Kontroversi Taliban dan Lionel Messi di Cover Charlie Hebdo

ADVERTISEMENT

Kontroversi Taliban dan Lionel Messi di Cover Charlie Hebdo

Tim detikcom - Sepakbola
Kamis, 19 Agu 2021 10:19 WIB
PARIS, FRANCE - AUGUST 14: Lionel Messi of Paris Saint-Germain is introduced to the fans prior to the Ligue 1 Uber Eats match between Paris Saint Germain and Strasbourg at Parc des Princes on August 14, 2021 in Paris, France. (Photo by David Rogers/Getty Images)
Kontroversi Taliban dan Lionel Messi di Charlie Hebdo. Foto: Getty Images/David Rogers
Jakarta -

Majalah Prancis Charlie Hebdo membuat kontroversi lagi. Kini terkait Taliban dan Lionel Messi.

Then24.com menyebut, penggambaran tersebut merupakan karya dari kartunis Biche. Isinya adalah tiga sosok, yang terindikasi sebagai wanita dengan memakai busana tertutup ala burqa, dengan nama dan nomor 30 milik Messi di bagian punggung.

"Taliban. Ini lebih buruk dari perkiraan awal," demikian judul pada cover Charlie Hebdo, yang menyertai kartun kontroversial tersebut.

MessiTaliban dan Messi di Charlie Hebdo. Foto: dok. Charlie Hebdo

Marca menyebut bahwa Nasser Al-Khelaifi, presiden Paris Saint-Germain, memang dikenal memiliki relasi dekat dengan keluarga Emir Qatar -- yang juga rutin disebut sebagai penyandang dana utama klub kaya Prancis itu.

"Charlie Hebdo membuat kartun kontroversial yang melibatkan Messi dan Taliban," sebut Marca dalam judul artikelnya.

Seperti diketahui, Lionel Messi bergabung dengan PSG dalam sebuah megatransfer sepakbola musim panas ini. Kontrak Messi yang habis di Barcelona, dan tak kuasa diperpanjang klub Catalan itu, membuatnya bisa gabung PSG secara free transfer.

Lionel Messi, right, and PSG president Nasser Al-Al-Khelaifi hold Messi's jersey Wednesday, Aug. 11, 2021 at the Parc des Princes stadium in Paris. Lionel Messi said he's been enjoying his time in Paris Presiden Paris Saint-Germain Nasser Al-Khelaifi dan Lionel Messi, yang akan memakai nomor punggung 30 di klub kaya Prancis tersebut. Foto: AP/Francois Mori

Ditambahkan Then24.com, Qatar sendiri acapkali dikait-kaitkan dengan kelompok-kelompok fundamentalis di dunia Arab. Kaitan itu yang memicu kemunculan kartun kontroversial teranyar di Charlie Hebdo.

Taliban kini sedang jadi topik hangat setelah kembali menguasai Afghanistan. Kehadirannya diduga akan berimbas negatif pada hak-hak wanita di sana.

Dulu, di bawah pemerintahan Taliban dari tahun 1996-2001, kaum perempuan tidak diperbolehkan keluar rumah tanpa didampingi muhrimnya, serta diharuskan mengenakan burqa yang menutup wajah hingga ujung kaki. Perempuan juga tidak diperbolehkan bekerja dan anak perempuan tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan setelah melewati usia 10 tahun.

Majalah Charlie Hebdo sendiri tidak asing dengan kontroversi, termasuk kali ini yang melibatkan Taliban dan Lionel Messi.

(krs/raw)