Pertemuan tersebut digelar di Hotel Mercure, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Minggu (19/4/2009), berbarengan dengan perayaan 79 tahun PSSI dan pembukaan Munaslub PSSI yang dimulai hari Senin. Pertemuan ini diikuti oleh seluruh perwakilan klub peserta LSI.
Menurut Direktur Bidang Kompetisi BLI, Joko Driyono, manager meeting terpaksa digelar karena kendala izin pertandingan di beberapa daerah kembali mencuat seperti DKI Jakarta dan Jawa Tengah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada dua opsi yang muncul dalam pertemuan itu. Pertama, menggelar sentralisasi 7-31 Mei. Kedua, sentralisasi parsial.
"Sepuluh tim akhirnya memilih opsi kedua. Sedangkan delapan klub lain memilih opsi pertama. Jadi, keputusan kompetisi akan digelar dengan opsi kedua," lanjut Joko.
Diterangkan Joko untuk pilihan kedua membuka kesempatan klub untuk menggelar partai kandang. Namun sanksi akan diberikan bila klub tersebut gagal menggelar laganya.
"Klub yang gagal menggelar partai home akan dinyatakan kalah WO. Kasusnya juga akan diserahkan ke Komisi Disiplin (Komdis) PSSI."
DilanjutkanΒ Joko, BLI akan menununggu laga tersisa hingga tanggal 5 Mei. Bila ada laga yang gagal akan diselipkan pada jadwal sentralisasi partial 7-31 Mei. Untuk dua laga terakhir di bulan Juni akan berjalan dengan normal.
"Bila masih ada tim yang tidak bisa menggelar pertandingan home diminta untuk melapor ke BLI H-5 dan mereka akan diberi kesempatan untuk mencari stadion lain. Bila masih gagal, tim tersebut akan dinyatakan kalah WO," tegas Joko.
Buffer Zone
BLI akan membantu klub apabila mereka kesulitan mencari tempat untuk bertanding, yakni mencarikan alternatif stadion untuk para klub tersebut.
Solusi itu diambil untuk mencegah apabila ada klub yang bertindak curang untuk menjegal tim lain dengan cara mempersulit izin pertandingan.Β
"Karena itu kami akan mencari buffer zone untuk mengantisipasi hal itu," kata pria berkacamata itu.
(a2s/roz)











































