Satu kesan yang ditangkap dari wawancara dengan Hendri adalah sikapnya yang polos. Hal tersebut bisa terlihat jelas dari beberapa jawaban spontan yang dia berikan serta ceritanya menebus barisan keamanan hingga saat diinterogasi polisi.
Berikut petikan perbincangan dengan Hendri yang dilakukan di wilayah Jakarta Barat:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hendri Mulyadi (HM): Itu semua enggak direncanain
DS: Lalu, kenapa tiba-tiba turun ke lapangan
HM: Itu pertandingan krusial (Indonesia butuh menang untuk setidaknya menjaga peluang lolos ke putaran final Piala Asia 2011). Kalau Indonesia menang saya gak akan lompat.
DS: Apa motivasi turun ke lapangan?
HM: Itu wujud kekecewaan saya
DS: Siapa yang memberi inspirasi melakukan perbuatan itu?
HM: Tidak ada yang menginspirasi saya. Semua spontan saja
DS: Ada pesan yang ingin disampaikan ke PSSI dari aksi itu?
HM: Pinginnya PSSI berbenah diri, ada penonton yang loncat berarti kecewa dan harus berbenah diri
DS: Anda dengan siapa nonton di Senayan?
HM: Bertiga sama teman, mestinya mereka loncat juga biar bisa oper-operan dan bikin gol
DS: Waktu diperiksa polisi ditanya apa saja?
HM: Saya disuruh ngaku siapa yang nyuruh loncat, terus disangka ingin jatuhkan PSSI. Saya jawab saja, silakan periksa saya. Tak ada yang nyuruh, spontan, enggak dibuat-buat
DS: Kok bisa melewati polisi yg jaga di sekitar tribun penonton?
HM: Kebetulan polisinya lagi merhatiin yang di atas, terus saya langsung loncat
DS: Harapannya dengan aksi turun ke lapangan itu?
HM: Saya loncat ke lapangan nekat saja, saya ingin PSSI tahu ada yang kecewa dan PSSI harus melihat kinerjanya
DS: Gimana rasanya banyak orang yang mendukung aksinya dan disiarian d TV?
HM: Senang aja, tapi jadi gak enak capek banyak yg wawancara
DS: Siapa sih pemain favorit? Atau klub yang kamu sukai?
HM: Inter Milan, kalo pemain Javier Zanetti
DS: Waktu kamu loncat perasaan orang rumah kamu bagaimana?
HM: Mereka khawatir, Ibu saya sampai nangis dia ngeliat saya ditangkap petugas.
(din/key)










































