Selama sebulan lamanya, umat Islam di seluruh dunia harus menahan hawa nafsu, emosi, termasuk makan dan minum. Ketika waktu maghrib tiba barulah berbuka puasa dilakukan, makan dan minum kembali diperbolehkan.
Namun, semua rutinitas bulan Ramadan itu tak dilakukan oleh Nasri. Gelandang Arsenal itu memang tak dengan sengaja melakukannya, melainkan lebih karena jadwal kompetisi sepakbola Eropa yang tengah padat-padatnya di musim panas memaksanya berbuat demikian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tak merayakan bulan Ramadan. Hal itu akan sangat sulit di tengah jadwal padat musim panas. Dan dengan jadwal pertandingan yang beriringan hal itu tak akan bagus untuk kebugaran tubuh," ujarnya seperti dilansir AFP. Meski besar di Prancis, orang tua Nasri berasal dari Aljazair, negara di mana mayoritas penduduknya beragama Islam.
Kini Nasri tengah menjajaki adaptasi dengan kehidupan barunya di Arsenal. Ia pun mengaku tak kesulitan karena mayoritas pemain The Gunners menggunakan bahasa Prancis di ruang ganti.
"Semuanya berjalan lancar. Suasananya membahagiakan saya: banyak anak muda dan semuanya berbahasa Prancis. Di kamar ganti bicara bahasa Inggris membuat bingung pemain asal Prancis, Swiss, Afrika, bahkan pelatih. Semua orang akhirnya ngobrol dengan bahasa Prancis!"
(roz/a2s)











































