Ada Diego Maradona, ada Diego-Diego Maradona setelahnya. Ada Diego Maradona yang menari di atas lapangan, ada Diego Maradona yang berteriak di tepi lapangan.
Sedemikian mendewanya Maradona hingga dia kemudian diabadikan dalam kepribadian-kepribadian yang lain. Hanya ada satu Maradona, tapi ada banyak Maradona-Maradona berikutnya yang bermunculan dari seluruh pelosok. Maradona dari Carpathia, The Next Maradona, hingga... Maradona dari Purwodadi.
Ia, yang disebut Maradona dari Purwodadi itu, tak lain dan tak bukan adalah Tugiyo, seorang anak tukang becak. Jika Maradona diabadikan dalam banyak kisah, dari Tangan Tuhan hingga agama parodi bernama Church of Maradona, maka cukuplah Tugiyo diabadikan lewat sebuah gol pada suatu hari di Stadion Klabat, Manado.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepakbola memang dunia yang absurd. Tidak perlulah trofi banyak-banyak untuk bisa jadi abadi. Akhir pekan kemarin, Diego Forlan bercerita bagaimana dia jadi sosok yang tak lekang diembat masa di mata pendukung Manchester United. Sampai saat ini, Forlan terus hidup dalam nyanyian pendukung 'Setan Merah' di tribun.
Penyebabnya bukanlah raihan trofi --karena faktanya karier Forlan bersama United tidaklah luar biasa--, melainkan sepasang gol di Anfield, markas milik musuh bebuyutan mereka, Liverpool, pada Desember 2002. Hanya dengan begitu saja, Forlan ujug-ujug menjadi pahlawan. Namanya seharum legenda-legenda lainnya.
Tugiyo tidak bergelimang trofi bersama PSIS. Tapi, cukuplah gol tunggal di Klabat pada suatu hari di tahun 1999 itu mengabadikan namanya.
***
Tugiyo hanya tersenyum ketika saya tanya pendapatnya tentang julukan "Maradona dari Purwodadi" itu. Dia langsung mengiyakan tebakan saya bahwa klub idolanya adalah Napoli dan tim nasional favoritnya adalah Argentina. Namun, soal julukan yang satu itu, dia agak lama menjawabnya.
"Ya, itu bisa-bisanya orang-orang saja, mas. Saya sih iya, iya, saja," ucapnya. "Dulu saya memang biasa begitu. Bawa bola saja terus sambil lari, terus tendang."
Postur Tugiyo yang gempal dan tidak terlalu tinggi memang mirip Maradona. Larinya juga kencang. Tidak mengherankan jika orang-orang yang pernah melihatnya bermain memirip-miripkannya dengan Maradona.
Saya menemuinya pada suatu sore di Stadion Jatidiri, Semarang. Tugiyo datang dengan mengenakan kaos polo berwarna merah dan sebuah jeans biru muda. Waktu itu, hujan baru selesai turun, masih ada bau tanah yang basah. Tugiyo datang ke stadion itu untuk sekadar menyaksikan PPLP Jawa Tengah --dulunya bernama Diklat Salatiga-- berlatih.
"Yang jelas, kenangan banyak sama stadion ini," kata Tugiyo.
Dari banyak kenangan bersama PSIS, justru yang paling menghentak-hentak nyaring terjadi jauh di luar Jatidiri. Di Manado, di Klabat.

Sampai hari ini, Tugiyo masih mengingat betul pertandingan itu. Meski tidak mengungkapkannya secara detail, dia menuturkan bagaimana posisi PSIS pada hari itu hanyalah tim underdog. Di hadapan Persebaya yang dilatih Rusdy Bahalwan, dan diperkuat bintang-bintang seperti Hendro Kartiko, Chairil Anwar, Aji Santoso, Yoseph Lewono, hingga Yusuf Ekodono, dan Uston Nawawi, PSIS tidak diunggulkan.
Dia paham betul bahwa pencapaian melaju ke final Liga Indonesia sudah cukup bagus. Jika bisa menjadi juara, itu hanya bonus.
"Akhirnya kami masuk final itu sudah merupakan kebanggaan. Yang terpenting waktu itu kami main yang terbaik sajalah. Yang penting kerja keras, siapa tahu nanti hadir hasilnya belakangan, Tuhan yang menentukan."
"Waktu itu Persebaya pemainnya bintang semua. Ada Aji Santoso, Bejo Sugiantoro, juga Hendro Kartiko. Cuma kami itu nggak takut nama besar, mas. Yang penting itu main dulu, menang atau kalah itu urusan belakangan."
"Yang penting main disiplin, itu saja," kata Tugiyo.
Bonus dari main lepas itu akhirnya muncul di akhir laga: Sebuah trofi juara. Tugiyo dan PSIS pun jadi buah bibir. Tawaran untuk pindah ke tim lain pun datang kepadanya.
***
Tugiyo masuk tim nasional tak lama setelahnya. Ketika sedang menjalani pemusatan latihan di Jakarta, datang tawaran dari Pelita Jaya. Dalam benak Tugiyo, ini adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.
Pertemuan pun diadakan di Plaza Senayan. Pelita bermaksud untuk melakukan negosiasi terkait gaji dengan Tugiyo. Si "Maradona dari Purwodadi" memang tidak akan langsung mengiyakan, tapi dia ingin mendengarkan dulu tawaran yang diajukan kepadanya.
"Waktu itu saya diajak nego berdua dengan Ilham (Jayakesuma). Saya bilang ke Ilham, 'Sudah, datang dulu saja. Makan-makan dulu, baru nanti dilihat lagi.'," kata Tugiyo setengah geli menceritakan peristiwa waktu itu.
Namun, setelah melakukan negosiasi, Tugiyo merasa tidak cocok dengan tawaran yang diajukan oleh Pelita. Tugiyo akhirnya memutuskan untuk tetap di PSIS, dan terus bertahan bersama 'Mahesa Jenar' sampai dia gantung sepatu.
"Dulu semua pemain inginnya ke Pelita Jaya. Istilahnya, kalau di Italia dulu, AC Milan-nya. Cuma karena nego-nya nggak cocok, mau bagaimana lagi."

Setelah tampil lepas di Klabat, PSIS terjun bebas di musim berikutnya. Buruknya manajemen, klaim Tugiyo, menjadi awal dari petaka untuk PSIS musim itu. Tampil buruk sepanjang musim, mereka akhirnya harus turun divisi.
"Waktu itu PSIS turun ke Divisi Utama [sic] karena manajemennya kurang bagus, mas. Gaji sering terlambat. Sehingga pemain-pemainnya waktu itu nggak ada motivasinya."
"Saya akhirnya gantung sepatu, ya, di PSIS. Waktu itu juga saya langsung cari lisensi (kepelatihan) dan akhirnya ada tawaran melatih. Namanya belajar, ya, saya coba-cobalah," ujarnya.
Tugiyo jadi pelatih selepas gantung sepatu. Dia mengawalinya dari bawah, dari sebuah tim U-20 di Bawang, Kabupaten Batang. Tim yang ditanganinya ketika itu merupakan tim level desa, namun Tugiyo merasa tidak masalah.
"Saya pertama kali melatih itu di Bawang, mas, di Kabupaten Batang. Itu cuma tim desa, namanya Merpati U-20. Alhamdulillah, saya bertahan di situ dua tahun. Lalu, kemudian diajak untuk melatih di Diklat HRD ini."
***
Sebelum menjadi bintang bersama PSIS, Tugiyo muda sudah mencuri perhatian kala bermain dengan tim Jawa Tengah di Pekan Olahraga Pelajar Nasional. Dia juga sempat berlaga di Piala Soeratin dan menimba ilmu di Diklat Salatiga dan Diklat Ragunan.
Dia juga pernah masuk dalam program PSSI Baretti di Italia, kendati awalnya sempat ditolak. "Waktu itu orang-orang mau masuk situ harus seleksi, mas. Saya tidak. Saya sempat ditolak, tapi akhirnya ada yang menyuruh saya untuk dibawa juga. 'Bawa ini, Tugiyo. Badannya kecil, tapi pasti bisa bagus di sana.'," kata Tugiyo.
"Di Baretti itu sebenarnya bagus kompetisinya. Karena jauh dari orang tua, ada rasa kangen juga. Rasa kangen keluarga itu ada. Cuma, namanya kami --para pemain-- belajar, akhirnya paham juga. Kalau kangen, telepon 'kan bisa."
"Waktu saya datang ke sana, satu minggu saya nggak bisa makan. Karena nggak biasa makan spaghetti atau pasta, waktu itu 'kan saya cuma orang desa, makanan-makanan seperti itu saya nggak biasa."
"Akhirnya makan Indomie. Waktu itu ada teman-teman, seperti Nova Arianto, yang dapat kiriman dari orang tuanya," paparnya.
Mencicipi sepakbola sejak muda, Tugiyo akhirnya menyadari bahwa membentuk dan menggembleng pemain memang tidak mudah. Maka, ketika ditawarkan untuk melatih HRD Salatiga, dia langsung mengiyakan.
Bersama istrinya, Tugiyo kini tinggal di Plamongan, Semarang. Namun, nyaris satu minggu hidupnya dihabiskan di Salatiga untuk melatih HRD.

Tugiyo yang dulu berlari di atas lapangan dengan giringan bolanya, kini telah berganti menjadi Tugiyo dengan papan formasi di tangan. Dia bukan lagi "Maradona" di atas lapangan, dia adalah "Maradona" di tepi lapangan.
Dari menit ke menit, waktunya dihabiskan untuk memberikan instruksi kepada pemain-pemainnya.
Tugiyo menempa pemain-pemainnya dari satu turnamen ke turnamen lain. Tak peduli lawan yang dihadapi lebih kuat atau lebih lemah. Baginya, para pemain junior jangan langsung diajarkan soal menang atau kalah.
"Yang penting mental bertanding, ada jam terbang buat mereka."
"Yang terpenting itu bukan menang atau kalah. Yang penting adalah mental bertanding dulu, biarkan mereka dapat pengalaman. Kalau ada kurang-kurang, baru dibenahi setelahnya."
***
Bagi sebagian besar orang, garis tepi lapangan barangkali tidak berarti apa-apa. Tapi, garis tepi adalah pembatas jelas antara mereka yang boleh bermain mengolah si kulit bundar dan mereka yang tidak. Sedemikian tipisnya garis tepi, namun sedemikian tebalnya tembok yang dia ciptakan.
Bagi seorang pemain cadangan, garis tepi barangkali adalah tembok terakhir yang harus dia lewati. Berhari-hari dalam sepekan dia berlatih, belum tentu pada akhir pekan dia bisa melewati garis tepi itu. Pada akhirnya, dia hanya harus menunggu dan terus menunggu, sampai waktu menyeretnya masuk melewati garis tepi itu.
Bagi Tugiyo, garis tepi bekerja dengan arah sebaliknya. Waktu telah menyeretnya ke sisi luar garis tersebut.
Soal bertanding tidak mementingkan menang atau kalah itu diperlihatkannya ketika memimpin HRD bertarung di ajang Ayo! Indonesia Bisa milik Clear akhir pekan lalu. Menjelang babak pertama berakhir, salah satu pemainnya terkena kartu merah.
Tugiyo gusar. Sejak awal dia meminta pemain-pemainnya bertanding dengan kepala dingin. Jika ada pemain lawan yang menekan pertahanan, dia meminta untuk melakukan tekanan pelan-pelan, tanpa "mengambil" si pemain lawan dengan tekel.
Untuk sesaat, Tugiyo terlihat kecewa karena arahannya tidak diaplikasikan dengan baik oleh pemain-pemainnya. Sesaat berikutnya, dia menyambut pemainnya yang terkena kartu merah itu dengan tepukan di pundak. "Sudah, sudah.. Tidak apa-apa," katanya. Tidak lama setelahnya, timnya kebobolan. Tim lawan unggul 1-0.
Dalam keadaan tertinggal dan kalah jumlah, Tugiyo justru menginstruksikan anak-anak asuhnya untuk menekan dan menjaga tempo supaya tetap cepat. Dia beralasan, ini adalah turnamen yang mengusung fase knock-out, kalah 0-1 ataupun 0-10 sama saja --mereka akan tetap tersingkir. Sebaliknya, karena masih tertinggal 0-1 dan terus menekan, bisa saja timnya menyamakan kedudukan.

Benar saja, pada babak kedua timnya mencetak gol penyama kedudukan lewat sebuah sundulan. Skor pun berubah menjadi 1-1. HRD Salatiga yang bermain dengan 10 orang akhirnya memaksa laga dilanjutkan ke babak adu penalti.
Ajang Ayo! Indonesia Bisa memiliki peraturan adu tendangan penalti seperti ini: masing-masing tim mengajukan tiga algojo. Jika skor sama kuat, maka akan dilakukan pengundian dengan koin untuk menentukan tim mana yang akan jadi penendang dan tim mana yang akan bertahan. Jika berhasil mencetak gol, maka tim penendang keluar sebagai pemenang. Sebaliknya, jika tendangan itu gagal, maka tim yang bertahan keluar sebagai pemenang.
Nasib ditentukan oleh koin hari itu. Tim arahan Tugiyo menjadi tim yang bertahan, sementara tim lawan jadi penendang. Tanpa kesulitan, tim lawan mengeksekusi penalti dengan baik. Tim arahan Tugiyo pun tersingkir.
Dengan rileks, Tugiyo pun menyalami anak-anak asuhnya satu per satu. Dia tahu, apa yang mereka lakukan sore itu sudah cukup.
Hari itu, Tugiyo masih bisa tersenyum. Kebetulan, dia juga bertemu dengan rekannya ketika di tim nasional dulu, Kurniawan Dwi Yulianto. Lewat candaan Kurniawan-lah terkuak bahwa Tugiyo menamai anaknya "Scudetto" lantaran lahir tak lama setelah PSIS menjadi juara Liga Indonesia.
Kepada seorang rekan, Kurniawan lantas berkelakar, "Kalau waktu itu jadi runner-up, nama anaknya bagaimana, ya?"
====
*penulis adalah wartawan detikSport, beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza
(roz/krs)











































