub baru. Klub itu merupakan klub swasta yang berdiri bersamaan dengan bergulirnya musim pertama kasta tertinggi sepakbola negara yang terkenal dengan batu gioknya tersebut.

Sejauh enam musim MNL berjalan, dua klub jadi penguasa: Yangon United dan juga Yadanarbon FC. Keduanya sama-sama tiga kali berhasil menjadi juara MNL.

Saat gelaran Piala Asia U-19 di Myanmar pada bulan Oktober lalu, detikSport mempunyai kesempatan untuk menengok salah kandang Yangon United. Kebetulan, tim nasional Indonesia U-19 berlatih di kandang Yangon United, Yangon United Sports Complex.

Jangan bayangkan kandang Yangon United itu adalah stadion megah. Jika Anda pernah datang ke stadion Surajaya, Lamongan, kandang Persela Lamongan yang berkapasitas 15.000 orang itu jauh lebih besar. Kapasitas Yangon United Sports Complex hanya 3.500 orang.

Kendati demikian, klub yang kini dibesut oleh Eric Williams itu mempunyai kandang lain, yakni Bogyoke Aung San Stadium, Yangon, dengan kapasitas 40.000 orang.

Ada satu kesan positif yang didapat saat detikSport menengok kandang Yangon United. Klub mempunyai satu visi dalam mencari dana sebagai sumber penghidupan.



Lapangan tempat Yangon United berlaga, disewakan untuk umum ketika sedang tak digunakan. Beberapa orang ekspatriat bersama warga Myanmar tampak mencari keringat dengan bermain sepakbola. "Kami memang biasa menyewa dan bermain di sini," ucap salah seorang ekspatriat dari perusahaan telekomunikasi yang sedang membangun jaringan di Yangon.

Tak cuma itu, toko merchandise pun juga ada. Ukurannya tak besar memang, cuma sekitar 6x6 meter. Tapi, barang yang dijajakan memang cukup lengkap. Dari jersey, celana tim, kaos kaki, mug, hingga gantungan kunci.

Sponsor pun juga tak ketinggalan. Sebuah perusaahan apparel dari Thailand, Grand Sport, dan juga Asia Green Development Bank (AGD), setia menjadi penyokong sejak klub ini berdiri tahun 2009 tersebut.

Satu penghargaan juga diberikan oleh para warga Yangon saat ada seseorang yang memakai jersey resmi klub. "Jersey resmi Yangon United. Bagus-bagus," ucap salah seorang yang melihat detikSport mengenakan jesey Yangon United di salah satu jalan di sekitar Sule Pagoda.

Wajar jika klub-klub di Myanmar harus kreatif untuk mencari dana untuk bisa hidup. Obrolan dengan seorang sopir taksi, Aung San, bisa menjawab pertanyaan itu.

"Di Myanmar, kami tak bisa berutang, tak ada yang namanya pinjaman. Semua harus dibayar dengan uang tunai. Kartu kredit juga tidak diizinkan oleh pemerintah," ujar pria yang pernah merantau ke Malaysia itu.

Mendengar cerita itu, wajar jika tak ada kabar mengenai pemain MNL yang harus menderita karena gaji yang ditunggak oleh pihak klub. Cerita tragis pemain asing seperti Diego Mendieta pun tampaknya tak terdengar dari sana. Semua gaji dibayar cash, tunai, tak boleh utang.



Pembinaan Usia Muda Juga Tak Diabaikan

Timnas Myanmar U-19 sukses besar dalam di ajang Piala Asia bulan Oktober lalu. Tak cuma dalam penyelenggaraan --meski diwarnai dengan invasi suporter ke lapangan--, tapi mereka berhasil mewujudkan mimpi untuk berlaga di Piala U-20 di Selandia Baru tahun depan.

Kesuksesan itu ternyata tak didapat dengan mudah. Pembinaan usia dini menjadi kuncinya. Klub-klub di Myanmar diwajibkan oleh federasi sepakbola Myanmar (MFA) mempunyai tim junior dari kelompok umur di bawah 10 tahun.

Anak-anak itu akan 'naik kelas' tiap dua tahun dengan jenjang kompetisi U-20 yang sudah dirintis sejak tahun 2010.

Untuk menunjang pembinaan itu perbaikan sarana pendukung pun juga dilakukan. Kebetulan, Myanmar juga masuk dalam daftar negara tempat berlangsungnya Goal Project yang dirintis FIFA sejak 2001. Mandalay, Yangon, dan Nay Pyi Taw, menjadi tiga kota yang menjadi pusat pembangunan infrastruktur itu.

Sisi infrastruktur menjadi titik fokus proyek FIFA itu dengan alokasi dana sebesar 66 persen. Sementara itu, pembinaan usia muda mendapat jatah alokasi 11 persen, sedangkan sisanya dibagi untuk liga dan pengembangan sisi teknis termasuk perwasitan dan juga sepakbola wanita.

Dengan pola pembinaan seperti itu, Myanmar sudah memberikan alarm untuk negara-negara mapan di Asia Tenggara bahwa sepakbola mereka sudah menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.

Bukan tidak mungkin para pemain Myanmar yang akan berlaga di Selandia Baru tahun depan itu akan berprestasi saat dipercaya turun di ajang SEA Games 2017 yang akan berlangsung di Malaysia.

Kini, timnas senior Myanmar sedang berlaga di Piala AFF 2014. Menarik untuk dinantikan, apakah mereka bisa menorehkan catatan bagus seperti junior-juniornya. Apalagi, mereka kini ditangani oleh Radojko Avramovic, pria yang pernah tiga kali mengantarkan Singapura menjuarai Piala AFF.



====

*penulis adalah wartawan detikSport. Beredar di dunia maya dengan akun @LucasAditya

(cas/roz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads