Napi Dapat Kesempatan Kedua via Sepakbola

Napi Dapat Kesempatan Kedua via Sepakbola

- Sepakbola
Rabu, 01 Sep 2010 14:49 WIB
Napi Dapat Kesempatan Kedua via Sepakbola
Colina - Keluar dari jeratan dunia hitam bukan perkara gampang. Untungnya sekelompok narapidana di Chile mendapat bekal untuk balik ke jalan yang lurus dan mendapatkan kesempatan kedua, lewat sepakbola.

Total 10 napi laki-laki dan 10 napi perempuan mendapat kesempatan langka setelah terpilih ke dalam program latihan spesial dalam menjadi wasit. Ini ditujukan sebagai penghargaan buat mereka atas perilaku baik sekaligus mempersiapkan diri mereka kembali ke lingkungan.

"Jadi orang-orang ini, yang pernah melanggar aturan di lingkungan, hari ini dilatih dan diberikan kuasa untuk menerapkan peraturan dalam pertandingan," terang Claudio Storm yang merupakan Direktur Eksekutif program Social Fund, seperti dikutip AFP.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di penjara laki-laki, seorang wasit profesional bertemu dengan "para muridnya" di luar ruangan, di mana dia mengajari mereka aturan-aturan sepakbola dengan bantuan dari sebuah video.

Sang wasit dengan tekun mendengarkan pertanyaan dari para napi serta memperlihatkan video sebuah partai di Piala Dunia 2010. Dari sana mereka lantas menganalisis keputusan kontroversial yang ada.

Tuntas melahap teori, para napi pun kini harus mempraktikkan langsung ilmu barunya dalam bidang mewasiti pertandingan tersebut. Kans hadir dengan digelarnya turnamen antar-penjara yang digelar di penjara Colina I, Chile.

Nuansa tahanan tak ayal lekat sekali dalam turnamen itu. Lapangannya dikelilingi pagar tinggi, permukaan rumput di lapangan pun ala kadarnya saja. Tapi nuansanya yang gegap gempita, dengan musik dan suara siulan dari para penonton sesama napi, tak kalah dengan partai bergengsi.

Lantas bagaimana aksi dari para "wasit"? Tampil penuh percaya diri, mereka mengabaikan riuh-rendah penonton dan serius mengamati jalannya pertandingan. Seorang instruktur pun ikut mencermati kepemimpinan mereka.

Lazimnya pertandingan, ada saja pemain yang tak puas dan melancarkan protes. Hebatnya, wasit tak perlu harus selalu mengurusinya karena dari tepi lapangan biasanya ada saja penonton lain yang menegaskan ulang eksistensi wasit di lapangan.

"Ada permainan di mana mereka bikin kesalahan, tapi aku membiarkan mereka terus main. Aku membiarkan permainan jalan terus supaya mereka jadi lelah dan akhirnya tak banyak protes. Lebih baik membiarkan pertandingan jalan terus," ungkap salah satu wasit, Rodrigo Alarcon.

"Ini, kan, olahraga fisik, akan selalu ada permainan yang menjurus bahaya," lanjut pria yang masih harus menjalani masa kurungan sebanyak 36 bulan lagi karena kasus perampokan.

Johnny Matamala, pria 27 tahun yang juga dipenjara karena kasus perampokan, sangat berharap bisa memanfaatkan ilmu mewasiti itu selepasnya dari tahanan. Dia ingin mengubah citra buruk seorang mantan tahanan.

Kinerja Matamala sebagai wasit sendiri ternyata cukup mengesankan. Para gurunya pun dikabarkan bakal menyiapkannya untuk memimpin liga setempat. Di Chile, seorang wasit bisa mendapat 15 ribu-20 ribu peso (30 dan 40 dolar AS) untuk sebuah laga amatir.

Jika sudah cukup dikenal dan dipanggil menjadi wasit di sana-sini, satu akhir pekan saja si wasit dapat memimpin di tiga atau empat laga. Kalikan itu dengan sebulan dan si pengadil lapangan bisa dapat sekitar 500 dolar AS (Rp 4,5 juta) per bulannya.

"Aku sudah keluar masuk tahanan semenjak kecil. Anak-anakku terbiasa melihatku di bui. Aku tak mau lagi ada di balik tahanan. Aku ingin sebuah kesempatan," tegas napi lain, Marcos Ayala (27 tahun).
(krs/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads