'Skorsing 20 Tahun Berlebihan'

Ketua Panpel Arema:

'Skorsing 20 Tahun Berlebihan'

- Sepakbola
Rabu, 17 Feb 2010 16:39 WIB
Jakarta - Ketua panpel Arema Indonesia, Abdul Haris, merasa tuduhan Komdis mengenai percobaan suap padanya tak benar. Ia pun mengajukan banding dan menganggap skorsing 20 tahun itu terlalu berlebihan.

Hal itulah yang disampaikan oleh Haris usai memenuhi panggilan Tim Pencari Fakta (TPF) kasus suap dan mafia wasit di Jakarta, Rabu (17/2/2010) sore WIB.

Dalam kronologi yang dibeberkannya dalam pertemuan itu Haris menyanggah kalau dirinya sengaja memfitnah Komdis. Waktu itu ia ditengarai menyebut Komdis meminta komisi 10 persen pada dirinya supaya hukuman laga tanpa penonton Arema vs PSM Makassar bisa dikabulkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, tidak benar apa yang tertera di salinan pembicaraan di situs rcbfm.net antara Haris dengan stasiun radio lokal di Malang.

"Saya di dalam ditanyai tentang isi website tersebut dan saya juga sampaikan yang sebenarnya," ujar Haris kepada wartawan. "Tidak ada percakapan dengan Komdis yang soal permintaan 10 persen itu.”

Tentang skorsing 20 tahun yang dijatuhkan kepadanya, Haris jelas-jelas tidak terima. "Terlalu berlebihan dan emosional karena pasal-pasal yang dikenakan kepada saya itu tidak pas, yaitu pasal rasisme, fitnah dan mempengaruhi pertandingan.”

Karena tak puas, pada Sabtu (13/2) lalu Haris telah mengajukan banding. Ia juga mengaku sampai sekarang masih membantu panpel Arema saat melakukan pertandingan.

"Saya sudah mengajukan banding Sabtu kemarin karena yang disampaikan oleh Komdis waktu itu tidak benar dan saat ini saya benar-benar konsentrasi ke banding. Saat ini saya cuma membantu panpel saja kalau ada pertandingan," pungkasnya. (a2s/arp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads