Membangun Ekspektasi dengan Dosis Tepat untuk Timnas Indonesia

Lucas Aditya - Sepakbola
Kamis, 21 Mar 2019 14:05 WIB
Foto: Istimewa
Jakarta - Berangkat tanpa sorotan berlebihan, Timnas Indonesia menyelesaikan tugas dengan mengukir tinta emas sebagai juara di Piala AFF U-22 2019. Ekspektasi dengan kadar yang tepat juga sebaiknya dipasang saat mendukung Skuat Merah Putih yang mentas di Kualifikasi Piala Asia U-23 di Hanoi pekan ini.

Tiga laga Timnas di Kualifikasi Piala Asia 2020 Thailand yang dihelat di Stadion My Dinh, Hanoi sudah di depan mata. Tim asuhan Indra Sjafri itu ditunggu duel dengan Thailand, Vietnam, dan Brunei Darussalam.

Indonesia bisa menggenggam tiket ke Piala Asia U-23 itu dengan erat jika menjadi juara grup di Kualifikasi itu. Cara lain juga masih terbuka, yakni menjadi runner-up grup dengan catatan Thailand, yang menjadi tuan rumah Piala Asia 2020, keluar sebagai juara Grup K.

Tiga tim lawan di Grup K bukanlah tim asing. Merujuk kemenangan Timnas di Piala AFF U-22, yang sebagian besar pemainnya memperkuat Timnas di Hanoi ini, Thailand dan Vietnam bisa diatasi. Sementara, Brunei Darussalam, yang memiliki pemain sepakbola terkaya di dunia itu, Faiq Bolkiah, yang merupakan keluarga sultan, di atas kertas bisa dikalahkan.


Apalagi, Indonesia diisi skuat juara plus plus, plus Egy Maulana Vikri, Saddil Ramdani, dan Ezra Walian. Mereka juga ditangani pelatih yang sama, Indra Sjafri. Kesolidan dan kekompakan tak perlu dibangun dari nol lagi, kan?

Tapi..., ya ada tapi, agar detikers tak kecewa-kecewa amat kalaupun Timnas tidak lolos ke Piala Asia.

Dari beberapa media online Vietnam dan Thailand menyebut jika mereka merombak pemain ke Piala Asia. Mereka didukung skuat yang lebih mentereng ketimbang di Piala AFF saat Indonesia juara itu. Bisa jadi sih waktu itu mereka meladeni ucapan PSSI yang sekadar menjadikan Piala AFF sebagai turnamen uji coba. Sementara, Kualifikasi Piala Asia mulai 22-26 Maret itu menjadi jalan hidup mati untuk tampil di Piala Asia 2020.

Nah, saya mengajak detikers untuk membangun harapan yang biasa-biasa saja kepada Timnas. Bisa jadi, ekspektasi yang biasa-biasa saja justru membuat Timnas kita tampil sip seperti pada Piala AFF U-22 itu kan? Juga, itu tadi, agar tak kecewa berat jika hasilnya, seperti yang sudah-sudah, tak sesuai harapan.

***

Sebagai pengantar, saya akan menyajikan satu rumus. Hanya untuk gambaran saja, berupa pembagian matematika sederhana.

Rumus ini berkaitan dengan ekspektasi, usaha, dan hasil. Seperti ini:

[Usaha : (dibagi) Ekspektasi = (sama dengan) Hasil]

Sebagai penjabaran dari rumus ini, katakanlah bilangan dari usaha adalah 1, lalu ekspektasi 2, maka 1:2 = 0,5.

Kalau usahanya 1, ekspektasi 1, hasilnya 1:1= 1. Hasil, usaha dan ekspektasi angkanya sama besar.

Satu lagi. Kalau usaha 1, ekspektasi 0. Dengan rumus itu dan menurut ilmu matematika, 1:0 = tak terhingga.

Rumus terakhir mungkin yang terjadi di Timnas U-22 besutan Indra Sjafri. Masih segar di ingatan saya kalau pelatih asal Padang itu cuma menjadikan ajang di Phnom Penh, Kamboja, bulan lalu itu sebagai ajang uji coba menuju kualifikasi Piala Asia 2020.

Pernyataan logis saya rasa. Persiapan menuju turnamen mepet, tak ada uji coba internasional, ditambah tiga hasil imbang saat melawan klub Liga 1 menjelang keberangkatan ke Kamboja.

Timnas Indonesia U-23 saat berlatih di Stadion Madya, Senayan. Timnas Indonesia U-23 saat berlatih di Stadion Madya, Senayan. (Rifkianto Nugroho/detikSport)

Dua hasil imbang di pertandingan pertama fase Grup Piala AFF saat berduel dengan Myanmar dan Malaysia, makin membuat ekspektasi untuk berprestasi tinggi dari sebagian besar para pecinta Garuda Muda ada di titik terendah.

Hal inilah yang dibayar tunai oleh Indra Sjafri dan para pemain pilihannya. Kamboja ditaklukkan untuk mengamankan tiket ke semifinal.

Setelah itu, Vietnam ditumbangkan di babak empat besar. Lalu, comeback atas Thailand memastikan gelar juara Piala AFF U-22 yang perdana bagi Indonesia.

Saya menjadi salah satu orang yang beruntung bisa menjadi saksi pesta Sani Rizki Fauzi dkk langsung dari tribune Olympic Stadium, Phnom Penh, 26 Februari 2019.

Pesta pun dimulai, kiper Timnas U-22, Awan Setho Raharjo, pemain pertama yang berhasil saya mintai sedikit komentar.

"Ini merupakan buah kerja keras dari semua, pelatih, ofisial, manajemen, dan pemain sendiri. Alhamdulillah kami bisa membuktikan ke masyarakat kalau kami bisa," kata dia saat itu.

***

Pelajaran Setengah Dekade

Sejak 2013, Timnas kelompok umur juga diperhatikan pecinta bola Tanah Air. Kesuksesan Evan Dimas Darmono cs menjadi juara Piala AFF U-19 menjadi oase di tengah kemiskinan prestasi dari sepakbola.

Keberhasilan tim yang juga dilatih Indra Sjafri itu kemudian diteruskan dengan keberhasilan melaju ke putaran final Piala Asia U-19.

Pada babak kualifikasi yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Indonesia menghajar Korea Selatan dengan skor 2-3. Indonesia memperagakan gaya main yang mengesankan, hingga ekspektasi para pendukung pun makin tinggi. Mengejar ambisi untuk lolos Piala Dunia U-20.

Persiapan panjang pun dilakukan, hasil turnamen di Myanmar pada 2014 tak sesuai ekspektasi. Indonesia gagal lolos grup, bahkan menyandang status juru kunci grup setelah kalah dari Australia, Uni Emirat Arab, dan Uzbekhistan.

Saya menjadi saksi langsung kegagalan Timnas U-19 saat itu. Permainan Evan Dimas cs menang tak semulus di Piala AFF setahun sebelumnya.


Prestasi yang jelas jauh dari ekspektasi. Harapan untuk berlaga di pesta sepakbola sejagat pupus, meski masih di level U-20.

Pasang-surut lantas terjadi di sepakbola Indonesia pasca itu. Titik nadirnya saat disanksi FIFA. Pendukung Timnas pun harus istirahat nyetadion.

Setelah sanksi dicabut pada 2016, Indonesia langsung sibuk. Timnas senior menjadi yang pertama berlaga. Ajangnya, ya jelas, Piala AFF, level Timnas kita memang masih berkutat di Asia Tenggara.

Alfred Riedl yang menjadi pelatihnya, dengan skuat terbatas karena klub-klub cuma mau melepas dua pemain.

Tanpa ekspektasi yang tinggi, Indonesia lolos ke final. Riedl sudah bilang sejak awal, laju Indonesia ini kejutan karena nyaris menjadi juara.

Saat itu, Indonesia tinggal berjarak satu laga dari mengangkat piala. Euforia di seluruh negeri menjadi beban usai kemenangan 2-1 di Stadion Pakansari, Cibinong di leg I babak puncak.

Keluarga pemain didatangkan ke Bangkok, untuk memberi dukungan langsung. Mimpi untuk membawa pulang Piala AFF untuk pertama kalinya ke Indonesia pupus setelah kalah 0-3 di Rajamangala.

Ekspektasi tinggi yang tak bisa dipenuhi level senior itu kemudian dibebankan ke juniornya. Timnas U-16 menjadi salah satu tim yang harus memikul beban berat.

Usai juara Piala AFF U-16 2018 di Sidoarjo, Jawa Timur, Amiruddin Bagus Kahfi Alfikri cs dibebani target ke Piala Dunia U-17 saat berlaga di Piala Asia U-16 di Malaysia tahun lalu.

Tim asuhan Fakhri Husaini itu terhenti di babak perempatfinal. Mereka dikalahkan Australia di delapan besar itu. Dengan laju itu, Timnas pun gagal memenuhi syarat ke Piala Dunia U-17, karena hanya semifinalis dari Asia yang berhak bermain di sana.

Publik pun mengungkapkan kekecewaan atas hasil Bagas-Bagus dkk itu di media sosial. Padahal, sejak awal, dalam salah satu sesi jumpa pers, Fakhri sudah meminta agar fans meredam ekspektasi tinggi. Itu agar Timnas U-16 tampil tanpa bebas. Bisa jadi Fakhri juga tak ingin suporter Indonesia menuai kekecewaan.

"Ya, usia 16 tahun itu usia development, bukan bicara hasil. Tapi ini sebenarnya sudah terbalik, beban sepak bola timnas [senior] itu dibebankan kepada Timnas Indonesia U-16. Ini keliru sebenarnya, bukan kami yang mengangkat harkat martabat sepakbola Indonesia," kata Fakhri.

Timnas Indonesia U-23 akan menjalani laga perdana lawan Thailand. Timnas Indonesia U-23 akan menjalani laga perdana lawan Thailand. (Rengga Sancaya/detikSport)

Mimpi untuk lolos Piala Dunia juga masih belum bisa diwujudkan oleh Indra Sjafri tahun lalu. Menjadi tuan rumah Piala Asia U-19, Indonesia dihentikan Jepang di babak perempatfinal. Target tinggi PSSI meleset lagi.

Berkaca dari kegagalan-kegagalan itu, Timnas U-22 mesti diberi porsi ekspektasi sesuai dosisnya.

Marinus Maryanto Wanewar dkk sudah berada di Hanoi untuk menjalani Kualifikasi Piala Asia U-22. Indonesia segrup dengan Thailand, Vietnam, dan Brunei Darussalam. Jelas bukan grup yang mudah untuk Timnas U-23, meski mempunyai modal cukup oke dengan catatan 11 kali bermain tanpa kekalahan.

Saya cuma ingin mengingatkan agar detikers menyusun ekspektasi kepada Timnas U-23 seminimal mungkin. Biarlah Marinus dkk bermain lepas.

Sejak 'mengawal' Timnas mulai 2014, saya menjadi saksi kegagalan-kegagalan akibat ekspektasi yang terlalu tinggi itu. Kekecewaan yang bertambah saat melihat kerja PSSI yang menaungi Timnas itu.

Satu kebahagiaan tiada tara saya tuai ketika justru tak berharap lebih kepada Timnas U-22 di Piala AFF U-22. Mereka juara di Kamboja. Senang rasanya melihat mereka berkalung medali, mengangkat trofi, dan diguyur konfeti.

Rumus ini sepertinya harus dipakai lagi, [usaha:ekspektasi=hasil]. Biarlah Timnas U-23 melakukan usaha sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Katakanlah itu satu. Maka, agar hasilnya tak terhingga, ekspektasi harus dijaga tetap seminimal mungkin atau nol. Itu saja.

Selamat berjuang, Timnas U-23!

(cas/fem)