Usai gelaran Piala AFF 2010, Riedl kini fokus untuk mempersiapkan timnas U-23 yang dipersiapkan untuk Pra-Olimpiade dan SEA Games.
Mengingat capaian timnas senior di Piala AFF 2010, Riedl niscaya punya tantangan tersendiri. Selain prestasi, tantangan lain ia dapatkan dalam hal intervensi dari pihak-pihak luar tim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Soal intervensi, tidak ada yang bisa ganggu saya. Saya mengambil keputusan soal teknis di sini. Saya takkan mendengar omongan orang lain selain tim kepelatihan saya. Yang tidak suka dengan cara saya silakan pergi saja," tegasnya.
Pemain Muda Lebih Mudah Diarahkan
Menangani pemain muda jelas memiliki cara yang tidak sama seperti ketika membesut para pemain yang lebih senior.
Hal itu disadari benar oleh Riedl, meski ia menegaskan kalau gayanya melatih tim U-23 akan tetap memiliki ciri yang sama.
"Tidak beda jauh. Saya akan menerapkan tingkat disiplin yang sama. Cara saya menangani tim juga sama, siapa yang berkualitas dia yang masuk," lugas Riedl.
"Yang beda intensitasnya, misalkan usia 18 tahun latihan 1 jam intensitas 100%, kalau 25 tahun (latihan) 1,5 jam intensitas 100%, yang sudah lebih berumur latihan 1 jam tapi (intensitas) 80%," paparnya.
Pun begitu, ada satu hal yang jadi pembeda utama antara pemain senior dengan pemain muda yang relatif masih minim jam terbang. "Pemain muda lebih mudah diarahkan," jawabnya.
(krs/din)











































