Sekitar 200-an fans dari berbagai kelompok suporter mendahului Kongres Sepakbola Nasional (KSN) dengan menggelar Kongres Suporter Sepakbola Nasional (KSSN) di Balai Bela Negara Rindam V Brawijaya, Malang, Senin (29/3/2010) malam.
Walaupun semula yang diundang sekitar 54 suporter, yang hadir hanya setengahnya. Menurut keterangan panitia, yang tak jadi datang antara lain karena masih dalam perjalanan untuk mengikuti KSN mulai hari ini, Selasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juga, keberadaan mereka di Malang diharapkan menjadi sebuah suara dari bawah yang bisa dibawa ke KSN.
"Kami menggelar acara ini karena takkan punya suara di KSN. Hasil pertemuan ini akan direkomendasikan kepada ketua kongres Pak Agum Gumelar dan salinannya akan disampaikan kepada presiden dan menteri negara pemuda dan olahraga," demikian penjelasan ketua panitia KSSN, Ade Irawanto.
Setiap perwakilan kelompok suporter menyampaikan pendapat dan masukan-masukan. Terdapat kesamaan visi di antara mereka, bahwa perlu ada perubahan di dalam organisasi PSSI karena terbukti tidak berhasil melahirkan iklim sepakbola yang baik terutama dalam tujuh tahun terakhir ini.
"Semua pengurus PSSI harus bertanggung jawab," demikian suara dari perwakilan Macan Muria, kelompok suporter Persiku Kudus.
"Suporter sering menjadi korban. Padahal, kalau bicara soal nasionalisme, kami ini mungkin yang paling nasionalis dibanding orang-orang PSSI. Contohnya, boleh jadi dari kami ada yang harus jual ayam jual kambing untuk bisa beli tiket nonton pertandingan timnas di Jakarta. Bahkan, kalau perlu, walaupun itu salah, mencuri ayam buat bisa beli tiket," cetus perwakilan Boro Mania dari klub Persibo Bojonegoro. Kalimat terakhir mengundang derai tawa peserta KSSN.
Kelompok suporter Persiba Balikpapan secara spesifik meminta pengurus PSSI yang sekarang bertanggung jawab, paling tidak merasa malu atas ketidakberhasilan. Di Thailand mereka mencontohkan, pejabat federasi punya rasa malu jika timnasnya gagal meraih prestasi tinggi di level Asia Tenggara, bahkan kalau perlu mundur.
Beberapa masukan lain yang muncul lebih bersifat mikro, misalnya membatasi jumlah pemain asing untuk memberi kesempatan pada pemain (muda) lokal, meminta Komisi Displin PSSI bersikap tegas dan konsisten, dan lain-lain. Bonek dari Persebaya juga mengusulkan agar di tubuh PSSI dibentuk sebuah komisi khusus suporter.
Sebagai otokritik, sepantasnya suporter juga mulai serius untuk belajar menjadi suporter yang baik karena ketika mudah terpancing emosi dan berbuat anarki, hal tersebut menciptakan masalah lain yang merugikan banyak pihak. Termasuk mewujudkan cita-cita, tidak sekadar jargon, bahwa sepakbola adalah alat pemersatu, bukan malah menimbulkan perselisihan di antara suporter suatu daerah dengan daerah yang lain.
Sepakbola semestinya menjadi sebuah tontonan bersama untuk dinikmati bersama-sama pula. Mengutip pernyataan seniman Anto Baret yang menjadi salah satu narasumber KSSN, "Semoga kita bisa menggalang persahabatan, dan persahabatan bisa menjadi persaudaraan.”
(a2s/krs)










































