Peter Drury, Sang Dewa Puisi Komentator Sepakbola

Afif Farhan - Sepakbola
Rabu, 14 Apr 2021 17:00 WIB
Peter Drury
Peter Drury, Sang Dewa Puisi Komentator Sepakbola (Twitter)
Jakarta -

Fans sepakbola rasa-rasanya pasti mengenal nama ini. Peter Drury, sang komentator sepakbola dunia yang terkenal dengan gaya puitisnya.

Ada banyak nama-nama komentator sepakbola ulung di dunia. Sebut saja seperti Martin Tyler, Jim Beglin, dan Jon Champion. Gaya komentator mereka bikin pendengarnya bak ikut merasakan langsung atmosfer pertandingan. Malah bisa bikin bulu kuduk merinding.

Termasuk, Peter Drury. Gaya puitis menjadi ciri khasnya.

Peter DruryPeter Drury (Twitter)

Peter Drury, pria berusia 54 tahun ini sudah menjadi komentator sepakbola sejak tahun 1990. Awalnya dari komentator BBC Radio, lalu pelan-pelan merambah ke Liga Inggris.

Peter Drury pun pernah bekerja di BBC, sampai akhirnya kini di BT Sport dan CBS Sports. Bahkan, Peter Drury sudah langganan jadi komentator Piala Dunia, Piala Eropa, termasuk Liga Champions.

Gaya komentator Peter Drury seperti membaca puisi. Tidak lebay, tapi pas kadarnya. Sehingga para pemirsa di rumah ikut larut dalam gemerlap suka cita yang terjadi di dalam stadion.

Sebutlah seperti kala AS Roma comeback mengalahkan Barcelona pada perempatfinal Liga Champions 2018. Roma kalah 1-4 di leg pertama yang digelar di Camp Nou, selanjutnya menang 3-0.

Gol penentu dari Kostas Manolas begitu membahana. Bukan karena Stadion Olimpico bersorak, tapi juga tutur kata Peter Drury yang begitu menusuk hati!

"Roma telah bangkit dari reruntuhannya! Manolas, Dewa Yunani di Roma! Hal yang tak terpikirkan terbentang di depan mata kita. Ini tidak dimaksudkan untuk terjadi, ini tidak mungkin terjadi ... ini sedang terjadi!" kata Peter Drury.

"(Pelatih Roma) Di Francesco tidak tahu ke mana harus pergi, (Andres) Iniesta tidak tahu ke mana harus mencari," sambungnya tepat ketika kamera menyorot dua orang tersebut.




Satu lagi yang juga begitu terkenal, adalah kala Peter Drury jadi komentator pembukaan pertandingan Piala Dunia Afrika Selatan 2010 antara Afrika Selatan vs Meksiko.

Gol pertama Afrika Selatan dicetak oleh Siphiwe Tshabalala. Peter Drury, mengantarkan selebrasi perayaan golnya dengan kata-kata yang sungguh meresap.

"Gol Bafana Bafana... Gol untuk Afrika Selatan, gol untuk seluruh Afrika!

[Gambas:Youtube]




"Saya suka sepakbola, saya suka membaca, dan saya suka merangkai kata-kata," kata Peter Drury dalam wawancara kepada 90min Football.

"Komentator harus ingat, kalau dia hanya bagus ketika memberikan komentar dalam momen yang tepat," jelasnya.

Peter Drury mengaku, dirinya tidak mempersiapkan kata-kata khusus. Semuanya datang begitu saja, ketika suatu momen datang.

"Ketika gol Manolas, saya bahkan sempat sepersekian detik tidak tahu siapa yang mencetak gol. Ternyata Manolas, dia orang Yunani dan lalu terjadi begitu saja saya mengucapkan dewa dan lainnya," lanjut Peter Drury.

Peter DruryPeter Drury (kanan) (Twitter)

Peter Drury menjelaskan, kalau menjadi komentator sepakbola bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Komentator harus ikut larut dalam atmosfer pertandingan di stadion, harus seperti terlibat dalam pertandingan, dan memberikan punchline tepat di momen yang tepat.

Bahkan, Drury harus mempersiapkan diri dengan lima atau enam lembar kertas A4, yang berisikan semua data pemain dari setiap kubu, berbagai statistik, berita terkini dari klub dan pemainnya, dan sejarah klubnya.

Untuk lulusan seorang sarjana akuntan, Peter Drury sungguh sukses memberikan warna dalam dunia komentator sepakbola. Bukan cuma pengetahuan sepakbola yang akan didengar penonton di rumah, tapi juga rasa emosional di dalam dada.

"Bagi saya olahraga adalah tentang manusia dalam segala kehebatan dan kelemahan mereka," terangnya.

"Komentator bukanlah tentang dirimu. Tapi tentang, bagaimana dirimu bisa membawakan dengan baik setiap momen pertandingan kepada para penonton. Kadang kamu bisa gagal kok, tapi memang begitu adanya," tutupnya.

(aff/krs)