Syaharani: Sepakbola Sama Dengan Nyanyi
Jumat, 23 Sep 2005 00:08 WIB
Jakarta - Ribut-ribut sepakbola tanah air membuat diva jazz Indonesia, Syaharani prihatin. Bagi wanita asal Malang ini, sepakbola sama dengan nyanyi, pekerjaan profesional yang terikat aturan."Pertandingan batal karena tim mundur akibat intimidasi terhadap suporter? Sepertinya ini baru terjadi, dan hanya di Indonesia." Demikian Syaharani mengungkapkan keterkejutannya kepada detiksport, Kamis (22/9/2005) mengenai kasus mundurnya Persebaya Surabaya di pertandingan terakhirnya di babak 8 besar Liga Djarum Indonesia menghadapi Persija Jakarta.Ia mengaku prihatin melihat kompetisi sepakbola paling bergengsi di Indonesia, harus mengalami proses yang tidak terjadi di negara-negara lain. Bagi pemilik suara yang sangat kental dengan warna musik jazz itu, dunia tarik suara yang digelutinya punya kesamaan dengan sepakbola. Keduanya merupakan dunia profesional, yang terikat pada aturan dan manajemen. Bedanya, sepakbola punya organisasi besar yang mengatur segala sesuatunya, dan di Indonesia organisasi itu adalah PSSI."Sejak awal permasalahannya adalah suporter. Memang sulit, tetapi proses pemberangkatan suporter seharusnya ada koordinator. Cuma kalo kondisinya pertandingan tidak jadi karena suporter, ini sepertinya belum pernah terjadi. Kalau untuk pembelajaran, mungkin bisa diterima. Tapi apa harus caranya seperti itu?" ujar wanita yang mengaku fans Arema Malang, Petrokimia Gresik dan PSM Makassar itu."Di satu sisi ini menyangkut masalah keselamatan dan nyawa orang, tetapi di sisi lain sepakbola adalah olahraga yang butuh sportivitas. Keributan antar suporter itu alamiah, meski seharusnya tidak sampai mengancam nyawa. Namun masalah itu seharusnya menjadi porsinya pihak tertentu seperti polisi. Sulit memang. Ini masalahnya organisasi dalam sepakbola. Tetapi akhirnya semua pihak harus berpegang pada peraturan," tuturnya.Meski tidak konsisten, wanita kelahiran 21 Juli 1971 itu mengaku suka menyaksikan pertandingan sepakbola di sela-sela kesibukannya. Menurutnya olahraga yang dimainkan oleh 22 pemain dalam satu lapangan itu memiliki keunikan. "Meski permainan tim, tidak selamanya hasil pertandingan tergantung permainan tim. Kadang-kadang satu orang pemain bisa menentukan hasil pertandingan. Kejadian seperti inilah yang membuat pemain itu menjadi bintang," ujarnya. (lom/)










































