Dari pengamatan detiksport hingga pukul 13.00 WIB, antrean di Masjid Albina ini masih panjang mencapai 50 meter. Suasana jadi panas karena para pengantre mulai saling dorong dan berteriak-teriak ke arah loket dan orang-orang di depannya.
Situasi ini rupanya membuat beberapa orang yang mengantre jadi menyerah, seperti yang dilakukan oleh dua orang remaja, Putra dan Andreas. Mengaku antre dari 6.30 pagi, keduanya akhirnya memilih tidak melanjutkan mengantre.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun ada juga mereka yang mendapat ganjaran setimpal atas kesabaran mereka mengantre. Inilah yang dialami oleh Teguh (23 tahun) yang jauh-jauh datang dari Manado.
Mengantre sejak 7.30 WIB, Teguh yang khusus datang ke Jakarta untuk menyaksikan timnas Indonesia berlaga melawan Malaysia di leg 2 final, Rabu (29/12), akhirnya memperoleh tiga tiket.
"Puas dapat tiket. Kalau sampai tidak dapat, kecewa juga karena tiket pesawat ke sini lebih mahal," cetus Teguh yang mengaku merogoh kocek sebesar Rp 1,2 juta buat terbang dari Manado ke Jakarta.
Agar proses pengantrean lebih tertib, Teguh menyarankan panitia untuk sering-sering mengatur antrean. Ia juga meminta para pengantre untuk lebih sabar sehingga tidak ada dorong-dorongan.
Demikian juga dengan Ahmat Sugiarto (33 tahun), seorang pegawai di Kemendiknas. Tak sia-sia ia meminta izin ke kantornya untuk mengantre sejak pukul 5.00 pagi WIB tadi. Ahmat mendapat lima tiket untuk ia dan keluarganya.
"Puas mas sudah dapat tiket," simpul Ahmat.
(arp/a2s)











































