Sepakbola dan Nikmatnya Nasi Goreng di Hanoi

Catatan dari Vietnam

Sepakbola dan Nikmatnya Nasi Goreng di Hanoi

- Sepakbola
Selasa, 25 Nov 2014 13:28 WIB
Sepakbola dan Nikmatnya Nasi Goreng di Hanoi
detikSport/Rifqi Ardita
Hanoi -

Sepakbola tak lagi sekadar permainan dan aksi di lapangan hijau. Lebih dari itu, sepakbola seringkali menjadi pencerahan. Sepakbola mengantarkan saya pada sebuah negeri baru, Vietnam. Piala AFF 2014 yang menjadi pijakannya.

Bisa mengiringi perjuangan tim nasional Indonesia secara langsung di negeri tetangga adalah sebuah kehormatan. Dari sana pulalah terhampar kesempatan untuk merentangkan wawasan. Di negeri orang, kita bisa melihat secara langsung situasi sosial, memahaminya, lantas menjadikannya tolok ukur terhadap tanah air kita.

Karena datang dengan pijakan sepakbola, maka sudah sepatutnya hal pertama yang perlu dilakukan adalah melihat dengan bingkai sepakbola. Dan kesan pertama yang muncul atas Vietnam adalah warganya yang seolah tak acuh dengan pesta bola Asia Tenggara tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sehari sebelum laga antara Vietnam kontra Indonesia berlangsung, survey kecil-kecilan membawa saya pada hasil yang cukup mengherankan. Lima dari lima orang Vietnam mengindikasikan tak terlalu peduli dengan timnasnya.

Bahkan gaungnya juga tak terlalu terasa di media-media lokal. Hal yang tentu sangat berbeda dengan di Indonesia.

Di Indonesia, tak pernah ada ampun untuk sepakbola. Sebagai penggemar, kita rasanya selalu berlomba-lomba mengasah kegilaan. Terlepas dari ikatan rasa nasionalisme untuk negara, diakui atau tidak, ada darah panas yang meletup-letup di sebagian masyarakat kita jika bicara permainan ini. Sementara media beradu keganasan mengeksploitasi setiap sisi.

Dari suporter, selalu ada kisah-kisah heroik mereka yang menempuh perjalanan jauh untuk mendukung timnya, dengan modal seadanya dan kenekatan yang sebesar-besarnya. Nonton bareng di mana-mana, penjual seragam diburu ke segala penjuru. Yang paling terasa adalah selalu ada optimisme sekalipun timnas Indonesia tak sanggup bicara banyak di level internasional selama kurun beberapa dekade terakhir.

Di Vietnam, kegilaan semacam ini bisa dibilang tak terasa. Faktanya, memang tak terlihat ada upaya membangun atmosfer ke arah sana. Jelang laga perdana timnasnya, sejumlah media Vietnam bahkan tak secara mendalam mengupas timnya, mengulas calon-calon lawan, atau menonjolkan kuantitas berita soal turnamen ini. Beberapa sekadar memberi sambutan kecil, bahkan ada yang justru bersikap cenderung sarkastis dengan mengangkat tema pengaturan skor dan perjudian yang memang tengah ramai di sepakbola Vietnam dan mengaitkannya dengan Piala AFF.

Tapi pada prosesnya, fakta-fakta tersebut sedikit gugur dengan sendirinya ketika hari pertandingan tiba. Vietnam ternyata memang antusias dengan sepakbola. My Dinh Stadium awalnya memang tampak sepi, bahkan sampai setengah jam sebelum laga. Namun perlahan-lahan penuh kendatipun beberapa sektor masih kosong.



Sepanjang laga mereka tak henti-henti meneriakkan yel-yel. Pada satu momen mereka kompak beramai-ramai menyalakan ponsel dan mengangkatnya ke udara, membentuk sebuah pemandangan yang menakjubkan.

Menariknya, meski menunjukkan fanatisme sedemikian rupa di stadion, pendukung Vietnam juga benar-benar tahu cara memperlakukan lawannya. Misal, ketika lagu Indonesia Raya hendak dikumandangkan, mereka menyambutnya dengan tepuk tangan dan selama lagu diputar mereka benar-benar memberikan ruang untuk Indonesia. Tak ada siulan, "huu", atau tindakan-tindakan lain yang sifatnya melecehkan. Begitupun saat lagu usai, dengan penuh respek mereka bertepuk tangan. Beberapa sikap positif lain juga ditunjukkan para suporter Vietnam. Seperti saat sang kiper melakukan blunder yang menggagalkan kemenangan di menit ke-84. Sempat tampak rasa kaget, tapi mereka segera bertepuk tangan untuk menyemangati si pemain.



Entah bagaimana, para pendukung Vietnam terasa ada di level lain dalam mendukung tim. Di satu sisi mereka memang tak terlalu baik membangun atmosfer jelang laga, tapi di dalam stadion mereka tak kalah panas dari suporter Indonesia selama ini. Di satu titik mereka tampak 'dingin', tapi di titik lain mereka juga mampu menunjukkan kehangatan.

**

Berbeda dengan Indonesia, Vietnam atau tepatnya Hanoi relatif nyaman cuacanya di bulan-bulan ini. Saat siang rata-rata temperatur udaranya berkisar 30 derajat sementara saat malam turun jadi sekitar 25 derajat. Jika di Indonesia ini adalah bulan-bulan musim hujan, di Vietnam sedang memasuki musim dingin.

Dengan suhu seperti ini, bekerja atau sekadar mau jalan-jalan di pusat kota sungguh nyaman rasanya. Apalagi masyarakat Hanoi dikenal tak nakal dan tak suka kekerasan. Hampir tak pernah ada insiden yang tak mengenakkan, selain supir taksi abal-abal yang mencurangi uang tol. Tapi itupun terjadi karena saya nekat memakai taksi yang tak jelas.

Satu-satunya ketidakamanan saat berkeliling Hanoi barangkali adalah lalu lintasnya yang sangat berantakan. Pejalan kaki, motor, mobil saling ambil jalan. Untuk seorang turis yang pertama kali ke Vietnam, dijamin terkejut dengan situasi lalu lintasnya.

Tapi waktu akan mengajarkan pada Anda bahwa ternyata lalu lintas Vietnam tak semengerikan itu. Meski berantakan, jika diamati tak ada yang ugal-ugalan dan ngebut di negeri ini. Ada kekacauan dalam berkendara, tapi secara individu mereka tahu mengontrol diri untuk tak ngebut dan tahu kapan menginjak rem.

Menariknya, tak terasa ada panas emosi di jalanan negeri ini. Kalau di Indonesia seringkali Anda mendapati seseorang mengumpat seseorang lainnya di jalanan, di Vietnam pemandangan serupa tak pernah terlihat. Satu-satunya yang berbunyi hanya klakson dan rasanya tak ada muatan kebencian yang diungkapkan si pengendara dalam klaksonnya. Mimik mereka tetap datar, tanpa melotot atau mengangkat dagu. Penduduk Vietnam benar-benar tahu fungsi klakson.

Hal lain yang mungkin 'mengganggu' adalah hawa dingin membuat perut cepat lapar. Sayangnya, sebagai negara yang mayoritas bukan muslim, maka tak banyak warung halal di negara ini. Belum lagi bicara soal kehidupan di Hanoi yang praktis berhenti sejak jam 10 malam. Lewat dari jam 10 dan berniat mencari asupan gizi? Bersiaplah susah payah kelaparan menyusuri sebuah kota 'mati'. Ada beberapa gerai makanan cepat saji, tapi rasanya kerap kurang memenuhi selera. Nasi yang keras, bumbu yang kurang nendang, dan jangan lupa, hampir tak ada yang buka 24 jam.

Ini jadi tantangan tersendiri. Hanya butuh tak lebih dari dua hari sampai saya merindukan rumah makan padang, warteg, atau nasi goreng. Nyatanya, rata-rata hampir semua wartawan Indonesia kesulitan soal makanan, apalagi yang beragama Islam. Seperti anekdot, lidah memang tidak bisa berbohong.

Beruntung satu hari kami mendapatkan undangan dari kedutaan besar Indonesia untuk Vietnam. Kebetulan kedutaan sedang membuka stand di acara Hanoi International Women's Club, atau semacam acara ibu-ibu PKK. Pesertanya diikuti ekspatriat-ekspatriat dari seluruh dunia yang tinggal di Hanoi.

Saat tiba di stand Indonesia, segera kami disambut hangat duta besar Indonesia untuk Vietnam, Bapak Mayerfas dan istri juga rekan-rekannya. Makin terasa hangat karena saat itu stand tengah membakar sate, yang dalam sekejap saja ludes diserbu.

Beberapa tak kebagian, termasuk saya. Tapi tak berselang lama seorang staf kedutaan tiba membawa sekotak nasi goreng panas. Langsung saja kami berlesehan menikmati suap demi suap nasi goreng yang tak cuma mengusir lapar, tapi juga membuat kami untuk sejenak lupa tanah air di sana.

Semua ini ulah sepakbola.

====

*penulis adalah wartawan detikSport yang sedang meliput Piala AFF 2014 di Vietnam. Beredar di dunia maya dengan akun @EkiArdito.

(raw/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads