Menuntut Pertanggungjawaban PSSI

Menuntut Pertanggungjawaban PSSI

- Sepakbola
Jumat, 08 Jan 2010 11:48 WIB
Menuntut Pertanggungjawaban PSSI
Jakarta - Turun dan terus menurun. Itulah pencapaian yang didapat tim nasional Indonesia dalam kurun waktu hampir dua dasawarsa terakhir. Jangankan di tingkat dunia, di level ASEAN saja Indonesia kini terpuruk.

Indonesia terakhir kali memperoleh prestasi di turnamen kompetitif adalah pada SEA Games 1991. Setelah itu tim nasional Garuda kering prestasi.

Ada satu gelar lagi didapat pada tahun 2008 yakni juara Piala Kemerdekaan yang digelar di Jakarta. Sayang, kemenangan itu diraih dengan cara yang tidak membanggakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lawan di laga puncak kala itu, yakni Libya, memilih untuk WO setelah terjadi insiden kekerasan terhadap ofisial timnya yang dilakukan oleh ofisial tim Indonesia.

Prestasi Indonesia terus menerus turun dari waktu ke waktu. Bukan sekali dua kali kinerja PSSI disorot akibat hal tersebut.

Meski berada dalam sorotan, PSSI terus jalan dengan idenya untuk memajukan tim nasional. Kebijakan pelatnas jangka panjang yang selama ini terbukti gagal, tetap dilanjutkan.

Tak terhitung berapa kali PSSI melakukan kebijakan pelatnas jangka panjang, dibanding dengan melakukan perbaikan terhadap kompetisi, yang sebenarnya merupakan pondasi untuk membentuk tim nasional yang baik.

Mulai dari program primavera di awal tahun 1990-an, "menitipkan" pemain PSSI U-20 ke klub Persiba Bantul di tahun 2005, hingga pelatnas yang dilakoni pemain U-16 ke Uruguay tahun 2008 hingga 2012 hingga kini belum membuahkan hasil.

Di akhir tahun 2009 PSSI memberikan kado pahit bagi sepakbola Indonesia. Yang pertama adalah kegagalan tim pelatnas Uruguay di kualifikasi Piala Asia U-19.

Selanjutnya kegagalan itu berlanjut ke SEA Games 2009 di mana tim Garuda gagal di babak grup.

Melawan Laos dan Myanmar saja Indonesia takluk. Padahal beberapa tahun silam, dua negara itu masih bukan apa-apanya dibandingkan dengan tim Garuda. Timnas Indonesia pulang dari SEA Games 2009 dengan menduduki peringkat terbawah Grup B dengan hanya memetik satu angka dari hasil seri kontra Singapura.

Tak pelak olahraga yang paling populer di tanah air ini berubah menjadi sebuah sumber kekecewaan.

Belum kering kesedihan atas kegagalan di SEA Games, kegagalan kembali tersaji. Ketika lembaran tahun 2010 baru saja dibuka, satu catatan kelam kembali bertambah dalam daftar pencapaian tim nasional Indonesia.

Rabu (6/1/2010) Merah Putih dipastikan gagal melenggang ke Piala Asia 2011. Ini kali pertama Indonesia absen di Piala Asia setelah selama empat gelaran sebelumnya selalu ikut serta.

Kegagalan itu dipastikan ketika Indonesia takluk dari Oman 1-2 di Jakarta. Dalam pertandingan tersebut Charis Yulianto dkk. tampil mengecewakan.

Indonesia tengah berada dalam kemunduran. Kini bahkan PSSI dipandang lebih baik memandang ASEAN dulu saja sebagai target realistis. "Kalau soal kemunduran, kalah dari Laos saja (di SEA Games lalu) juga sudah sebuah kemunduran. Ukurannya apa? Kita tidak usahlah lihat ke tingkat Asia dulu, lihat saja Asia Tenggara dulu," demikian kata pelatih timnas Benny Dollo.

Kekecewaan atas kemunduran itu dialami semua orang. Namun sejauh ini ada satu yang berani mengekspresikannya, yakni Hendri Mulyadi. Dalam laga melawan Oman, pria asal Bekasi ini nekad masuk ke lapangan. "Saya loncat ke lapangan nekat saja, saya ingin PSSI tahu ada yang kecewa dan PSSI harus melihat kinerjanya," tukas Hendri Mulyadi, soal motivasi di balik perbuatannya itu.


Semua sudah terjadi. Pembenahan menjadi sesuatu yang diharapkan masyarakat dilakukan PSSI. Jadi, bagaimana PSSI?Β 



Foto: Boaz Solossa (merah) melangkah gontai dengan latar belakang para pemain Oman. Indonesia takluk dari Oman dalam kualifikasi Piala Asia, Rabu (6/1/2010). Kekalahan itu membuat Indonesia tersingkir (detiksport/M. Resha Pratama)
(nar/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads