Barcelona Diguncang Skandal Pelecehan Seksual

Yanu Arifin - Sepakbola
Kamis, 31 Mar 2022 15:40 WIB
Picture shows a exterior view of the Camp Nou stadium in Barcelona on September 4, 2020. - Lionel Messi confirmed today he will stay at Barcelona, insisting he could never go to court against
Logo Barcelona. (Foto: /PAU BARRENA/AFP)
Barcelona -

Skandal pelecehan seksual mengguncang Barcelona. Ada pemain tim putri yang mengaku diperlakukan tak pantas di dalam klub.

Seperti dilaporkan Marca, Gio Queiroz, pemain putri Barcelona, mengaku mendapat perlakuan kasar dalam tim putri Barcelona. Hal itu ia alami sebelum pindah ke Levante sebagai pemain pinjaman.

Dalam surat yang ditulis untuk Presiden Joan Laporta, Queiroz mengatakan,"Presiden yang terhormat [Laporta]. Tidak mudah mencapai titik ini. Butuh berbulan-bulan kesedihan dan penderitaan. Terlepas dari semua yang telah saya lalui, hari ini saya dapat mengecam perilaku kasar yang saya alami di dalam tim wanita Barcelona," katanya.

Dalam pengakuannya, Queiroz, yang masih berusia 18 tahun, mengaku mendapat perlakuan otoriter dalam tim. Hal itu sampai mengarah kepada mengatur masa depan Queiroz.

Queiroz mengaku dilarang membela tim nasional Brasil, dan dihukum ketika nekat bergabung Selecao. Kemudian, pelecehan ia terima dari banyak pihak di Barcelona sebagai konsekuensi lainnya karena berusaha mengejar mimpinya.

"Budaya pelecehan dan kekerasan laki-laki terhadap perempuan tidak dapat diterima atau ditoleransi. Sebagian besar agresor menggunakan kekuatan mereka di dalam perusahaan untuk menundukkan korban mereka, termasuk yang paling rentan, seperti gadis di bawah umur," katanya.

"Saya menerima indikasi bahwa bermain dengan tim nasional Brasil tidak akan menjadi hal terbaik untuk masa depan saya di klub. Mekanisme tekanan lainnya mulai terjadi. Mereka melecehkan saya dengan cara yang kasar, sehingga saya dipaksa menyerah mewakili tim nasional Brasil. Metode sewenang-wenang digunakan dengan tujuan yang jelas untuk merusak kehidupan profesional saya di dalam klub," ungkapnya.

Tak cuma itu, Queiroz mengaku sempat dikurung saat dinyatakan melakukan kontak dengan penyintas COVId-19. Ia dilarang beraktivitas, meski aturan tidak mengharuskannya karantina.

"Mereka mengurung saya secara ilegal dan saya tidak bisa meninggalkan rumah. Saya tidak bisa berlatih atau melakukan rutinitas normal. Saya sangat terpukul.

"Saya kemudian dituduh melakukan indisipliner yang serius dan akibatnya, saya akan dikeluarkan dari tim dan menderita konsekuensi serius. Saya benar-benar terkejut."

"Seiring berjalannya waktu, pelecehan dan kekerasan psikologis menjadi lebih intens dan destruktif. Perempuan layak dihormati dan bermartabat," tegasnya.

Keluhan tersebut sempat menjadi perhatian serius manajemen Barcelona dan FIFA. Namun, Blaugrana dinyatakan tidak bersalah atas masalah itu.

(yna/krs)