Pengalaman Bertemu Zizou

Danone Nations Cup

Pengalaman Bertemu Zizou

- Sepakbola
Selasa, 28 Apr 2009 20:41 WIB
Pengalaman Bertemu Zizou
Jakarta - Banyak pengalaman berharga yang bisa didapat para peserta yang mengikuti final Danone Nation Cup (DNC). Salah satunya bisa bertatap muka langsung dengan legenda hidup sepakbola asal Prancis, Zinedine Zidane.

Itu lah yang diutarakan oleh Aldo, salah seorang punggawa Tulungagung Putra Jawa Timur, yang menjadi wakil Indonesia di DNC tahun lalu.Β  Bocah 13 tahun itu mengatakan bahwa ia sangat gembira bisa bertemu dengan 'Zizou' saat mengikuti turnamen.

"Senang sekali saya bisa bersalaman dan bertemu dengan Zidane. Saya juga gembira bisa bertemu dengan teman-teman dari negara lain" tukas Aldo kepada wartawan dalam acara peresmian Danone Nation Cup, STC Senayan, Selasa (28/4/2009) pagi WIB.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bocah berusia 13 ttahun itu pun mempunyai mimpi. "Saya ingin menjadi pemain terkenal dunia dan bekerja keras setiap membela nama Indonesia untuk mencapainya."

Dikatakannya, yang menjadi kekurangan tim 'Merah Putih' adalah dalam hal kecepatan dan teknik. Dia pun juga menyebut bahwa Afrika Selatan dan Brasil menjadi lawan terlaut saat mengikuti turnamen itu tahun lalu di Prancis.

Hal tersebut diamini oleh manajer tim Janta Wiwaha, yang mengatakan bahwa yang menjadi juga kekurangan pesepakbola Indonesia adalah mental dan postur tubuh. Walaupun begitu, ia pun tetap optimistis bahwa Indonesia dapat masuk di wilayah lima besar.

"Tim ini sudah dua tahun dipersipakan. Batasan umurnya 'kan 12 tahun. Jadi, pas mereka di umur 11 sudah di-setting untuk mengikuti turnamen internasional," tukasnya.

"Jadi untuk tim selanjutnya akan saya terapkan seperti itu dan diharap bahwa mereka dapat meraih posisi lima besar di turnamen nantinya."

Terakhir Janta menginsyaratkan suatu hal yang mesti diperbaiki dalam pembinaan sepakbola usia dini di Indonesia. Hal dasar tersebut adalah soal beban pendidikan yang terlalu berat di Indonesia.

"Kalo dibandingkan dengan Eropa, mereka itu semasa SD pelajaran cuma tiga,
sedangkan di sini banyak banget. Jadinya mereka tiap latihan pasti banyak bebannya. Beda dengan anak-anak di Eropa yang bisa bermain dengan lepas dan tanpa beban," pungkasnya. (mrp/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads