sepakbola

Membelokkan Bola, Membelokkan Nasib

Terpopuler Jadwal Pertandingan Klasemen Liga Hasil Pertandingan Man of The Match Gila Bola Foto Video

Membelokkan Bola, Membelokkan Nasib


- detikSepakbola

Getty Images/Clive Mason
Getty Images/Clive Mason
Jakarta -

Sepakbola adalah permainan nasib. Nasib yang dimain-mainkan di antara kaki ke kaki. Terkadang pula, nasib yang dimain-mainkan itu berbelok tanpa disangka-sangka.

Entah apa jadinya jika sepakan Jonjo Shelvey tidak membentur badan Bafetimbi Gomis. Bisa jadi ada tiga kemungkinan. Pertama, bola tersebut mengarah tepat ke David De Gea sehingga kiper asal Spanyol itu bisa menangkapnya. Kedua, bola melaju, tapi kemudian De Gea berhasil menepisnya. Ketiga, bola meluncur deras masuk ke dalam gawang.

Hanya satu dari tiga kemungkinan itu yang pastinya tidak diinginkan De Gea. Dan di sinilah takdir beserta nasib bermain lewat sosok Gomis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Entah bagaimana ceritanya, Gomis berada tepat di jalur meluncurnya bola. Si kulit bundar membentur badannya sehingga arahnya berbelok sedemikian rupa. De Gea, yang tidak menyangka bola bakal berbelok, akhirnya salah membaca arah dan dia pun gagal menghalaunya.

Kejadian itu berbuah gol kedua untuk Swansea City. Nasib berbalik. Si Angsa yang tadinya tertinggal jadi mengungguli timnya De Gea, Manchester United. Siapa sangka sebuah punggung dan sebuah sepakan yang berbelok bisa memengaruhi banyak hal: United kalah, posisi mereka di zona Liga Champions jadi tidak aman, sementara tim-tim lain di luar empat besar --seperti Liverpool-- mengendap-ngendap dan siap menikam dari belakang.

Waktu bergulir, kejadian serupa pun terjadi pada kota dan stadion yang berbeda. Rabu, 25 Februari 2015, Arsenal masuk ke lapangan dengan kepala tegak. Hasil-hasil yang mereka dapatkan di liga dan Piala FA sudah cukup untuk memupuk kepercayaan diri menghadapi pertandingan hari itu. Sang lawan adalah AS Monaco, lawan yang (seharusnya) lebih mudah jika dibandingkan dengan lawan-lawan mereka di perdelapanfinal Liga Champions sebelum ini, yakni FC Barcelona, AC Milan, dan Bayern Munich.

Ditambah kenyataan bahwa mereka bermain di kandang, jadilah Arsenal relatif diunggulkan. Tapi, sepakbola seringkali tidak peduli dengan coret-coretan di atas kertas. Justru di situlah keadaan jadi menarik.

Saat waktu pertandingan menunjukkan menit ke-38, bola jatuh di kaki Geoffrey Kondogbia. Merasa mendapatkan banyak ruang, Kondogbia pun tidak berpikir lama. Langsung saja dihempaskannya bola lewat ayunan kaki kanannya. Sesial-sialnya, andai sepakannya gagal lantaran ditepis kiper Arsenal, David Ospina, Monaco bakal mendapatkan sepak pojok. Namun, yang terjadi justru seperti yang diekspektasikan Kondogbia.

Bola sepakannya meluncur keras. Per Mertesacker, yang bermaksud berdiri menghalangi laju bola, malah "membantu" harapan Kondogbia menjadi kenyataan. Bola mengenai badan Mertesacker sehingga arah lajunya berbelok. Ospina, yang sudah siap untuk menghalau, tidak menyangka bola bakal berbelok. Imbasnya, kiper asal Kolombia itu tidak mampu menahannya. Gawang Arsenal pun bobol.



Seandainya hari itu Monaco kalah, mereka sudah mendapatkan tabungan menguntungkan berupa sebuah gol tandang. Ini adalah nasib bagus buat mereka. Siapa menduga, nasib bagus itu lahir dari bola yang berbelok tanpa disangka-sangka.

Andai sepakbola adalah sebuah panggung pementasan, maka bola-bola yang berbelok itu adalah plot twist yang bakal membuat penontonnya terhenyak. Seringkali, plot twist tersebut dihadirkan lewat adegan-adegan kecil. Namun, dari adegan-adegan kecil itulah hasil akhir dari sebuah cerita menjadi berubah drastis.

Eks bek Manchester United, Gary Neville, pernah menceritakan masa-masa di mana dirinya bermain dengan kiper legendaris asal Denmark, Peter Schmeichel. Mereka yang pernah melihat Schmeichel bermain akan mengenali kebiasaannya berteriak-teriak hingga hidungnya memerah. Biasanya, Schmeichel berteriak seperti itu ketika memberikan instruksi kepada para bek atau ketika dirinya merasa tidak dilindungi dengan baik.

Di antara banyak hal yang tidak disukai Schmeichel, Neville menyebut bahwa salah satunya adalah ketika dia harus kebobolan lewat tendangan yang berbelok. Apalagi jika tendangan itu berbelok lantaran mengenai bagian tubuh bek yang ada di hadapannya. Jika banyak pengamat sepakbola bakal berpendapat bahwa kejadian di mana bola berbelok lantaran mengenai bek adalah kejadian biasa, Schmeichel akan menganggapnya sebagai kesalahan dalam bertahan.

Oleh karenanya, Schmeichel dengan tegas meminta kepada bek-bek di depannya: Jika ada pemain lawan melepaskan sebuah tembakan jarak jauh, jangan ada yang menghalangi. Biarkan dia sendiri yang langsung menghadapinya.

"Schmeichel adalah sosok yang paling banyak menuntut. Dia akan menganggap sebuah tembakan yang lolos di antara kedua kaki bek atau membelok lantaran mengenai betis sebagai sebuah kesalahan," kata Neville.



Neville menganggap tuntutan-tuntutan dari seorang penjaga gawang semacam itu sebagai sebuah hal yang penting. Dia menilai, kepercayaan diri seorang penjaga gawang adalah pilar penting dari sebuah tim. Jika seorang penjaga gawang cukup percaya diri dalam melakukan pekerjaannya, hal itu akan menular kepada barisan pertahanan di depannya.

Pada Minggu malam lalu, cerita soal bola-bola yang berbelok ini kembali terjadi. Kali ini Wembley yang menjadi panggungnya.

Tepat sebelum bola sepakan John Terry masuk ke dalam gawang Tottenham Hotspur, terlebih dulu kaki dari bek Spurs bermain-main dengan nasib. Kaki yang seharusnya dipakai untuk memblok atau menghalau itu malah membantu membelokkan bola masuk ke dalam gawang. Kiper Spurs, Hugo Lloris, menyangka bola akan meluncur datar ke hadapannya. Siapa sangka, bola malah membentur kaki lalu berbelok naik dan bergerak ke sisi sebelah kanannya.

Kejadiannya pun tidak hanya satu kali, tapi dua kali. Lloris kembali harus kebobolan dengan cara serupa ketika tendangan Diego Costa membentur kaki Kyle Walker. Dia sudah menjatuhkan badan lantaran mengira bola akan bergulir ke sisi sebelah kirinya. Namun, kaki Walker malah membuat bola berubah arah. Lloris lagi-lagi tidak menyangka bola akan memantul tinggi dan lewat di sisi sebelah kanannya.

Kedua gol itu mengantarkan Chelsea meraih trofi pertama mereka musim ini. Jose Mourinho pun mendapatkan trofi pertamanya sejak kembali lagi ke Stamford Bridge.

Siapa sangka, kesuksesan Mourinho mendapatkan trofi pertama semenjak kembali itu dibantu oleh bola-bola yang berbelok.

====

*penulis adalah wartawan detikSport, beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza.


(roz/din)











Hide Ads