Louis kecil punya tugas: Tiap hari dia harus mengupaskan kentang untuk kakak-kakak dan orang tuanya. Ini bukan perkara mudah karena dia punya sepasang orang tua dan delapan orang kakak.
Sebagai anak bungsu, Louis kecil tidak mendapatkan keringanan sama sekali. Ayahnya mendidiknya dengan keras, seperti juga dia mendidik kakak-kakak Louis. Tiap-tiap anak di dalam rumah punya tugasnya masing-masing, dan buat Louis, tugasnya adalah mengupas kentang.
Sang ayah tidak lama menemani Louis. Ketika usianya 11 tahun, ayah Louis pergi selama-lamanya. Tapi, lewat tugas mengupas kentang tadi, ayah Louis mewariskan dan mengajarkan soal kedisiplinan dan pembagian kerja. Jika tiap-tiap anak melakukan tugasnya dengan baik, tenteram dan lancarlah segala urusan di rumah mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buat Van Gaal, kesebelasannya adalah sebuah sistem. Pemain-pemain adalah mesin-mesin yang menggerakkannya.
Jelas sudah dari mana sifat saklek dan keras kepala Van Gaal berasal. Jelas pula sebab-musabab dari kebiasaan Van Gaal memperlakukan sepakbola sebagai ilmu eksak. Sepakbola yang kerap diidentikkan dengan kebebasan dan keluwesan seringkali dibuat menjadi begitu metodikal oleh Van Gaal.
Di matanya, tidak ada yang namanya kebetulan. Jika mau mencapai hasil yang diinginkan, ada langkah-langkah wajib yang harus dilakukan --layaknya sebuah rumus. Tidak heran jika pada pertengahan 90-an La Gazzetta dello Sport pernah menyebutnya sebagai orang yang njlimet. Dia amat mendetail dan menyeluruh.
Van Gaal tidak terbiasa bekerja sendiri. Di belakangnya ada begitu banyak asisten membantu. Sama seperti pemain, tiap-tiap asistennya punya tugas yang amat detail. Dia tidak hanya punya asisten manajer dan pelatih tim utama, tetapi juga penganalisis video dan juga asisten yang tugasnya khusus untuk memantau tim lawan. Di Manchester United saat ini, kedua tugas yang disebut belakangan itu dilakoni oleh Max Reckers dan Marcel Bout.
Ada pembagian kerja yang jelas dan struktur yang tidak bisa diganggu gugat. Supaya tidak tumpang tindih, Van Gaal mengatur pembagian tugas para asistennya sedemikian rupa. Ambil contoh bagaimana Bout dan asisten manajer United, Ryan Giggs, bekerja. Usai Bout selesai merangkum dan menyusun peta kekuatan lawan, dia akan memberikan laporannya kepada Giggs. Setelahnya, Giggs akan menyusun rancangan untuk tim berdasarkan data-data yang diberikan Bout.
Rancangan yang dibuat Giggs tidak akan begitu saja dipraktikkan di sesi latihan. Terlebih dulu, Giggs harus mempresentasikan rancangannya kepada Van Gaal. Jika Van Gaal setuju, dan dianggapnya sesuai dengan taktik yang dia inginkan, barulah rancangan Giggs diterima. Betul-betul njlimet.

Maka, jangan heran jika manajer Chelsea, Jose Mourinho, menyebut Van Gaal sebagai sosok yang pragmatis. Meski menyenangi sepakbola menyerang, Van Gaal kerap mengambil langkah hati-hati manakala timnya dia rasa belum cukup siap. Sebagai orang yang teramat detail, Van Gaal amat memperhitungkan untung dan rugi yang bisa didapatkan oleh timnya, termasuk mengukur risiko-risiko yang akan dihadapi. Semua dikalkulasikan di dalam imajinasinya.
Perhitungan untung dan rugi inilah yang membuat United belakangan jadi bermain hati-hati. Usai menang 4-0 atas Queens Park Rangers di pekan keempat Premier League, Van Gaal dengan amat yakin menyatakan, para pendukung United bisa mengekspektasikan permainan yang menghibur dari tim kesayangan mereka. Ketika itu, United bermain dengan formasi 4-4-2 berlian.
Namun, Van Gaal rupanya keliru. United belum sepenuhnya siap menggunakan formasi tersebut. Pekan berikutnya, ketika menghadapi Leicester City, Van Gaal dengan yakin menerapkan formasi serupa. Hasilnya? United tampil impresif di 60 menit pertama, tapi amburadul di setengah jam terakhir. 'Setan Merah' kalah 3-5 di laga tersebut setelah sempat unggul 3-1.
Dari sana, mulailah Van Gaal sering menyebut-nyebut soal keseimbangan. Atas alasan keseimbangan bermain selama 90 menit dan demi menghindari risiko kebobolan di setengah jam akhir laga, Van Gaal terpaksa mengubah formasi timnya. Jadilah dia memainkan pola 4-1-4-1. Van Gaal sempat puas dengan formasi 4-1-4-1 yang disebutnya menyediakan keseimbangan permainan selama 90 menit. Sampai kemudian timnya dihantam cedera pemain berkali-kali, jadilah Van Gaal mengubah formasi lagi menjadi 3-5-2.
Dengan 3-5-2, United jadi bermain aman. Mereka menjadi lebih sedikit mencetak gol, tetapi juga kebobolan lebih sedikit. Selain sukses meraih serangkaian kemenangan dengan formasi itu, pertahanan United --meski kerap terlihat rapuh di beberapa laga-- menorehkan jumlah kebobolan ketiga paling sedikit di Premier League, di belakang Southampton dan Chelsea.
Perkara soal kehati-hatian ini jugalah yang membuat Van Gaal menerapkan formasi 3-5-2 untuk Belanda di Piala Dunia 2014. Begitu tahu Kevin Strootman tidak bisa ikut ke Brasil, dia langsung mengkalkulasikan untung dan rugi serta memikirkan sistem yang pas dengan komposisi pemain yang dimiliki. Usai melihat Feyenoord bertanding beberapa kali, dan konon mendengarkan saran dari Ronald Koeman --yang musim lalu menjadi manajer klub asal kota Rotterdam tersebut, Van Gaal memutuskan untuk menggunakan 3-5-2 untuk Oranje.
Formasi tersebut membuat Belanda menjadi salah satu tim paling alot di Piala Dunia 2014. Mereka kerap kesulitan untuk menciptakan gol, tetapi juga sulit untuk dibongkar lawan. Belanda baru bisa disingkirkan lewat adu penalti oleh Argentina di babak semifinal.
***

Formasi tiga bek bukanlah hal baru buat Van Gaal. Dalam 'The Van Gaal Dossier' yang dikeluarkan oleh The Telegraph, dirunutkan dengan jelas sejarah Van Gaal bersama formasi dengan komposisi tiga bek di belakang. Ketika sukses membawa Ajax Amsterdam menjuarai Liga Champions 1995, dia menggunakan formasi dengan tiga bek di belakang. Waktu membawa Barcelona menjuarai Liga Spanyol untuk dua musim berurutan, dia juga menggunakan pola yang sama.
Dengan kesuksesan-kesuksesan di atas, bolehlah Van Gaal menjustifikasi bahwa dia bisa sukses dengan formasi tiga bek di lini belakang. Namun, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan.
Di Ajax, Van Gaal menggunakan formasi 3-4-3. Ketiga bek di belakang "dilindungi" oleh Frank Rijkaard sebagai gelandang bertahan yang bisa juga berubah posisi menjadi bek tengah manakala tim bertahan. Rijkaard juga menjadi pangkal dari formasi berlian di lini tengah yang diisi oleh empat orang gelandang: Rijkaard sendiri, Clarence Seedorf, Edgar Davids, dan Jari Litmanen. Litmanen berperan sebagai "nomor 10".
Tidak seperti United dan Belanda di Piala Dunia 2014, Ajax bermain menyerang dan luwes. 3-4-3 Ajax bekerja sesuai imajinasi Van Gaal. Rijkaard dengan baik membagi bola dan mengawali serangan --sekaligus melindungi pertahanan. Sementara gelandang-gelandang mereka bergerak dengan cair. Menurut asisten Van Gaal di Ajax, Gerard van der Lem, para pemain dituntut untuk berpikir dan bergerak secepat, bola dialirkan ke ruang-ruang kosong yang bisa dieksploitasi.
Van Gaal sebisa mungkin meminta para gelandangnya untuk tidak naik melebihi dua penyerang sayap di depan, Finidi George dan Marc Overmars. Tugas para gelandang adalah satu: sebanyak mungkin memberikan suplai ke lini depan. Sementara itu, kedua penyerang sayap dimintanya untuk bergerak selebar mungkin, supaya para gelandang memiliki ruang lebih banyak di tengah.
Taktik sedemikian detailnya itu hanya bekerja jika para pemain berada dalam satu frekuensi yang sama. Finidi dan Overmars harus jeli melihat kapan saatnya mereka naik dan menerima operan dari para gelandang. Di sini, timing memegang peran. Tanpa ketepatan, timing, dan pemikiran cepat para pemainnya, yang ada hanyalah permainan mengoper-oper bola tanpa ada penetrasi ke daerah lawan.
Secara keseluruhan, permainan Ajax merupakan segalanya yang diinginkan Van Gaal: aman di belakang, tetapi juga tajam di depan. Inilah yang tidak dimilikinya di United.
Di Ajax dulu, Van Gaal memiliki Rijkaard. Di Barcelona, dia memiliki Pep Guardiola lalu kemudian --di periode keduanya menangani tim Catalan itu-- dia punya Xavi Hernandez. Di United, dia memiliki Michael Carrick. Carrick tidak buruk, sebagai gelandang dia cukup bisa menutup ruang untuk melindungi lini belakang sekaligus memberikan suplai. Yang jadi masalah adalah beberapa pemain di lini depan tidak cukup cepat untuk memanfaatkan timing.
Pergerakan tanpa bola yang kaku membuat United kerap kesulitan untuk membongkar lawan yang bertahan amat dalam. Contoh teranyar adalah laga melawan Cambridge Jumat (23/1) lalu. Lambatnya kedua sayap United pada laga itu, Adnan Januzaj dan Antonio Valencia, untuk naik ataupun melepaskan umpan menjadi salah satu kendala. Valencia bertahan 90 menit di lapangan, tetapi Januzaj akhirnya digantikan oleh Luke Shaw.
***

Dalam beberapa pertandingan terakhir, Van Gaal kerap mengubah formasi 3-5-2 menjadi 4-4-2 berlian di tengah pertandingan tiap kali dia merasa timnya kesulitan membongkar pertahanan lawan. Biasanya, cara ini berhasil. Lihat saja ketika United mengalahkan Yeovil Town 2-0 di Piala FA dan QPR 2-0 di Piala FA. Sial buat Van Gaal, ini tidak bekerja pada laga melawan Cambridge, di mana laga berakhir dengan kedudukan 0-0.
Usai kemenangan atas QPR, Van Gaal kukuh mengatakan bahwa dia tidak akan mengubah formasi hanya karena para pendukung memintanya. Mengingat sifat keras kepala dan kehati-hatiannya, mari kita anggap saja Van Gaal masih belum akan berubah. Jika dia merasa 4-4-2 berlian terlalu berisiko, maka siap-siap sajalah melihat United menggunakan 3-5-2 sedikit lebih lama lagi.
Van Gaal memang pernah sukses menggunakan formasi dengan susunan tiga bek di lini belakang. Namun, dia sukses menerapkannya di Ajax dan Barcelona karena pemain yang dimilikinya sesuai skema dan mampu menerapkan permainan dengan formasi itu secara baik --dan sesuai keinginannya. Di United, para pemainnya belum beradaptasi dengan keinginanya.
Pertanyaannya sekarang, maukah Van Gaal membuang segala kehati-hatiannya dan menunjukkan dirinya berani mengambil risiko?
====
*penulis adalah wartawan detikSport, beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza
(roz/krs)











































