Sejak awal musim lalu Persib memang tidak lagi mendapat kucuran dana APBD. Tim kebanggaan warga Jawa Barat itu bergabung dengan dua tim swasta, Arema Indonesia dan Pelita Jaya, sebagai tiga klub mandiri di ISL.
"Dalam merancang APBD sekarang tidak bisa jor-joran. APBD yang untuk olahraga kita prioritaskan untuk infrastruktur dan pembinaan," kata Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf di sela acara strategic policy discussion "meningkatkan potensi daerah melalui identitas lokal dalam olahraga sepakbola" di kantor Wantimpres, Lalan Veteran, jakarta, kamis (26/08/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menghidupi Persib yang membutuhkan dana sekitar Rp 30 miliar per musim, pengelola menggandeng sponsor. Dengan nama besar yang dimiliki 'Maung Bandung', tidak sulit menggaet pihak swasta untuk jadi penyokong.
"APBD puluhan miliar, pasti masyarakat akan bertanya, ke mana itu uang? Masak buat 11 pemain yang bertanding di lapangan saja?" ur dede setengah bertanya.
"Kita harus mengubah rencana strategis agar sepakbola bisa mandiri dan self sustain. Saya yakin, setiap Persib bermain, pasti ada uang yang mengalir di sana," sambung politisi yang mantan artis itu.
Pencapaian Persib menjadi bukti bahwa pengelolaan klub sepakbola tanpa menyusu pada APBD sangat dimungkinkan. Yang dibutuhkan hanyalah kerja keras dan kreativitas dalam mencari sumber pendanaan untuk mengarungi kompetisi.
"Alhamdulillah, Persib sekarang sudah 100 persen bebas dari dana APBD. Dengan bebas dari APBD itu Persib bisa melangkah lebih enteng," tandas Dede.
(arp/a2s)











































