Dalam sebuah kolomnya, Withe yang pernah melatih timnas Indonesia di tahun 2004-2007 menulis tentang beda pemain Indonesia dengan Thailand. Menurutnya, para pemain Indonesia bermain demi uang, beda dengan Thailand yang bermain demi raja dan negara.
Ponaryo yang menjadi kapten timnas di era Withe menjadi arsitek mengaku gemas dengan pernyataan Withe. Ia menolak keras tudingan tersebut dan menyebut bahwa ucapan Withe tak berdasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semasa dia di Indonesia, mungkin yang kami lakukan hanyalah bertanya. Suatu kejelasan itu penting untuk tim," ujar Ponaryo saat dihubungi detiksport dari Jakarta, Jumat (22/1/2010).
"Kami mencoba membangun transparansi, agar segala sesuatu yang berhubungan dengan tim itu jelas," imbuh pemain 30 tahun itu.
Ponaryo lebih lanjut memaparkan bahwa para pemain timnas tidak pernah meminta-minta uang atau imbalan lainnya. Bila setelah main ada penghargaan, menurutnya itu adalah kebijaksanaan pengurus.
Di timnas, Ponaryo menjelaskan bahwa para pemain tidak digaji, namun cuma menerima uang saku harian. Selama membela timnas, pemain tetap digaji oleh klub masing-masing.
"Kalau kami main, pasti ada apresiasi. Tapi kami tidak pernah menuntut. Mau dikasih berapa sama manajemen, ya kami terima. Memang ada kenaikan uang saku dari waktu ke waktu, tapi itu bukan karena tuntutan pemain," kata Ponaryo.
"Bonus kami juga tidak pernah menuntut. Kami tidak pernah menuntut ini kurang, atau minimum segini. Sekali lagi itu kebijaksanaan timnas," urainya.
Persoalan komunikasi memang jadi hambatan selama Withe melatih Indonesia. Eks pemain Aston Villa itu tidak dapat berbahasa Indonesia sehingga salah paham sering terjadi.
"Dia tipe orang Inggris sekali, straight dan blak-blakan. Karena dia tidak bisa bahasa Indonesia, jadi kadang dia cuma bicara dengan beberapa pemain saja dan asisten pelatih," ungkap Ponaryo.
"Kalau dalam persoalan sepakbola sih itu mudah saja dimengerti karena bahasa sepakbola kan universal. Tapi kalau soal lainnya, kadang kurang masuk," katanya. "Yang pemain lakukan cuma meminta transparansi dan kejelasan. Mungkin ini yang jadi sebab salah paham."
(arp/a2s)











































