Sehari setelah Natal, pesta berpindah dari rumah-rumah yang berpenghangat ke lapangan-lapangan di tengah udara yang nyaris beku. Semangat untuk bergembira berpindah dari meja-meja makan ke tribun-tribun.
Ada makna dan tafsir terselubung di balik pertandingan-pertandingan digelar pada Boxing Day. Bagi masyarakat Inggris, Boxing Day menggemakan semangat perayaan dari Natal serta semangat komunal dan kebersamaan yang biasa dibagi antara sesama pendukung tim sepakbola.
Di sisi lain, Boxing Day seakan-akan jadi penegasan sepakbola sebagai alegori dari dua hal: agama dan pesta. Sudah sejak lama sepakbola diibaratkan sebagai agama --oleh karenanya kerap diutamakan dan tidak bisa diganggu gugat-- dengan pemain di lapangan adalah imam yang diagung-agungkan. Sudah sejak lama pula sepakbola diidentikkan dengan pesta. Uniknya lagi, Boxing Day memang digelar sehari setelah hari raya keagamaan yang diperingati dengan gegap gempita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semangat pada Boxing Day itu kemudian menjalar ke mereka yang asing dengan kebiasaan tersebut. Untuk para pemain dan manajer asing, misalnya. Kebiasaan berlibur pada periode Natal sampai tahun dan berkumpul bersama keluarga kini tak lagi ada. Mereka justru harus bekerja keras karena dalam tempo tiga hari, mereka harus bertanding dua kali.
Meski merasa asing, pada akhirnya para pemain dan manajer itu akhirnya ikut tergugah setelah satu kali merasakan atmosfer pada Boxing Day. Ambil contoh Mauricio Pochettino. Tradisi Boxing Day tidak ada di Argentina ataupun di negara lain tempat dia mencari nafkah dari sepakbola --entah itu Spanyol ataupun Prancis. Tapi, begitu merasakannya, dia mengaku terkejut sekaligus terkesima.

Pochettino menyebut periode sibuk setelah Natal hingga tahun baru itu sebagai sesuatu yang gila. Namun, dia senang melihat banyak orang datang berbondong-bondong untuk mendukung tim kesayangannya.
"Ini bakal jadi sesuatu yang gila, mengingat banyaknya pertandingan dalam satu periode yang pendek. Tapi, aku pikir ini bakal jadi waktu yang pas untuk orang-orang berkumpul, datang ke stadion sebagai satu keluarga," ucapnya.
Jose Mourinho lain lagi. Dengan gayanya yang "seperti biasa" (baca: penuh kepercayaan diri), dia menyebut pertandingan di Boxing Day adalah waktunya bagi-bagi kado untuk para pendukung. Kadonya apalagi kalau bukan kemenangan. "Aku bangga bisa bekerja di Boxing Day dan bisa memberikan apa yang mereka inginkan," kata Mourinho.
Kendati demikian, tidak semua manajer juga senang dengan periode sibuk seperti itu. Sir Alex Ferguson, ketika masih menjadi manajer Manchester United, sudah sejak lama menyerukan winter break dengan alasan itu adalah saat yang pas untuk pemain beristirahat dan berkumpul bersama keluarga masing-masing. Untuk pemain yang cedera pun, itu disebutnya sebagai waktu yang pas untuk memulihkan diri.
Pelatih United saat ini, Louis van Gaal, juga sama herannya dengan pertandingan yang digelar pada periode Natal dan tahun baru. Saking herannya dengan tradisi bertanding sehari setelah Natal, Van Gaal sampai mendobrak tradisi klub sendiri. Tidak ada latihan ringan pada hari Natal. Para pemain diberikannya libur untuk berkumpul dengan keluarga, istri, dan anak masing-masing.
Ada alasan tersendiri di balik berubahnya kebiasaan klub itu sendiri. Sebagai pelatih, Van Gaal percaya bahwa baik dan buruknya seorang pemain ditentukan oleh hidup si pemain sebagai manusia seutuhnya. Dia percaya bahwa dirinya bisa memberikan 10% ekstra kemampuan lebih dengan memengaruhi benak si pemain. Oleh karenanya, dia memberikan libur pada hari Natal untuk para pemainnya semata untuk --dalam bahasanya-- menjadikan pemainnya manusia seutuhnya --bisa berbahagia dan berkumpul dengan keluarga masing-masing.
Meski tidak senang, tentu saja Ferguson dan Van Gaal tidak bisa berbuat apa-apa. Keduanya tetap harus menuntut pemain-pemainnya tampil spartan di tengah udara yang nyaris beku dan mendulang poin. Faktanya lagi, selama era Premier League --yang sudah berlangsung sejak 1992/1993--, United yang mayoritas berada di bawah arahan Ferguson pada era itu, menang 17 kali dari 20 kali bertanding di 26 Desember.
Terakhir kali memimpin United bertanding di Boxing Day, Ferguson menerima kado kemenangan 4-3 atas Newcastle United. Pertandingan itu sendiri tidak berjalan dengan mudah buat 'Setan Merah'. Mereka harus tertinggal tiga kali sebelum akhirnya mendulang poin penuh.
Konon, laga-laga di Boxing Day tidak mudah karena tidak semata mengandalkan taktik dan teknik saja. Mereka yang malas melawan dingin akan tergilas oleh semangat-semangat panas. Maka, tidak heran jika periode Boxing Day hingga tahun baru sebagai periode yang sulit dan krusial, tidak hanya karena jumlah pertandingannya yang padat, tetapi juga karena cuaca yang menggigit kulit.
Toh, meski dimainkan dan ditonton di tengah udara nyaris beku, tetap saja sepakbola bisa menghadirkan kehangatan tersendiri --terutama untuk mereka yang timnya menang.
Secara historis, cerita mengenai sepakbola dan hari Natal (dan hari setelahnya) tersebar di mana-mana. Salah satu yang sudah banyak dituturkan adalah cerita mengenai serdadu-serdadu di Perang Dunia I pada 1914 hingga beberapa tahun setelahnya yang bermain bola pada hari Natal. Padahal, mereka sedang berada di tengah medan perang.

Christmas Truce, demikian cerita-cerita tersebut dinamai, adalah saat di mana para tentara Inggris dan Jerman keluar dari parit perlindungan masing-masing, meletakkan senjata mereka, lalu saling berjabat tangan dan mengucapkan selamat Natal. Dalam kelanjutannya, ucapan selamat itu diikuti dengan berbagi rokok dan bermain bola.
Salah satu cerita menyebut, main bola antara kedua kubu serdadu bukan 11 lawan 11, tapi 50 lawan 50, sampai kemudian mereka diperintahkan atasan untuk balik ke parit masing-masing dan kembali menodong senjata.
Kejadian tersebut tidak hanya berlangsung di satu tempat saja. Cerita soal serdadu bermusuhan yang mendadak bergencatan senjata dan bermain bola itu terbentang dari Ypres, dekat perbatasan Belgia dan Prancis, sampai Lavantie di Prancis.
"Kupikir, aku baru saja melihat pemandangan paling menakjubkan seumur hidupku," tulis AD Chater, salah seorang serdadu yang menyaksikan gencatan senjata dan pertandingan bola dadakan itu, dalam surat yang ditujukan untuk ibunya. Baru-baru ini, surat tersebut dipublikasikan oleh Royal Mail dan dikutip oleh The Independent.
"Sekitar pukul 10 pagi, aku mengintip dari tempat berlindungku dan melihat orang Jerman, melambaikan tangannya, dan tiba-tiba dua orang dari mereka keluar dari paritnya dan berjalan ke arah kami. Kami nyaris akan menembak mereka sampai kemudian kami sadar bahwa mereka tidak membawa senapan, jadi salah seorang dari kami pun berjalan mendatangi mereka."
"Dalam waktu dua menit, padang di antara kedua parit sudah dipenuhi oleh para pria dan perwira dari kedua kubu, saling berjabat tangan dan mengucapkan selamat Natal."
Apa pun itu, selamat Natal dan selamat bermain (menonton) bola.
====
*penulis adalah wartawan detikSport, biasa beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza.
(roz/a2s)











































