Prancis dilanda kerusuhan yang dipicu demonstrasi besar-besaran. Legenda Arsenal Emmanuel Petit amat geram melihat negaranya dirusak seperti itu.
Kerusuhan melanda Prancis pada Sabtu (17/10/2026). Demonstrasi yang menolak kenaikan harga berubah menjadi perusakan dan penjarahan toko-toko di kota-kota besar.
Demonstran bahkan membakar Balai Kota Limoges yang berusia 143 tahun. Bangunan bersejarah ini terdaftar sebagai cagar budaya Prancis, bahkan selamat dalam 2 Perang Dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penjarahan, kerusuhan, hingga pembakaran gedung bersejarah di Prancis memantik amarah Emmanuel Petit. Pria yang membawa Les Bleus juara Piala Dunia 1998 ini melontarkan amarah dalam siaran video di media sosial.
"Seperti banyak orang lain, saya menyaksikan apa yang terjadi pada 17 Oktober. Saya menganggapnya sebagai skandal besar," kata Petit, dilansir dari Foot1.
"Tidak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan perasaan saya; saya sangat marah kepada orang-orang yang seharusnya seperti saya, lahir sebagai warga negara Prancis, tetapi tampaknya tidak peduli sama sekali tentang memiliki paspor Prancis. Saya bahkan yakin mereka membenci Prancis," dia menambahkan.
"Pikiran saya tertuju pada polisi dan orang-orang yang kehilangan pekerjaan pada 17 Oktober... Hari ini, saya merasa ingin turun ke jalan dan melawan semua bajingan kecil ini."
Petit menilai pola kerusuhan ini mirip-mirip dengan kerusuhan yang terjadi setelah final Liga Champions yang dimainkan Paris Saint-Germain. Orang-orang bertopeng menghancurkan, membakar, dan menjarah toko-toko di Paris.
Dalam pandangan Petit, oknum imigran dan keturunannya yang sudah berpaspor Prancis terlibat dalam kerusuhan-kerusuhan yang terjadi. Pria berusia56 tahun ini mendesak orang-orang asing yang mencari kehidupan di Prancis, tapi menolak untuk berintegrasi dengan masyarakat dan budaya Prancis, untuk angkat kaki dari negaranya.
"Saya menyukai orang-orang asing yang mencintai Prancis dan ingin berintegrasi. Namun di luar itu, dimulai dari warga negara Prancis yang tidak ingin Prancis mempertahankan identitasnya, kembalilah ke tempat asal Anda, kami tidak membutuhkan Anda. Pergi! Kami tidak menginginkan Anda lagi," Petit menegaskan.
(bay/cas)










































