Bakal Ada Standardisasi Belanja Klub

Bakal Ada Standardisasi Belanja Klub

- Sepakbola
Selasa, 28 Apr 2009 21:21 WIB
Bakal Ada Standardisasi Belanja Klub
Jakarta - Polemik soal penggunaan Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD) untuk sepakbola sudah menjadi problem setiap klub peserta Indonesian Super League (ISL). Standardisasi pembelanjaan dana APBD oleh klub menjadi salah satu solusinya.

Untuk diketahui, ISL dirancang untuk melatih klub agar menjadi mandiri dan lebih profesional dalam mengatur klub dalam segala hal, khsusunya keuangan. Namun ironisnya yang terjadi malah sebagian besar klub masih menyusu pada pemerintah daerah masing-masing.

Hal ini mengakibatkan banyak klub yang tidak bisa mandiri dan ujung-ujungnya malah mengalami kesulitan keuangan dalam hal menggaji pemain. Itu terbukti pada musim ini, di mana banyak klub yang berteriak minta bantuan subsidi dana pada BLI yang merupakan operator kompetisi di Tanah Air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk mencegah masalah tersebut timbul lagi musim depan, Direktur Kompetisi BLI Joko Driyono dan Departemen Dalam Negeri mencoba berdiskusi untuk menggagas sebuah standardisasi pembelanjaan APBD.

"Mulai musim depan Insya Allah akan kami coba terapkan yang namanya standardisasi pembelanjaan APBD. Sebelum bulan Juni sudah bisa jadi, namun draftnya sudah dikirim ke klub-klub pada Mei lalu," terang Joko kepada wartawan di kantor BLI, Kuningan, Selasa (28/4/2009).

Dilanjutkan Joko, fungsi BLI di sini hanya sebagai regulator Depdagri dalam menentukan batasan dana yang akan diberikan kepada klub. Nantinya yang menentukan keputusan akhirnya tetap Depdagri serta tak menutup kemungkinan untuk klub melakukan bargaining bila dana yang diajukan oleh pemerintah tak sesuai dengan kemauannya.

Untuk masalah gaji pemain yang selama ini turut dipersoalkan juga, Joko menegaskan bahwa tidak akan ada pembatasan gaji, yang ada hanya pembatasan anggaran belanja saja. "Untuk gaji pemain tidak dibatasi, itu terserah klub. Yang kami bikin standardisasinya hanyalah anggaran pembelanjaan klub saja," lanjutnya.

Untuk itu, maka BLI juga sedang merumuskan masalah pengklasifikasi pemain menurut grade. Dari grade tersebut bisa didapatkan batasan harga transfer seorang pemain. Dimisalkan Joko ialah pemain A berharga Rp 100 juta menurut grade BLI, ternyata harga di pasaran adalah Rp 300 juta. Maka bila klub hanya mempunya dana Rp 150 juta, maka sisanya untuk membeli pemain A itu harus dicari sendiri oleh pihak klub.

Di grade mana pemain itu akan diletakkan, bakal ada empat kriteria yang disiapkan oleh BLI. "Ada empat syarat yaitu kontribusi di timnas, kinerjanya di klub, produktivitas (umur) dan perilaku."

"Muara dari dicetuskan ide tersebut agar persaingan antara klub semakin berimbang dan meneruskan keeksistensian seluruh klub peserta ISL di masa mendatang."

Namun Joko punya satu harapan untuk setiap klub. Apa itu? "Setiap klub haruslah rasional, jangan selalu belanja pemain dengan harga-harga tak wajar. Gunakanlah pemain-pemain muda agar mereka juga bisa unjuk kebolehan. Jangan ada lagi seperti Bambang Pamungkas yang ditawar klub dengan tidak karu-karuan seperti itu," seloroh
pria berkacamata itu.


(mrp/arp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads