Urusan itu adalah pemberian gelar kebangsawanan, "Sir", sehubungan dengan prestasi teranyarnya meraih dua medali emas nomor lari 5.000 meter dan 10.000 meter pada Olimpiade 2016--mempertahan dua medali serupa di nomor yang sama pada Olimpiade empat tahun lalu.
[REUTERS/Stoyan Nenov] |
Pencapaian tersebut turut membuat sejumlah kalangan menilai atlet 33 tahun tersebut sudah cukup layak dapat kehormatan lebih lanjut, setelah sebelumnya juga telah dianugerahi predikat CBE, gelar penghargaan tingkat ketiga Britania Raya, usai Olimpiade 2012.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aku bahkan tidak pernah bermimpi jadi juara Olimpiade, apalagi sampai empat kali. Apa saja mungkin, tapi buatku terserah kepada publik. Aku cuma haris menikmati apa yang aku lakukan dan terus meraih medali buat negaraku karena aku senang menang.
"Menjadi Sir Mo akan luar biasa. Aku ingat Sir Alex Ferguson mendapatkannya karena pencapaiannya di Manchester United dan juga Sir Steve Redgrave (mantan pedayung yang meraih lima medali emas beruntun Olimpiade 1984-2000) atas apa yang ia lakukan, dan bisa berada dalam kategori yang sama dengan mereka akan luar biasa," tuturnya.
Farah lahir di Somalia dan datang ke Inggris pada usia 8 tahun. Ia dikenal sebagai penggemar Arsenal dan pernah berlatih bareng tim senior klub London tersebut. Setelah pensiun dari dunia atletik nanti Farah bahkan mengaku ingin jadi pelatih kebugaran The Gunners.
Mobot, gaya khas Farah [REUTERS/Dylan Martinez] |
"Aku cuma bangga dengan apa yang sudah aku capai selama bertahun-tahun. Ini sudah menjadi perjalanan panjang penuh suka dan duka. Satu hal yang menjadi penyemangatku adalah aku menyenangi apa yang aku lakukan," ujar Farah.
"Aku tak keberatan bersusah payah dan menambah menu lari, terus bekerja keras. Begitulah diriku. Dalam karier aku ingin terus meraih medali dan membuat negaraku bangga," sebut pria bernama lengkap Mohamed Muktar Jama Farah itu.
(krs/mrp)












































[REUTERS/Stoyan Nenov]
Mobot, gaya khas Farah [REUTERS/Dylan Martinez]