Tuntutan tersebut disampaikan oleh KONSEN (Koalisi Independen Untuk Rekonsiliasi Sepakbola Nasional) setelah melakukan dengar pendapat dengan Komisi X DPR RI di Jakarta, Jumat (25/3/2011).
KONSEN diwakili oleh Yudhi F Oktaviadhi (wartawan Tabloid BOLA) dan Effendi Ghazali (pakar komunikasi). Setelah dengar pendapat, KONSEN bersama dengan tiga anggota Komisi X, Utut Adianto (PDIP), Jamal Azis (Hanura) dan Dias Wijangge (Demokrat) menggelar jumpa pers.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"1. Penyelenggaraan dan peserta kongres menjunjung tinggi transparansi, suasana damai dan semangat rekonsiliasi. Terlepas dari siapa pun calon yang akan dinomisasikan menjadi
Ketua PSSI, para pemilik suara hanya dapat mewujudkan pilihannya jika Komite Pemilihan dan Komite Banding dapat terbentuk dengan damai dan bisa dterima oleh semua pihak.
Untuk itu penyelenggara harus jelas dan transparan dalam hal tanggal, jam, tata cara penyelenggaraan Kongres setidaknya dipublikasikan melelaui media dan situs resmi PSSI pada saat ini juga.
2. Dari hasil interaksi dengan publik dan stakeholders (pemangku kepentingan), kami meminta Komite Pemilihan yang terbentuk untuk membuka kesempatan seluas-luasnya bagi sebanyak mungkin bakal calon yang kapabel dan memenuhi syarat.
3. Bila diperlukan, kami mengusulkan agar Komite Pemilihan yang terbentuk mengajukan permohonan perpanjangan waktu menuju Kongres Pemilihan kepada FIFA sehingga para calon bisa menyampaikan kepada publik menyangkut visi, misi, program dan membuat kontrak sepak bola.
4. Dari hasil identifikasi muatan media massa dan media sosial yang dipantau KONSEN dan anggota Komisi X DPR RI terdapat sejumlah nama yg berminat maju atau disebut akan dinominasikan atau cocok dinominasikan oleh masyarakat pecinta bola seperti : Alex Nurdin, Diza Rasyid Ali, Erwin Aksa, GH Sutedjo, Sumaryoto, Sutiyoso, AA Mangindaan, Agum Gumelar, Jusuf Kalla, James Riyadi, Achsanul Qosasi, Ibnu Munzir, IGK Manila, dll.
KONSEN dan Komisi X DPR RI menghimpun nama-nama yang relatif baru di luar yang sering dibahas selama ini, bukan dalam konteks preferensi, tetapi untuk menunjukkan bahwa di masyarakat pecinta bola terdapat nama-nama relatif baru yang dianggap memiliki minat atau berpeluang dinominasikan sejauh nantinya memenuhi persyaratan yang berlaku," demikian Yudhi.
(feb/arp)










































