sepakbola

Klub Tolak Intervensi Polisi di Lapangan

Terpopuler Jadwal Pertandingan Klasemen Liga Hasil Pertandingan Man of The Match Gila Bola Foto Video

Klub Tolak Intervensi Polisi di Lapangan


- detikSepakbola

Kediri - Langkah Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Surakarta untuk melanjutkan pemeriksaan terhadap dua pemain dari insiden tawuran di tengah lapangan, saat berlangsungnya pertandingan, mendapat tentangan.

Pada pertandingan kompetisi Liga Indonesia Divisi Utama antara Persis Solo versus Gresik United di Stadion Maladi, Solo, 12 Februari lalu, sejumlah pemain terlibat baku pukul yang mengakibatkan situasi kacau balau.

Kerusuhan dipicu oleh pemukulan yang dilakukan Bernard Mamadou (GU) terhadap Nova Zaenal (Persis). Laporan menyebutkan, mereka ribut karena Mamadou tidak melakukan tendangan fair play ketika terjadi pelanggaran terhadap Javier Rocha.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perkelahian di antara mereka berdua meluas dan melibatkan banyak pemain lain. Ironisnya, kerusuhan ini terjadi di depan mata Walikota Solo Joko Widodo, Kapolda Jawa Tengah Irjen (Pol) Alex Bambang Riatmodjo, Kapolwil Surakarta Kombes (Pol) Taufik Ansori, dan beberapa perwira di jajaran Polwil Surakarta dan Poltabes Solo. Usai pertandingan Kapolda langsung memerintahkan aparatnya untuk menahan Nova dan Mamadou.

Penahanan dua pemain itu dipermasalahkan oleh "orang bola". Manajer Persik Kediri, Iwan Boedianto, misalnya. Ia tidak setuju urusan di dalam lapangan dicampuri polisi.

"Setiap cabang olahraga memiliki komisi disiplin, termasuk sepakbola. Menurut saya, pada komisi disiplin itulah permasalahan yang terjadi di lapangan dapat diselesaikan," ujar Iwan Boedianto saat dihubungii detiksport melalui telepon selulernya, Selasa (17/2/2009).

Dalam keterangannya Iwan juga mencontohkan kasus pemukulan yang dilakukan (mantan) pemain Persik Christian Gonzales terhadap pemain PSMS Medan Erwinsyah Hasibuan, yang tidak sampai mendapatkan penanganan dari aparat kepolisian.

"Semua mata melihat dan telinga mendegar, jika (Cristian) Gonzales akhirnya dijatuhi sanksi oleh Komisi Disiplin PSSI, meski akhirnya dibebaskan. Intinya, tidak ada ceritanya polisi memiliki wewenang menangani permasalahan di dalam lapangan," tukasnya.

Hal senada diungkapkan pelatih Sriwjaya FC Rahmad Darmawan. Menurutnya, langkah aparat kepolisian tersebut melanggar ketentuan dunia internasional.

"Berdasarkan regulasi terbaru FIFA, setiap permsalahan yang terjadi di lapangan sepakbola tidak dapat diselesaikan oleh kepolisian, meskipun itu berbentuk perkelahian," ujar Rahmad.

Meski demikian, ia memberikan sedikit pengecualian. Menurutnya, polisi dibenarkan melakukan penanganan jika kasus yang terjadi di lapangan merembet sampai ke luar stadion dan mengakibatkan kerugian sejumlah pihak yang tidak terlibat secara langsung dalam pertandingan (insiden) tersebut.

"Tapi setahu saya, kasus yang di Solo 'kan hanya terjadi di lapangan. Jadi saya tidak sependapat jika polisi terus melakukan pemeriksaan atas perkara itu," imbuhnya.


(a2s/din)











Hide Ads